PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Mistis


__ADS_3

Olive mengangguk. "Pekebun Arthemis bilang pohon itu harus mendapat tetesan darah manusia agar bisa tumbuh subur. Jadi seringkali ditanam di area pemakaman prajurit yang gugur di medan perang. Barulah bisa tumbuh lebat buahnya, Nona. Jika tidak, dia hanya sekedarnya saja berbuah," terang Olive kepadaku.


Pantas saja aku melihat lapangan di perbatasan hutan itu seperti pernah digunakan untuk latihan perang. Apakah darah-darah mereka untuk pohon bidara yang tumbuh sendirian di situ? Kenapa pohon itu bisa dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis seperti ini? Sungguh tidak logis sekali.


Aku mencoba berpikir ulang, menyingkronkan logika dan perasaan bersamaan. Tidak mungkin pohon tumbuh subur dengan darah. Hal itu tidak ada hubungannya. Karena setahuku selama sesuatu masih terkena tiga unsur kehidupan yang utama, maka dia akan hidup.


Ketiga unsur itu adalah udara, air dan juga matahari. Selama sesuatu masih terkena ketiga unsur itu, maka akan tumbuh kehidupan. Tanpa memandang apa media hidupnya. Contohnya saja lumut yang ada di dalam tower air. Dan masih banyak lagi yang lainnya.


"Em, apakah pangeran Xi pernah datang ke istana ini sebelumnya?" tanyaku kepada Olive.


Olive mengangguk. "Pernah. Tapi sayang negeri kami tidak mempunyai penerus keturunan. Jadinya dia cepat berlalu." Olive menerangkan padaku.

__ADS_1


"Maksudmu ... Yang Mulia mandul?" tanyaku berhati-hati.


Olive mengangguk dengan perihatin. "Benar, Nona. Sampai usia pernikahan yang ke dua puluh ini Yang Mulia belum juga dikarunia anak. Kami sangat sedih sekali."


Olive tiba-tiba bersedih. Saat itu juga aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di istana. Pastinya baginda amat menginginkan keturunan dari istrinya. Tapi puluhan tahun menanti, ratu belum hamil juga. Apa jangan-jangan ada yang salah dengan baginda?


Sepertinya aku harus mengecek raja juga.


"Em, aku kembali ke ruang ratu saja. Aku pinjam buku ini dulu ya," kataku seraya menunjukkan buku yang ingin kupinjam. Olive pun mengangguk lalu mencatatnya. Aku juga segera beranjak bangun dari kursi dudukku. Aku akan kembali mengunjungi ratu untuk mengobatinya.


Sesampainya di ruang rawat ratu...

__ADS_1


Semilir angin siang mengantarkanku ke lantai dua istana Terusa. Aku pun kembali ke ruang rawat ratu setelah mendapatkan buku tanaman obat berkhasiat di perpustakaan. Dan ya, Olive menemaniku. Gadis yang usianya tak jauh berbeda dariku ini tampak ceria sepertiku.


Olive sangat berbeda dengan Lara di Negeri Bunga. Olive lebih ceria dan bersikap lebih terbuka dibandingkan Lara. Aku pun jadi tidak canggung saat mengobrol dengannya. Tapi tetap saja harus berhati-hati dalam setiap tutur kata. Maklum, ini kehidupan istana, semuanya harus tertata.


Kini kami baru saja sampai di ruang rawat ratu bersama. Tapi saat membuka pintu, saat itu juga aku terkejut dan terdiam seketika. Buku tanaman obat berkhasiat yang kubawa pun terlepas dari tanganku. Seorang pria berpakaian kerajaan hitam kulihat sedang berbincang di di sana. Bersama raja di ruang tamu yang ada di ruang rawat ratu.


Di-dia ...?!!


"Nona Ara." Raja menyambutku kembali. Dia berdiri lalu memperkenalkan seseorang itu padaku. "Nona, ini Pangeran Xi. Dia dari Arthemis." Raja memperkenalkan Xi.


Sontak detak jantungku seperti terhenti. Aku terkejut melihat kedatangannya ke negeri ini. Tentu saja aku juga merasa aneh. Mengapa dia datang saat aku di sini? Apakah dia mengikutiku sampai ke sini?

__ADS_1


__ADS_2