PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Rayuan


__ADS_3

Rain memerintahkan satu kamar untuk diisi tiga sampai empat prajurit. Karena kamar penginapan tidak tersedia terlalu banyak di sini. Bahkan Rain menyewa halaman penginapan untuk berkemah sebentar. Karena katanya tidak baik menyeberangi laut malam-malam. Dan ya, aku menurut saja. Aku duduk di pinggir kasur sambil melihatnya melepas jubah.


"Di sekitar pulau perbatasan terdapat prajurit Arthemis yang berpatroli. Aku khawatir jika nekat menyeberang malah akan dikira penyusup oleh mereka. Lalu terjadi adu panah. Maka dari itu aku memutuskan untuk besok pagi saja menyeberanginya." Rain menuturkan padaku sambil menggantung jubahnya di belakang pintu.


"Memangnya tidak ada jalur penyeberangan lain?" tanyaku padanya.


Rain duduk di sampingku sambil bertelanjang dada dan melepas sepatunya. "Ada. Tapi lebih lama. Besok kita berangkat jam lima pagi dan sampai pada pukul tujuh di Terusa. Kalau lewat jalan lain bisa sampai pertengahan siang baru sampai." Rain menceritakan padaku.


Entah benar atau tidak, aku tidak tahu. Ini adalah perjalanan pertamaku bersama Rain ke Terusa. Aku pun menurut saja padanya. Kulihat dia juga mulai membaringkan badannya di atas kasur. Kasur yang lumayan besar jika untuk dipakai tidur bersama.


"Kemari, Ara. Duduk di atasku." Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu.


"Eh?!" Aku pun jadi heran dengannya.


"Tak apa. Hanya sebatas menghilangkan dingin." Dia memintaku.


Rain menggodaku. Kutahu jika kata-kata itu adalah godaan darinya. Dan ya, aku menurut saja. Di antara kami memang sudah tidak ada jarak lagi. Hanya dia yang tidak mau ikut bersamaku ke bumi. Andai mau, pasti kami sudah menikah dan bahagia di sana. Tapi Rain selalu memberatkan rakyatnya di sini, karena dia adalah panglima tinggi di istana.

__ADS_1


"Kau mau apa?" tanyaku sambil duduk di atas perutnya.


Rain tersenyum. Senyum manis khasnya yang membuatku ingin memilikinya. Rain memang tampan. Tubuhnya juga begitu kekar. Tapi dia juga nakal dan suka menyerang duluan. Jadi wajar saja jika aku lebih terbuka padanya.


"Ara, karenamu aku bertahan." Dia berkata seperti itu.


Aku tersenyum lalu memegang dadanya yang polos. "Kali ini aku akan diam saja," kataku padanya.


"Apakah itu berarti aku boleh menerobos gawang malam ini?" Dia malah bertanya seperti itu.


"Eh?! Apa maksudnya? Kau ini!" Aku pun mencubit pinggangnya.


Aku menghela napas lelah. "Maksudku aku tidak akan bicara apa-apa atas apa yang kau katakan. Karena aku sudah tahu jawabannya," terangku.


Rain mengangguk-angguk. "Tapi boleh, ya?" Dia bertanya lagi.


"Rain!"

__ADS_1


"Sedikit saja. Ujungnya saja. Ya, ya, ya?" Dia memasang bola mata yang berbinar-binar di hadapanku.


"Tidak boleh! Kita belum menikah!" cetusku.


"Kalau kak Cloud, boleh?" Dia seperti ingin menjebakku.


"Hei! Apa maksudmu?! Aku belum pernah melakukannya dengan Cloud!" Aku pun marah padanya.


"Hahahaha."


Rain malah tertawa. Dia bangkit lalu duduk berhadapan denganku. Wajah kami pun bertatapan dekat sekali. Dia bisa saja memilikiku malam ini.


"Kau segalanya, Ara. Jangan campakkan aku jika ada dirinya. Bisa, bukan?" tanyanya sambil menyentuh ujung hidungku dengan jari telunjuknya.


"Memangnya selama ini?"


"Selama ini aku merasa terasingkan kalau ada dirinya." Rain memberitahukan isi hatinya padaku. Saat itu juga aku merasa bersalah padanya.

__ADS_1


Aku pura-pura memasang wajah cemberut. "Lalu apa maumu?" tanyaku lagi.


__ADS_2