
Tabib mengangguk. "Ada, Nona. Tapi letaknya di perbatasan hutan antara Terusa dan Arthemis. Hutan itu adalah hutan yang dilindungi untuk menjaga udara tetap segar. Nona ingin ke sana atau kami yang mengambilkannya?" tanya tabib padaku.
Aku berpikir sejenak. Rasa-rasanya memang membutuhkan tabib untuk ke sana. Tapi sepertinya, aku tidak bisa pergi tanpa Rain di sisi. Namun, apakah dia punya waktu untuk menemaniku? Oh, sungguh aku malah pusing sendiri.
Aku bicarakan saja dengan Rain nanti.
"Baiklah. Selepas pertengahan hari kita akan berangkat untuk mencari getah tersebut. Aku izin terlebih dahulu kepada pangeran. Tolong persiapkan apa saja yang dibutuhkan," pintaku kepada tabib.
"Baik, Nona. Saya akan segera mengurusnya." Tabib pun memberi hormat padaku.
Aku mengangguk, lalu bergegas keluar dari ruangan untuk menemui Rain yang sedang melatih pasukan. Aku rasa bisa meminta waktunya sebentar untuk menemaniku mencari getah beracun tersebut. Ya, semoga saja bisa. Karena sepertinya ratu tidak bisa bertahan lebih lama dari penyakitnya. Kulitnya sudah memerah semua. Jadi mari kita lekas bertindak.
Siang harinya...
Perjalanan harus kulalui sekitar satu jam untuk sampai ke perbatasan hutan yang ada di negeri ini. Di mana hutannya sangat lebat dan juga memiliki banyak pepohonan yang tinggi. Dengan pengawalan beberapa pasukan, aku pun datang ke sini bersama Rain dan tabib. Kami menaiki kuda untuk sampai ke hutan. Dan ya, pandangan mataku tertuju pada semak belukar berwarna biru.
__ADS_1
Pohon apa itu?
Baru kali ini aku melihat ada pepohonan kecil berwarna seperti itu. Lekas saja aku turun dari kuda lalu mendekatinya. Tabib dan Rain pun mengikutiku.
"Ini apa, Tabib?" tanyaku padanya.
Tabib melihat apa yang kutunjuk. "Itu pohon tanda perbatasan hutan Terusa dan Arthemis, Nona," katanya, menjawab pertanyaanku.
"Pohon perbatasan?" Aku pun jadi terheran sendiri. Begitu juga dengan Rain.
"Itu berarti di seberang pohon ini ada hutan Arthemis?" tanya Rain pada Tabib.
Tabib mengangguk. "Benar, Pangeran. Di seberang sudah memasuki wilayah hutan Arthemis. Tapi sepertinya hutan Arthemis sudah dirapikan," tutur tabib kembali.
"Apakah kami boleh melihatnya secara langsung?" Entah mengapa aku jadi penasaran sekali.
__ADS_1
"Silakan, Nona. Mari."
Tabib pun mempersilakan kami. Dia berjalan di depan melewati semak belukar berwarna biru ini. Sejenis pepohonan rendah dengan ranting yang sangat rimbun dan tidak beraturan. Aku pun memperhatikan dengan saksama jalan yang ada di perbatasan hutan ini.
"Kau terkejut melihat pohon berwarna biru itu, Ara?" tanya Rain padaku.
Aku mengangguk.
Rain tersenyum. "Akan ada banyak jenis pohon yang membuatmu lebih terkejut," kata Rain, lalu tak lama kami pun sampai di garis batas hutan Arthemis dan Terusa ini.
"Wah?!!" Saat itu juga aku tak percaya kala melihat langsung ada apa saja di balik semak belukar berwarna biru ini.
Sepertinya tempat ini pernah dijadikan tempat latihan prajurit.
Aku tak percaya saat semak belukar itu disingkapkan dari pandangan kami. Kulihat ada tanah hijau yang begitu luas sekali. Ternyata memang benar jika hutan Arthemis telah dirapikan. Jarak sekitar satu kilometer dari sini tidak ada pepohonan tinggi. Tapi tunggu!
__ADS_1
"I-itu!"