
Keesokan harinya...
Persiapan sudah selesai dilakukan. Akhirnya aku pun bisa pulang ke Angkasa dengan segera. Dan sekarang sedang melakukan sarapan pagi bersama keluarga utama kerajaan Negeri Bunga. Ada raja, ratu beserta putrinya juga. Tak lupa tamu kehormatan istana, Xi dan Zu juga ada di sini. Kami berenam duduk di depan meja makan yang besar. Dan ya, atmosfer terasa begitu berbeda sekali.
Hari ini adalah hari terakhirku di istana Negeri Bunga. Hari ini juga surat tanda selesai pekerjaan diberikan. Tapi hari ini juga yang akan menjadi hari paling tidak mengenakkan untukku. Bagaimana tidak, di depanku ada seorang pria yang sejak tadi memasang wajah tak suka padaku. Sedang di sampingku tengah ada Zu yang memanjakanku. Aku jadi tak enak sendiri.
Aku, Zu, Xi dan keluarga kerajaan negeri ini sedang sarapan pagi bersama. Raja pun tampak mempersilakan kami untuk mencicipi hidangan yang lainnya. Zu juga mengambilkan aku beberapa steak udang segar. Sedang di depanku raut wajah Xi tampak tak enak dipandang. Aku rasa telah salah hari datang kemari. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah jalan ceritaku.
"Nona Ara akan pulang hari ini juga?" tanya raja padaku.
"Benar, Yang Mulia." Dan hanya kata itulah yang bisa kujawab saat ditanyakan raja.
__ADS_1
"Pihak Negeri Bunga akan mengantarkan Nona sampai di istana. Saya harap Nona tidak keberatan," kata raja lagi padaku.
"Ehem!" Zu pun segera berdehem yang membuat raja beralih kepadanya. "Yang Mulia, saya yang akan mengantarkan Ara kembali ke negerinya. Yang Mulia jangan khawatir." Zu mengambil alih.
Sontak saat itu juga Xi meletakkan garpu dan pisau makannya ke atas meja. Ia pun lekas-lekas meneguk air minumnya. Xi seperti marah dengan ucapan Zu. Sedang raja dan ratu tampak memerhatikan kami.
"Pangeran Xi, apakah makanannya tidak enak?" Rose pun segera bertanya kepada Xi yang duduk di sampingnya.
Pangeran Xi, kau terlalu menunjukkan perasaanmu.
Sebagai seorang wanita pastinya mempunyai perasaan yang amat peka. Begitu juga dengan diriku. Aku merasa Xi telah secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya atas kedekatanku dan Zu. Dan tentu saja hal ini menjadi pusat perhatian raja dan ratu. Sungguh aku tidak enak sekali.
__ADS_1
"Sepertinya olimpiade antar pangeran akan dilangsungkan lagi." Dan akhirnya ratu berkata seperti itu, seolah menyindir kedua pangeran dan aku.
Entahlah, aku jadi bingung harus bagaimana kalau ceritanya seperti ini. Ditambah aku ini orangnya tidak enak hati. Jadinya galau sendiri. Tapi satu hal yang kuyakini, jika memang jodoh tidak akan tereliminasi. Aku berharap yang terbaik untuk kami. Karena aku tidak ingin menyakiti.
Satu jam kemudian...
Surat tanda penyelesaian pekerjaan telah kudapatkan. Dan kini aku sedang berpamitan kepada raja dan ratu Negeri Bunga. Tentunya juga kepada Rose yang beberapa hari ini telah menemaniku di istana. Bercerita, bertukar pikiran bahkan meminta saran. Aku cukup merasa senang berada di sini.
"Terima kasih Yang Mulia atas sambutan hangatnya. Saya permisi." Aku membungkukkan badan kepada raja dan ratu negeri ini.
Kami berada di teras depan istana dengan beberapa prajurit dan kereta kuda yang sudah menunggu. Aku pun lekas berpamitan kepada keduanya sebelum hari lebih siang lagi. Karena perjalanan akan memakan waktu yang cukup lama sehingga harus berangkat pagi-pagi.
__ADS_1