PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Menceritakan


__ADS_3

Tetua Agung mengangguk. "Ratu Terusa sedang dilanda penyakit serius. Dan penyakit itu merupakan sihir yang dikirim oleh negeri lain agar negeri ini bisa ditundukkan." Tetua Agung menuturkan.


Astaga, jadi karena hal ini aku bisa melihat kabut dan sosok berjubah hitam itu? "Kakek, apakah semua ini ada hubungannya dengan apa yang kulihat?" tanyaku serius.


Tetua Agung mengangguk. "Benar. Gelombang yang ada pada tubuhmu bereaksi dengan gelombang sekitar. Hal itu menimbulkan reaksi alami terhadap apa yang kau rasakan. Dan kau telah melihatnya, Dewi. Maka berhati-hatilah setiap merasakan sesuatu yang janggal." Tetua Agung mengingatkan.


Aku terdiam memikirkan hal ini.


"Akan ada masalah besar yang menimpamu. Persiapkan dirimu untuk menghadapinya. Pena takdir sudah mengering. Kehidupan juga harus terus dijalani. Kau harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi. Baik-buruk harus dapat diterima dengan hati yang lapang agar kau tenang." Tetua Agung menasihatiku.


Seketika aku menelaah cepat perkataannya. "Kakek, apakah masalah yang akan menimpaku berhubungan dengan kedua pangeran?" tanyaku segera.


Tetua Agung hanya tersenyum. "Bersabarlah atas ujian dan musibah yang menimpamu. Semoga Tuhan merestui kisah kalian."

__ADS_1


"Kakek!"


Tiba-tiba saja Tetua Agung menghilang setelah mengucapkan hal itu. Sebuah kalimat yang membuatku memikirkan ulang apa maksudnya. Aku pun mencoba untuk mengejar bayangannya. Namun, dalam sekejap dataran tandus ini berubah. Menjadi gelap dan gelap lagi.


"Ara! Ara!" Tak lama kemudian kudengar suara Rain yang berteriak memanggilku.


Rain ....


Aku pun berdesir lirih seraya mencoba mengembalikan kesadaranku. Aku merasa saraf-saraf di tubuhku mulai berfungsi kembali. Aku pun kembali ke ragaku yang kucintai. Tapi aku belum bisa menggerakkan tubuh ini. Aku masih butuh waktu untuk memulihkan kondisiku.


Buah leci menjadi sajian istimewa saat aku tersadarkan dari kejadian yang kualami. Dan kini aku duduk merebahkan punggung di kepala kasur pada sebuah kamar yang ada di istana Terusa. Kamarnya luas dan juga terdapat perabotannya. Sedang kamar mandinya tak jauh dari tempat tidurku ini. Dan ya, kini Rain menemaniku di sisi.


Pangeran tampan berjubah merah itu selalu saja ada di setiap aku membutuhkannya. Tapi sayang, dia tidak mau kuajak pulang ke duniaku. Padahal kami bisa hidup bahagia di sana. Toh, aku juga sudah mempunyai modal untuk meneruskan hidup ini. Jadinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi lagi-lagi, hal itu seperti mustahil terjadi. Rain amat memikirkan rakyatnya.

__ADS_1


Kadang ingin sekali memaksa. Perjalanan cinta ini menuntunku untuk lebih menyayanginya. Katakanlah jika dia adalah pria pertama dalam hidupku. Dari dirinya lah dimulai segalanya. Kisah cintaku dan juga kerinduan yang begitu besar membelenggu.


"Bagaimana keadaanmu, Ara?"


Rain menyuapiku menyantap buah leci yang manis ini. Aku pun mengunyahnya dengan perlahan. Aku masih memperhatikan wajahnya yang tampan. Tanpa sadar tanganku bergerak sendiri untuk mengusap wajahnya.


"Rain, aku bertemu Tetua Agung," kataku padanya.


Sontak pangeran bungsuku ini tersentak. "Tetua Agung?"


"Ya." Aku mengangguk. "Dia mengatakan ada masalah besar yang akan kuhadapi. Tapi dia tidak mengatakan hal itu apa," jawabku lagi.


Rain terdiam. Dia tampak berpikir mengenai hal ini. "Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan kita ke Terusa?" Dia bertanya sendiri.

__ADS_1


Kuraih tangannya lalu kukecup sepenuh hati. Saat itu juga Rain menatapku dengan pandangan yang terheran. "Ara?" Dia pun menyebut namaku ini.


__ADS_2