PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Kita Menikah Besok


__ADS_3

Saat itu juga aku merasa terpojok dengan permintaannya. Dia menyudutkanku dengan segala praduga tak bersalah yang dia tuturkan. Rasanya aku lemah sekali saat ini. Bagaimana mungkin aku menjawabnya iya, aku malu sekali.


"Pangeran Zu." Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Ya, ada apa?" Dia pun segera menoleh ke arah pintu.


"Pangeran Xi ingin bertemu. Dia menunggu di ruang tunggu istana." Seseorang dari luar berkata seperti itu.


"Baik, aku segera ke sana!" Zu memenuhinya.


"Permisi Pangeran." Tak lama kemudian suara orang itu tidak kudengar lagi.


Zu kembali beralih kepadaku. "Namanya Yang Xi. Xi adalah marga keluarganya. Sedang Yang adalah nama kecilnya. Dia ingin bertemu denganku dan pasti membicarakanmu. Awas saja jika dia membicarakan yang bukan-bukan tentangmu. Aku tak akan segan membuat perhitungan dengannya." Zu beranjak pergi.


"Pangeran." Aku pun menahan ujung baju kerajaannya. "Kalian bukannya dekat seperti saudara?" tanyaku.

__ADS_1


"Ya, benar." Dia mengangguk.


"Bagaimana jika dia juga menyukaiku? Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku yang sontak membuat raut wajahnya berubah.


Aku beranjak berdiri. "Pangeran, ada satu hal yang kutakutkan berkaitan dengan kedekatan ini. Bagaimana ... bagaimana jika karma itu berlaku padamu? Apakah kau siap untuk menerimanya?"


Aku ingin Zu menimbang ulang atas kegigihannya dalam mendapatkanku. Aku tidak ingin dia salah langkah dalam memperistriku. Karena setahuku karma itu berlaku. Atau biasanya orang-orang menyebutnya dengan hukum tebar tuai. Dan aku tidak ingin Zu merasakan sakit karena ditikung oleh teman dekatnya sendiri.


"Ara, apa yang kau katakan?" Dia memegang wajahku.


Dia menggelengkan kepala. "Besok kita menikah saja di Asia. Kita selesaikan semuanya dengan cepat. Aku tidak ingin kau berkata yang macam-macam lagi," katanya yang membuatku hampir pingsan.


Apa?! Menikah besok?!


"Besok ikut aku pulang ke Asia. Jika memang harus perang senjata dengan kedua pangeran itu, aku tidak takut. Asal kau berada di sisiku," katanya lalu memelukku.

__ADS_1


Aku sweatdrop. Niat hati menasehati, malah perkataan gila kudengar darinya. Zu memang tidak bisa dilarang. Aku kewalahan menghadapinya.


Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Dia begitu nekat dengan keinginannya.


Lantas yang bisa kulakukan hanya diam. Dia pun tersenyum padaku lalu mencium kening ini. Dan setelahnya, dia berlalu pergi untuk menemui Xi. Entah bagaimana nantinya, aku pasrah saja.


Pertengahan malam di kamar Ara...


Zu memintaku beristirahat karena dia akan menemui Xi, putra mahkota Arthemis itu. Dan kini aku sedang merebahkan diri di kamar sambil menikmati aroma terapi yang dihidupkan. Rasanya aku mengingat kembali masa-masa datang ke bumi ini. Bumi yang menjadi sejarah cintaku.


Esok hari Zu akan mengajak ku pulang ke Asia. Tapi aku beralasan padanya jika di sini masih ada kerjaan. Dan gilanya, dia juga bersedia menungguku menyelesaikan urusan di sini. Dia benar-benar pantang menyerah. Mungkin saja dia sekarang sudah gila. Dia sampai tidak ingat lagi siapa dirinya dan betapa besar kekuasaannya.


Sampai detik ini aku belum mengetahui bagaimana kabar kedua pangeranku di Angkasa. Sepertinya mereka juga disibukkan dengan berbagai macam urusan kerajaan. Dan entah mengapa saat semuanya sibuk, aku merasa sendirian di istana. Aku tidak mempunyai teman untuk berbagi canda tawa.


Sedang apa ya mereka di sana? Rain, Cloud, aku rindu.

__ADS_1


__ADS_2