PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Jatuh Sakit


__ADS_3

Ya, aku masih membutuhkan waktu untuk mengembalikan kekuatanku. Tapi apa yang dikatakan Tetua Agung seolah mendesakku untuk segera mencari tahu. Tak lain tak bukan untuk mencegah hal itu terjadi. Aku tidak mau terjebak dalam masalah besar yang tidak mampu kuhadapi.


"Ara ... jangan pergi ...."


Kudengar Rain menyebut namaku dalam tidurnya. Sepertinya dia sedang mengigau saat ini. Lekas saja aku mendekatinya lalu duduk di sisinya. Kulihat Rain masih tertidur dalam mimpi. Mungkin dia terbawa percakapan kami tadi. Sungguh aku tak tega melihatnya seperti ini. Dia sudah terlalu lelah tapi aku malah menambahinya dengan ceritaku. Mungkin lain kali aku tidak perlu bercerita lagi padanya. Agar dia tidak terbawa emosi.


Rain, tidurlah. Besok kita beraktivitas kembali.


Aku tersenyum seraya menarikkan selimut ke dadanya. Kubiarkan Rain tertidur nyenyak di atas kasurku. Sedang aku mengambil bantal lalu tidur di kursi panjang yang ada di kamar ini. Kubiarkan Rain tertidur nyenyak dalam mimpi. Aku pun mencoba memejamkan mata dan melupakan apa yang terjadi tadi. Semoga saja jalan keluar akan segera kutemui.


Esok harinya...


Pagi hari aku terbangun. Kubuka jendela dan pintu kamarku. Kuhirup udara segar yang menyehatkan ini. Aku pun melakukan olahraga kecil sebentar. Tapi, sesaat kemudian kusadari sesuatu. Pangeran kesayanganku itu belum juga terbangun dari tidurnya. Padahal biasanya pagi-pagi dia sudah pergi melatih.

__ADS_1


"Rain."


Lantas aku mendekatinya. Kulihat dia masih berada di dalam selimutnya. Aku pun mencoba mengusap wajahnya. Tapi saat itu juga...


"Astaga!"


Aku terperanjat bukan main. Aku kaget saat merasakan tubuhnya amat panas bak api. Lekas saja kubuka selimutnya. Dan kulihat tubuh Rain gemetaran di sana. Dia demam tapi tidak bilang kepadaku.


"Rain, Rain." Aku pun mencoba membangunkannya.


Astaga, apa yang terjadi?


Mau tak mau pikiranku tertuju pada suatu hal yang tidak kusukai. Ingatan akan ular itu pun terlintas di pikiranku. Lantas segera kulepas pakaian yang Rain kenakan. Hingga akhirnya kutemui tanda lebam di kaki kirinya. Rain seperti habis tersengat ular hijau itu.

__ADS_1


Ya Tuhan!


Aku pun mencoba untuk mengeluarkan bisanya. Segera kuambil jarum kecil lalu kupanaskan dengan api. Kutusuk tempat yang lebam itu hingga Rain bisa berteriak. Dan ya, teriakannya kencang sekali.


"Rain, bertahanlah."


Darah itu keluar dari kakinya yang tertusuk jarumku. Aku pun mencoba mengoleskan lotion di area yang lebam itu. Perlahan-lahan darah kotornya pun keluar semua. Sedang Rain kulihat kesakitan. Aku cepat bertindak untuk mengeluarkan darah akibat gigitan ular itu. Jika memang ular hijau yang kulihat semalam itu menggigitnya. Jika tidak, maka mengapa ada lebam biru di kakinya?


Setengah jam kemudian....


Keadaan kamarku tampak ramai. Raja Terusa datang melihat Rain yang sedang diobati tabib istana. Mereka kemudian membuat ramuan khusus karena tergigit ular. Dan ya, kaki pangeranku itu sudah dibalut dengan perban. Dia juga sudah siuman.


"Pangeran Rain."

__ADS_1


Raja duduk di kursi yang ada di samping kasur. Dia tampak mengkhawatirkan apa yang terjadi pada tamu istananya. Namun, sepertinya tabib istana bisa sedikit menenangkan pikiran kami dari hal yang tidak-tidak. Tabib menjelaskan apa yang terjadi pada Rain sesungguhnya.


__ADS_2