
Dia mengambil napas panjang di hadapanku. "Aku tidak peduli terhadapnya, Ara. Selama ini jarak kami memang dekat, tapi dia tidak ada di hatiku. Hatiku sudah dikuasai sepenuhnya olehmu." Tiba-tiba intonasi bicaranya berubah.
"Pangeran, aku serius. Kita harus membantu Jasmine untuk mendapatkan haknya." Aku memintanya kembali.
Zu menggenggam tanganku. "Ara, setiap negeri mempunyai masalah masing-masing. Layaknya setiap keluarga, juga seperti itu. Dan aku sebagai pihak luar tidak bisa memasuki ranah orang lain. Kau mengerti, bukan?" tanyanya padaku.
Sungguh aku merasa sedih sekali mendengarnya. Ternyata kebenaran yang kudapatkan ini tidak bisa terealisasi segera. Rasanya hatiku patah karena Zu tidak mau membantuku. Aku pun bisa apa karena tidak mempunyai pengaruh.
Aku termenung, melamun sambil menopang dagu dengan satu tanganku.
"Sayang." Dia kemudian menarik tangan yang menopang dagu ini. "Jika kau mau, aku bisa membawa Jasmine ke Negeri Bunga. Melindunginya saat meminta keadilan. Hanya itu yang kubisa," katanya yang membuatku bergembira seketika.
__ADS_1
"Benar, kah?" Aku pun sungguh bahagia.
Dia mengangguk. Saat itu juga aku segera memeluknya. Tanpa peduli lagi siapa dirinya, siapa diriku. Kuungkapkan kegembiraan ini dengan memeluk seseorang yang bisa membantuku.
"Memeluk hanya ingin maunya. Dasar gadis nakal." Dia pun mengusap-usap kepalaku.
Aku segera melepaskan pelukan dan memasang wajah cemberut di hadapannya. Saat itu juga dia tertawa dan ingin menciumku.
"Dasar mesum!" Aku pun pura-pura ngambek lalu beranjak pergi darinya.
Dia pun meraih tanganku ini. Hingga akhirnya kami berjalan bersama menyusuri taman depan istana. Saat itu juga aku merasa senang sekali. Seperti dilindungi olehnya. Harus kuakui jika di hati ini masih ada namanya. Tapi aku juga gengsi jika harus menampakkannya karena statusku yang sudah berbeda.
__ADS_1
Satu jam kemudian...
Saat ini sudah pukul sepuluh pagi waktu Negeri Bunga dan sekitarnya. Aku pun sedang berada di ruang Menteri Luar Negeri untuk menyelesaikan administrasi kerja sama antara negeri ini dan Angkasa. Beberapa dokumen harus kubaca dan tanda tangani dengan segera. Dan ya, aku membaca satu per satu dokumennya.
Tadi selepas berbincang di gazebo istana, Zu bilang akan menungguku pulang dan bebas dari tugas. Dan kini dia sedang berbincang bersama Menteri Dalam Negeri. Dia benar-benar menungguku dan tidak memberi celah untuk Xi dekat kembali. Entah apa yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
"Ini, Tuan."
Lantas aku pun selesai membaca semua dokumen dan menandatanganinya. Kini saatnya bagiku untuk menerima pembayaran atas jasa yang telah kuberikan untuk negeri ini. Ya, hitung-hitung devisa negara.
"Pembayaran akan dikirimkan minggu ini, Nona. Terima kasih atas kerja samanya. Semoga kita bisa bekerja sama kembali." Menteri paruh baya ini mengajak ku berjabat tangan.
__ADS_1
Aku berdiri lalu meletakkan tangan kanan di dada. "Terima kasih kembali, Tuan. Senang bisa bekerja sama dengan Anda." Aku pun membungkukkan badan.
Kulihat menteri itu tampak terkejut dengan hal yang kulakukan ini. Tapi sebisa mungkin tidak ada yang boleh menyentuhku selain para pangeran yang kucintai. Karena harga diri seorang perempuan amat berharga di mata pangeran. Sehingga tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain selain mereka. Dan aku telah melakukan hal itu untuk pangeran-pangeranku. Karena aku menyayanginya.