PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Perbincangan


__ADS_3

Selepas sarapan pagi, di gazebo istana...


Aku ditarik oleh Zu untuk mengikutinya selepas sarapan pagi bersama selesai. Dan kini kami duduk di gazebo depan yang berada dekat dengan tembok pembatas. Lebih tepatnya gazebo ini berada di paling ujung halaman depan istana yang mana biasanya dipakai para penjaga beristirahat.


"Pangeran, ada apa kau membawaku ke sini?"


Cuaca pagi ini tampak cerah. Angin pun berembus lebih kencang tidak seperti biasanya. Mungkin saja pertanda hujan akan datang. Aku sendiri sibuk merapikan rambut yang berulang kali acak-acakan. Maklum kugerai karena masih basah. Tapi tampaknya Zu mengerti dengan apa yang sedang kurasakan.


"Ada ikat rambut?" tanyanya padaku.


Dari sudut gazebo ini aku bisa melihat siapa saja yang keluar masuk pintu depan istana. Namun, cahaya matahari sedikit kesulitan masuk karena ada pohon cemara. Aku pun menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan si putra mahkota. Jelas saja aku tidak membawa ikat rambut karena selepas sarapan berniat kembali ke kamar sebentar. Tetapi nyatanya malah dibawanya ke sini.

__ADS_1


"Sini kugulung saja."


Lantas Zu menawarkan jasanya padaku. Dia ingin merapikan rambutku agar tidak acak-acakan saat terkena angin. Aku pun seperti tidak bisa menolaknya. Lekas saja dia berdiri di belakangku lalu menggulung rambut ini. Dan entah mengapa saat jari-jemarinya itu menyentuh tengkuk leherku, rasanya geli sekali.


Dia sengaja kah?


Perjalanan mengantarkanku untuk dekat dengannya. Apa yang dikatakannya memang benar, jika tidak ada satu inchi pun bagian dari tubuhnya yang terlewat dari penglihatanku. Dan mungkin karena hal itulah dia menuntutku untuk mempertanggungjawabkannya. Padahal kalau dipikir-pikir, aku tidak minta, dia sendiri yang menunjukkannya. Sungguh aku tak habis pikir dengan pola pikir pria sepertinya. Dan kini aku yang kena getahnya.


"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Yang Xi. Bisa menjauh darinya?" tanyanya.


"Sudah." Dia pun selesai menggulung rambutku.

__ADS_1


Aku tahu Zu sangat menyayangiku. Tapi terkadang rasa sayangnya itu membuatku khawatir. Dia tidak menyukaiku dekat-dekat dengan pria lain. Bisa dikatakan jika dia adalah seorang pencemburu akut. Tapi dia juga yang mengatakan rela menjadi pria ke tiga dalam hidupku. Benar-benar tak koheren sama sekali.


"Pangeran, aku rasa kau harus membantuku." Aku mulai masuk ke inti pembicaraan yang kuinginkan.


"Katakan saja. Sebisa mungkin aku akan membantumu. Kau butuh apa, Ara?" tanyanya dengan intonasi lugas.


Aku terdiam sejenak untuk mengumpulkan keberanian. Zu pun menunggu hal apa yang ingin kuminta padanya. Dan akhirnya aku mengatakannya.


"Putri Jasmine adalah korban dari Ratu Bunga yang sekarang. Pangeran, bisakah kau membantuku dalam mendapatkan hak Jasmine?" tanyaku padanya.


Sontak Zu terkejut. Dia seperti tak percaya dengan ucapanku. "Ara, mengapa kau bisa berkata seperti itu?" tanyanya segera.

__ADS_1


Aku menghirup napas dalam-dalam. "Ibu kandung Jasmine telah diracun oleh ratu yang sekarang. Sehingga membuat Jasmine enggan kembali ke negerinya sendiri. Apakah kau tidak keberatan jika Jasmine terus tinggal di negerimu? Bagaimana jika kalian dituduh menculiknya?" Aku mengajaknya berpikir.


Zu diam. Dia tampak memikirkan hal ini. Sepertinya pertanyaanku dipikirkan baik-baik olehnya. Namun...


__ADS_2