
Aku mengenakan gaun krim setinggi lutut. Berlengan panjang dan juga ada ikat pinggangnya seperti pita besar. Lantas kurapikan dandananku ini setelah mengenakan make up yang minimalis. Tak lupa juga lipstik berwarna peach kupoleskan di bibirku. Dan juga parfum kesukaanku untuk kusemprotkan ke seluruh tubuh. Aku pun siap menjalani hari.
Ara, berhati-hatilah. Jangan tunjukkan sesuatu jika kau telah mengetahui semuanya.
Satu jam berlalu dari perbincanganku bersama Lara, menghasilkan hal yang tak terduga. Sebuah rahasia besar kudapatkan langsung dari mulutnya. Dan aku rasa membutuhkan seseorang untuk membantuku mengurai masalah ini. Karena nyatanya penyebab Jasmine tidak ingin kembali ke negerinya adalah karena ibu tirinya sendiri. Aku harus membicarakan hal ini kepada seseorang yang bisa kupercaya. Ya, harus. Demi keadilan mendiang ratu yang sudah tiada.
Lantas kulangkahkan kaki ini menuju ruang makan istana. Aku siap menghadapi hari-hari terakhirku di istana. Dan sebelum kembali, aku ingin mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Aku tidak boleh mendengar masalah hanya dari satu pihak saja. Aku harus merangkum semuanya agar tidak salah langkah.
__ADS_1
Sesampainya di ruang makan istana...
Aku tiba di ruang makan istana dan disambut dengan hangat oleh raja dan ratu negeri ini. Lekas-lekas aku mengambil kursi yang tak jauh dari posisi mereka berada. Aku ingin membaca gerak-gerik ratu pagi ini. Aku ingin mengetahui bagaimana sikap ratu yang sebenarnya. Namun, ternyata hal itu tidaklah mudah. Xi datang lalu duduk di sebelahku yang menghalangi pandanganku ke ratu. Dan tak lama kemudian Zu juga datang dan duduk di sisiku. Mereka mengapitku di depan meja makan ini.
Astaga ....
Zu mencubit pelan pinggangku di tengah sarapan pagi yang akan dimulai ini. Aku pun menoleh ke arahnya. Saat itu juga dia berbisik padaku.
__ADS_1
"Jangan nakal." Hanya kata itu yang dia ucapkan dan membuatku tertunduk sendiri. Rasa-rasanya aku telah dimiliki.
Para pelayan kemudian datang membawakan hidangan pembuka sarapan pagi ini. Raja pun mempersilakan para tamu undangan untuk segera mencicipi. Meja makannya begitu besar dan juga panjang. Ada di sisi kanan dan sisi kiri. Dengan berbagai perlengkapan makan yang sudah tersusun rapi. Pot-pot kristal pun diletakkan di atasnya sebagai hiasan meja makan ini. Tak jauh berbeda dengan sarapan yang terjadi di negeri kedua pangeranku.
"Ara, kau mau ini?"
Xi tiba-tiba bertanya padaku dan mengambilkan satu buah ceri untukku. Sontak saja Zu berdehem yang membuatku menelan ludah. Rasa-rasanya tujuanku datang ke sarapan pagi ini tidak bisa terpenuhi. Maklum ada dua pria yang sedang sama-sama menunjukkan perhatiannya padaku. Entah benar atau hanya sebatas perasaanku saja. Tapi yang jelas aku tidak bisa bergerak leluasa.
__ADS_1
Lantas aku pun mengikuti sarapan pagi ini dengan begitu formalnya. Sambil sesekali melirik ke arah ratu dan juga Rose yang ada di sana. Ratu benar-benar ramah kepada setiap tamu undangannya. Aku pikir akan kesulitan jika ingin menguak kejahatannya. Tapi semoga saja bisa, demi keadilan mendiang ratu sebelumnya.