PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Firasat


__ADS_3

"Selamat datang, Pangeran Rain."


Seorang pria berjubah biru dan bermahkota emas datang menyambut Rain beserta ratusan pasukannya di istana ini. Rain pun segera berjabat tangan dengan pria tersebut. Sedang aku seperti biasa memberikan salam penghormatan dengan meletakkan tangan kanan di dada. Aku pun tersenyum semringah kepada pria yang usianya sekitar empat puluh lima tahun itu. Namun sayang, aku tidak melihat sosok wanita yang menemaninya. Apakah dia raja negeri ini?


"Senang sekali bisa menyambut kedatangan Pangeran. Silakan." Pria itu pun mempersilakan kami masuk ke istana.


Rain tampak bercakap-cakap seadanya kepada pria itu. Sedang aku mulai merinding saat melangkahkan kaki memasuki teras depan istana ini. Entah mengapa aku merasa seperti diperhatikan dari jauh. Namun, aku bersikap biasa-biasa saja. Tidak terlalu menunjukkan apa yang aku rasakan.


"Aku diutus ayah untuk beberapa bulan di sini. Setelahnya akan mengambil surat pengambilalihan Terusa." Rain menuturkannya dengan tegas.


Rain tampak berbeda jika sudah berhadapan dengan orang. Dia kembali menjadi panglima tinggi sekaligus pangeran yang disegani kawan maupun lawan. Aku pun mencoba untuk tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Aku melihat-lihat sekeliling istana. Ternyata istananya lumayan luas. Tapi banyak sekali patung di sini.


Seperti kota turis di duniaku.


Namun, saat sampai di ruang tengah, entah mengapa pandangan mataku tertuju pada sosok berjubah hitam yang berdiri di atas tangga. Sosok itu seperti menatapku dengan tajam. Aku pun melihat ke arahnya. Tapi ternyata...

__ADS_1


Astaga! Tidak ada siapa-siapa?!


Saat kulihat tidak ada siapapun di atas tangga. Saat itu juga jantungku berdetak kencang tak terkendali. Kepalaku juga mulai pusing sekali. Pandangan mataku kabur dan mulai kesulitan mengendalikan tubuh ini. Lalu akhirnya...


"Rain, aku ...."


"Ara!"


Aku lemas tak bertenaga. Saat itu pun aku tidak dapat lagi mengendalikan tubuhku. Aku pun pasrah terhadap apa yang akan terjadi. Sampai akhirnya aku merasakan seseorang menahan tubuhku ini.


Tak lama kemudian pendengaranku juga ikut berkurang. Samar-samar seperti mendengar suara Rain yang memanggilku. Namun, aku tidak bisa menjawabnya. Aku kehilangan kesadaranku.


Beberapa saat kemudian...


Entah di mana gerangan berada, aku seperti berada di tanah yang tandus. Gersang dan juga panas. Kulihat sekeliling berubah menjadi dataran pasir yang begitu luas. Aku seperti berpindah tempat dengan cepat. Tapi apakah benar hal ini kulakukan?

__ADS_1


"Dewi ...."


Tiba-tiba saja aku seperti mendengar suara seorang pria tua yang kukenal. Lekas-lekas aku berputar arah untuk mencari asal suara itu. Dan kutemukan sosok kakek berjubah putih dengan janggut dan rambut yang sudah memutih semua. Pikiranku pun tertuju pada sosok pria yang selama ini seringkali memberiku teka-teki akan perjalanan lintas dimensi. Dialah Tetua Agung, sang penjaga bukit pohon surga.


"Kakek?" Aku pun segera mendekat ke arahnya.


"Dewi, lama tak bertemu." Dia masih saja menyebutku dengan sebutan dewi.


"Kakek, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa di sini?" tanyaku padanya.


Kakek tua itu tersenyum padaku. Kulihat dia memegang tongkatnya seraya berdiri beberapa meter dariku. Aku pun mulai merasakan angin yang berembus ke arahku. Angin sejuk yang mendamaikan hatiku.


"Kau datang di saat yang tepat, Dewi. Namun, ada sebagian orang yang salah persepsi atas kedatanganmu." Dia memulai pembicaraannya padaku.


"Maksud Kakek?" Aku pun segera menanyakannya.

__ADS_1


__ADS_2