
...Ara...
...Rain...
.........
"Ara." Rain menegurku.
"Aku tak apa-apa, Rain."
Aku berusaha menerima semua celaan dari ibunya. Walau nyatanya hatiku ini sungguh sakit sekali. Aku disebut-sebut sebagai pembawa malapetaka untuk negeri ini. Padahal aku telah bersusah payah untuk ikut memajukannya. Apakah ini memang balasan untuk seseorang yang telah bekerja keras mengharumkan nama negerinya?
Sabar, Ara. Tidak mungkin ada dua ratu di satu istana. Salah satunya harus mengalah.
__ADS_1
Sungguh perkataan ratu bagai cambukan pedas untukku. Aku merasa tidak berguna di matanya. Sekalipun telah berjuang keras untuk negeri ini. Lalu jika sudah begini, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi ke Asia untuk melupakan semuanya?
Satu jam kemudian...
Rainku tertidur setelah memeriksakan diri dan meminum obat dari tabib istana Angkasa. Tabib mengatakan jika daya tahan tubuh Rain sedang lemah. Dia pun harus banyak-banyak beristirahat beberapa hari ini. Aku pun meminta izin untuk membekam tubuhnya nanti. Dan ya, pihak tabib istana mengizinkan setelah tahu jika Rain tersengat ular. Tapi tidak untuk hari ini. Melainkan jika Rain sudah baikan. Mungkin sekitar tiga atau empat hari lagi.
Sungguh aku kasihan melihatnya. Seorang pria yang biasanya mewarnai hariku kini sedang terbaring lemah di atas kasurnya. Aku pun menjaganya sambil duduk di belakang pintu kamar. Aku duduk di pojokan sambil membaca buku-buku herbal tanaman berkhasiat. Dan tak lama kemudian, pangeran sulungku pun datang. Dialah Cloud Sky yang datang ke kamar adiknya.
"Ara?" Cloud melihatku di belakang pintu.
"Salam bahagia untuk Yang Mulia." Dan karena dia sudah menjadi raja, aku pun membungkukkan badan ini kepadanya. Namun, saat itu juga...
Dia segera menahan tubuhku agar tidak membungkuk kepadanya. Dia pun menarikku ke pelukannya. Cloud memelukku di dekat Rain yang sedang terbaring lemah.
"Jangan bicara seperti itu, Ara. Aku masihlah Cloud yang dulu. Aku priamu," katanya yang membuat hati ini terharu.
Aku mengangguk lalu melepaskan pelukan. "Rain sakit. Dia tergigit ular," kataku kepada Cloud.
__ADS_1
Cloud tampak mengerti. "Tabib istana sudah menceritakannya padaku. Kedatanganku ke sini karena ingin menanyakan beberapa hal padamu. Kebetulan jamku masih senggang. Kau ada waktu, Ara?" tanyanya dengan lembut.
Aku mengangguk. Tentu saja aku ada waktu untuknya. Bagaimanapun dia adalah cinta pertamaku. Tapi, Rain sedang sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya. Lantas aku pun bertanya kepada pangeran berambut pirangku ini.
"Aku masih harus menjaga Rain, Cloud. Apa kita bisa bicara di dekat sini saja?" tanyaku padanya.
Cloud mengangguk. "Ya, Ara. Kita bicara di depan pintu kamar saja ya." Cloud akhirnya memutuskan.
Pada akhirnya aku pun memenuhi keinginannya untuk bicara padaku. Tentunya tidak jauh dari tempat Rain tertidur. Aku pun mengambil kursi untukku dan untuknya. Kami duduk di depan kamar Rain. Dan pembicaraan akhirnya segera dimulai olehnya. Oleh Raja Angkasa yang baru, Cloud Sky.
Beberapa menit kemudian...
Pembicaraan kami akhirnya dimulai saat Cloud menanyakan apa yang terjadi sebelumnya, sebelum Rain jatuh sakit. Dan aku menceritakan padanya jika Rain habis saja berlatih perang di alam liar. Yang mana di saat bersamaan Xi datang ke istana untuk menjenguk Ratu Terusa. Lalu pada malam harinya aku melihat ular hijau. Cloud pun tampak mengerti arah ceritaku ini.
"Jadi kau menyangka jika hal ini ada kaitannya dengan Xi?" tanya Cloud kepadaku.
.........
__ADS_1
...Cloud...