PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Kepastian


__ADS_3

Aku terdiam sambil menatap wajahnya.


"Aku hanya ingin dirimu, Ara. Tidak ada yang lain. Kumohon jangan hancurkan hatiku lagi," pintanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku menelan ludah. Bingung harus bagaimana. Dan karena rasa bingung itu, aku diam saja. Lantas aku berusaha tersenyum di hadapannya agar dia tidak marah lagi. Saat itu juga dia segera menarikku ke pelukannya. Dia memelukku dengan erat sambil memberatkan kepalanya di kepalaku. Kurasa dia tidak bisa jauh dariku. Dia amat menginginkanku menjadi pendamping hidupnya.


Belasan menit kemudian...


Aku diminta oleh Zu untuk mengikutinya. Aku pikir mau ke mana. Ternyata aku malah diajak ke kamarnya. Kamar khusus putra mahkota yang datang ke negeri ini. Dan kamarnya begitu luas sekali. Mungkin ada dua atau tiga kali luas kamarku. Dan Zu hanya seorang diri di sini.


Saat kutanya di mana Shu berada, dia menjawab hanya dia saja yang berangkat ke Negeri Bunga. Itu pun karena ada urusan perdagangan yang harus diselesaikan oleh raja dan ratunya. Dan karena diundang, mau tak mau dia datang. Jadi kedatangannya bukan karena putri negeri ini, melainkan karena perdagangan yang harus diselesaikan. Dan aku percaya atas apa yang diucapkannya.


Saat ini aku tengah duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Sedang dia berganti pakaian, tidak lagi mengenakan jas hitam. Dia kembali menggunakan semi jas yang mirip seperti baju koko. Ya, bisa dibilang jika seperti itulah baju kerajaannya.


"Mengapa kau bisa berdansa dengan Yang?" tanyanya seraya mengancingi baju kerajaannya di depan cermin.


Aku terkejut dengan pertanyaannya. "Aku ... tidak tahu. Dia mengajak ku ke lantai dansa," jawabku seraya duduk diam di atas sofa.

__ADS_1


"Bagaimana cara dia mengajakmu?" tanyanya lagi.


Err ... sepertinya dia memang cemburu.


"Ara, aku bertanya. Jawablah cepat. Jangan lelet." Dia menghardikku.


Dia ini, sudah berani seperti Rain rupanya.


"Pangeran, kau galak!" Entah mengapa malah kata-kata itu yang keluar dari mulutku.


Aduh, gawat. Singanya sudah keluar.


Aku menelan ludah. Sepertinya serba salah dibuatnya malam ini. Aku mengatakan jujur pasti dia cemburu. Tidak jujur pasti dia marah. Lalu kalau sudah begini, aku harus bagaimana?


"Pangeran Zu tampan," kataku, yang seketika membuat roman wajahnya melunak.


Dia mengembuskan napasnya lalu segera mendekatiku. Dan hal yang dia lakukan pertama kali adalah duduk berlutut di hadapanku.

__ADS_1


"Pangeran?!" Sungguh aku terkejut dia melakukan hal ini.


"Kau ini nakal." Dia mencolek hidungku. "Tidak sepantasnya calon permaisuriku berdansa dengan calon raja negeri lain." Dia mengatakannya padaku.


"Pangeran—"


"Ara, kau tahu kenapa aku begitu yakin kau masih mencintaiku?" tanyanya padaku.


Aku menggelengkan kepala.


Dia tersenyum. "Aku bisa merasakannya, Ara. Jantungmu berdetak tidak stabil saat berdekatan denganku. Ritmenya seperti orang yang sedang berbohong. Kau menutupi kejujuran hatimu sendiri." Dia mengatakannya.


Aku terperanjat kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahuinya? Sedang jelas-jelas aku tidak menampakkannya? Apakah ini yang dinamakan ikatan batin di antara kami? Sungguh aku merasa frustrasi. Frustrasi karena isi hatiku diketahui.


"Pangeran, kau tidak kembali ke ruang pesta?" Aku beralibi saja.


Dia menggelengkan kepalanya. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Katakan jika hal itu benar, bukan?" Dia meminta kepastian dariku.

__ADS_1


__ADS_2