PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Sedih


__ADS_3

"Pangeran terkena gigitan ular. Apakah sebelumnya dari alam liar?" tanya tabib kepada Rain.


Rain pun mengangguk lemah.


"Baiklah kalau begitu. Untuk sementara Pangeran beristirahat dulu sampai keadaan membaik. Kami akan membuatkan ramuan penawar sakitnya. Diminum pagi, siang dan sore hari. Sedang malam banyak-banyak memakan buah-buahan. Semoga sakitnya bisa lekas pulih." Tabib menuturkan kepada kami.


"Baik." Aku pun mengangguk.


"Kira-kira berapa lama waktu penyembuhannya?" Raja bertanya pada tabib istana.


"Em, mungkin bisa memakan waktu sampai dua atau tiga hari, Yang Mulia. Jika lewat dari itu, kita harus segera melakukan tindakan. Saya khawatir jika ular yang menggigit pangeran bukanlah ular biasa," jawab tabib tersebut.

__ADS_1


Seketika jantungku berdetak kencang bukan main. Pikiranku tiba-tiba kalut sendiri. Aku khawatir jika ular hijau yang kulihat itu bukanlah ular biasa. Melainkan ular kiriman untuk membuat Rainku jatuh sakit. Tapi aku berharap semoga saja tidak. Aku tidak tega melihatnya seperti ini.


Ya Tuhan, apakah masalah besar itu sudah datang? Bisakah aku mengajukan permohonan? Aku tidak tega melihat Rain terkena imbas dari takdirku. Biarkanlah aku saja yang menanggungnya. Rain tidak bersalah.


Aku berdoa dalam hati. Berharap tidak ada satu orangpun yang terkena imbas dari takdirku. Sungguh aku tidak tega melihat Rain begini. Baru pertama kali aku melihat wajahnya sepucat ini. Dia seperti kekurangan banyak darah di dalam tubuhnya. Tapi nyatanya ular yang menggigit itu tidak berbisa. Lantas siapa yang harus kupercaya? Penglihatanku semalam atau tabib istana?


Malam harinya...


Sedih. Itulah yang kurasakan saat menyuapi pangeran kesayanganku ini. Wajah Rain terlihat pucat dan tubuhnya seperti tidak bertenaga. Sampai-sampai aku menangis tak karuan karenanya. Bagaimana tidak, dia adalah pria yang kucintai saat ini. Paling kucintai. Perasaanku lebih besar kepadanya. Tapi kenapa dia harus menanggung sakit yang tiba-tiba? Sungguh tak kusangka sebelumnya.


Rain menggelengkan kepala. "Ara, aku ingin pulang," katanya yang membuat detak jantungku ini seakan terhenti.

__ADS_1


Sungguh aku ingin berteriak manakala melihat keadaannya seperti ini. Hanya dalam semalam saja semuanya sudah berubah. Aku jadi menyayangkan mengapa tidak memeriksa tubuhnya kemarin. Rain harus menanggung kesakitan sampai aku terbangun dari tidur. Aku merasa tidak berguna sekali.


"Kau masih sakit, Rain. Jangan bicara yang tidak-tidak, ya." Aku memberi pengertian padanya.


"Ara ...," Dia menyebut namaku dengan lemah. "Aku ingin makan buah surga. Aku rasa akan lebih baikan jika memakan buah itu," katanya, memberi tahuku.


"Apa yang kau rasakan saat ini?" tanyaku sambil meletakkan mangkuk bubur ke atas meja.


Rain terdiam sejenak. "Aku ... aku merasa seperti melayang di udara. Semalam aku bermimpi buruk tentangmu. Aku melihatmu dibawa seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa itu." Rain menceritakannya padaku.


Aku menelan ludah. Tak tahu harus berkata apa. Aku merasa sangat sedih saat ini. Sepertinya perpisahan itu akan segera terjadi. Pikiran negatif pun mulai menyelimuti hati ini. Sungguh aku takut sekali.

__ADS_1


"Rain, aku di sini."


Dan karena tak sanggup menahan kesedihanku lagi, lekas saja aku memeluknya. Memeluk tubuh pangeran kesayanganku. Kuberikan hangat tubuh ini padanya agar dia merasa tenang dan lekas sembuh. Aku berharap yang terbaik untuknya. Aku ingin Rainku sehat seperti sediakala.


__ADS_2