
Menjelang Pertengahan Malam...
Aku duduk bersila di dalam kamar sambil menikmati angin yang berembus lewat ventilasi jendela kamarku. Sedang Rain sudah tertidur di sana, di atas kasurku. Dia mendiamkanku sejak percakapan terakhir kami. Dan ya, aku membiarkannya beristirahat setelah lelah latihan perang hari ini.
Aku masih berusaha menyamakan frekuensi dengan semesta. Menghirup udara dalam-dalam lalu kutahan sejenak di tenggorokan. Lalu kemudian kuembuskan pelan sampai selesai.
Ya, itulah yang harus kulakukan berulang kali sebelum memasuki alam bawah sadarku. Tapi anehnya, aku tidak bisa juga menyamakan frekuensi. Telingaku tidak bisa konsentrasi saat mendengar suara burung-burung dari kejauhan. Entah benar atau tidak. Aku harap bukan ilusi.
Kenapa malam ini sulit sekali?
Lantas aku mencobanya kembali. Kupersiapkan diri untuk memasuki alam bawah sadar yang terhubung dengan semesta. Tapi sebelum sampai, aku kembali mendengar suara burung-burung dari kejauhan. Dan karena kesal, lekas saja aku membuka jendela kamar. Saat itu juga kulihat burung-burung hitam seperti terbang melingkar di awan.
__ADS_1
Pertanda apa ini?
Aku tak tahu mengapa burung-burung itu seperti itu. Mereka seolah ingin memecahkan konsentrasiku dalam menyamakan frekuensi. Dan pada akhirnya aku duduk di kursi lalu menyeruput kopiku. Tak lupa kututup kembali jendela kamarku. Tak lama kemudian aku pun bersemangat untuk mencobanya lagi. Aku bermeditasi di atas kursi panjangku.
Baiklah. Semoga kali ini berhasil.
Kutarik napas lalu membayangkan betapa besar alam semesta ini. Aku mencoba berkonsentrasi hingga akhirnya tanda-tanda keberhasilan memasuki alam bawah sadar itu kudapatkan. Tak lama kemudian kegelapan mulai kulihat di depan mataku. Lalu pada akhirnya cahaya berwarna biru itu mulai ketemukan. Aku pun mencoba memfokuskan pikiran ini. Lalu kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.
Hening. Tidak ada suara ataupun kata yang terdengar. Kucoba membuka mata lalu melihat keadaan sekitarku. Dan ternyata aku masih berada di dalam kamarku. Rain pun masih tertidur di sana dengan membelakangiku. Lantas kucoba untuk menepuk pipi ini, memastikan jika ini bukanlah mimpi. Tapi, tanpa sengaja aku melihat sesuatu.
"Ap-apa itu?!"
__ADS_1
Aku melihat seperti ada ular berwarna hijau yang keluar dari kamarku. Ular kecil yang panjangnya sekitar setengah meter. Aku pun lekas-lekas mengambil sapu. Aku mengikuti ke mana ular itu menuju. Tapi saat aku membuka pintu, saat itu juga tak kutemukan ular itu lagi.
"Astaga, tadi apa ya?"
Aku merasa benar-benar melihat ular itu. Tapi pada kenyataannya tidak ada apapun di luar kamarku. Tak lama kudengar Rain seperti gelisah dalam tidurnya. Aku pun lekas-lekas menutup pintu kamar kembali. Hingga akhirnya aku memeriksa seisi kamarku. Aku khawatir jika tadi hanya ilusi.
Tidak ada apa-apa.
Sungguh semenjak kedatangan Xi ke Terusa, hatiku semakin was-was menjadi-jadi. Bagaimana tidak, semua hal yang terjadi seperti sesuatu yang sudah direncanakan sebelumnya. Sedang aku tidak tahu apa tujuan dia yang sebenarnya. Tapi satu hal yang aku yakini, sesuatu tidak mungkin terjadi secara kebetulan berulang kali. Pasti ada alasan dibaliknya.
Ya Tuhan, beri aku petunjuk.
__ADS_1
Aku ingin cerita ini berakhir bahagia. Di mana aku bisa mengurus semuanya. Tapi nyatanya aku hanya manusia biasa yang mempunyai keterbatasan dalam hal menduga. Aku juga tidak bisa cepat memulihkan kemampuan yang Tuhan berikan padaku. Aku butuh waktu.