
Sungguh aku terkejut melihat siapa gerangan yang datang ke kamar ini. Kulihat seorang pria berpakaian serba hitam dengan kalung titanium yang melingkar di lehernya. Saat itu juga aku menyadari siapa dirinya.
"Pangeran Xi?!"
Sosok itu adalah Xi, putra mahkota dari Arthemis yang kini masuk ke dalam kamar yang kutempati. Tapi, aku tak mengerti mengapa dia ada di sini? Apakah dia menculikku lalu membawaku ke sini?
Dia tersenyum padaku. "Selamat datang, Nona Ara. Selamat datang di kastilku," katanya dengan senyum penuh keceriaan.
Ap-apa?!
Saat itu juga aku membenarkan apa yang ada di pikiranku. Ternyata dia yang membawaku ke sini. Tidak salah lagi jika dia menculikku. Menculik tanpa kusadari.
Dia melangkahkan kakinya ke arahku. Berjalan seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia tampak memerhatikanku sambil tersenyum.
"Nona Ara." Dari jarak tiga meter dia akhirnya berbicara padaku. Dia diam di tempat seraya memerhatikanku yang berdiri di dekat pintu teras ini. "Aku sudah bicara baik-baik padamu. Tapi, sepertinya kau tidak mengindahkannya sama sekali. Perlukah kukatakan ulang lagi?" tanyanya padaku.
Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak mengerti apa maksudmu, Pangeran. Mengapa kau sampai melakukan hal ini?" tanyaku.
Dia melangkahkan kakinya kembali ke arahku. Semakin dekat dan dekat lagi. Aku pun memundurkan langkah kaki ini ke belakang. Lalu pada akhirnya dia pun berhenti melangkah. Dia tersenyum sendiri di hadapanku. Seperti gemas dengan sikapku ini.
__ADS_1
"Hah ...," Dia mengembuskan napasnya seraya menatap langit-langit kamar. "Baru kali ini aku menemui wanita sepertimu. Mengapa kau sangat mahal, Nona. Susah sekali untuk ditaklukkan," katanya lalu menatapku kembali.
Saat mendengar perkataannya, saat itu juga aku memahami apa yang dia inginkan dariku. "Jadi kau membawaku ke sini hanya untuk menaklukkanku?" tanyaku setengah kesal.
Dia tersenyum lagi. "Hm ... bagaimana, ya." Dia menyilangkan kedua tangannya di dada. "Aku tertarik padamu. Entah mengapa seperti ada magnet yang kuat menarikku. Mungkinkah kau seorang dewi?" tanyanya lagi.
Saat itu juga aku menelan ludah. Kulirik di belakangku ini adalah lautan yang luas. Aku tidak tahu sedang berada di mana. Dan aku tidak mempunyai jalan selain menuruti apa kata-katanya. Aku harus pelan-pelan melarikan diri darinya.
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku tak ingin berbasa-basi.
Dia menunduk dengan wajah yang semringah. Lalu kemudian melangkahkan kakinya ke dekatku. Hingga akhirnya aku terpojok dan tidak bisa melarikan diri. Saat itu juga dia menarik tubuhku ke dekatnya. Dia mendekapku dalam hangat tubuhnya.
Kutatap wajah itu. Sinar matanya menyiratkan keinginan disayang olehku. Bola mata hitam itu seolah memintaku untuk mengasihaninya. Dia pun memerhatikan wajahku ini. Bola matanya bergerak pelan dan menyusuri apa yang ada di wajahku. Hingga akhirnya kusadari sesuatu. Ternyata Xi benar-benar menyukaiku.
"Jadilah kekasihku, Nona."
Kata-kata itulah yang akhirnya diucapkan olehnya. Membuat detak jantung ini melaju tak menentu. Bagaimana mungkin aku menjadi kekasihnya? Sedang aku milik kedua pangeranku. Titah raja telah mengikat kami.
Dan bagaimana mungkin aku bisa membiarkan hati ini mencintai pria lain lagi? Sedang di hatiku hanya ada Rain yang bertahta. Sungguh aku tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1
"Permintaanmu terlalu berat, Pangeran." Aku mencoba menolaknya. Saat itu juga semburat muram kulihat dari wajahnya.
"Apa aku kurang tampan?" tanyanya.
Dia ingin membandingkan dirinya dengan kedua pangeranku. Saat itu juga kupegang dadanya. Kurasakan detak jantungnya yang melaju cepat. Dia bak pejantan yang sedang menarik perhatian betinanya. Dia berusaha untuk mendapatkan aku.
.........
...Xi...
...Ara...
.........
...Tamat...
__ADS_1