
Lantas kutelan ludahku banyak-banyak. Kuhirup udara malam agar tidak gugup dalam menjawab pertanyaannya. Sungguh aku takut dia marah. Takut dia berbalik membenciku setelah mencinta. Dan aku tidak menginginkan hal itu.
"Pa-pangeran ... ma-maafkan aku. Bu-bukannya aku tidak mau pamit padamu. Tapi aku sangat lelah sehingga segera beristirahat. Dan aku beristirahat di vila danau angsa putih." Aku berbohong padanya.
Zu mengernyitkan dahinya. Dia tampak tak percaya. Wajahnya memerah karena menahan kesal di dada. Dan kini aku membohonginya lagi dengan alasan yang tak masuk akal. Karena pastinya dia meminta prajurit untuk mencariku dulu di istana. Sehingga aku harus mengatakan beristirahat di danau cinta.
"Hah ... satu gadis pun sulit untuk kuatur. Bagaimana bisa aku mengatur rakyatku yang puluhan juta jumlahnya." Dadanya naik-turun seperti menstabilkan emosi.
Aku menelan ludah. Ternyata jumlah penduduk negerinya sangatlah banyak.
"Ara." Dia memanggilku. "Tidak bisakah kau menungguku sejenak? Jika kau seperti kemarin, aku berprasangka kau berusaha melarikan diri dariku. Apa kau tidak berpikir seperti itu?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku menunduk, merasa bersalah.
"Kesabaran pria juga ada batasnya. Dan kau harus tahu itu. Dia memang terlihat bodoh saat jatuh cinta. Tapi percayalah, dia akan seperti singa buas jika hatinya merasa tersakiti. Apa kau ingin aku seperti itu?" tanyanya dengan tegas.
Aku terdiam, tertunduk, tidak berani melihatnya.
"Lihat aku, Ara!" Dia mulai melampiaskan amarahnya. "Aku mencintaimu. Apa perlu kuulang ribuan kali agar kau mengerti perasaan ini?" Dia tak lagi menjaga image-nya sebagai calon raja di hadapanku.
"Pa-pangeran, ak-aku—"
Pangeran, kau ini ....
__ADS_1
Tangan kanannya memegang tengkuk leherku. Sedang tangan kirinya memegang punggungku ini. Dia mendekapku erat-erat sampai tidak ada jarak lagi di antara kami. Hangat napasnya pun terasa menerpa pipi ini. Bibir lembutnya itu seolah tidak menerima apapun alasanku.
Dia mencumbuku di malam yang hampir larut ini. Dan aku terdiam di hadapannya tanpa melakukan apa-apa. Hingga akhirnya bibirnya itu menyapu seluruh permukaan bibirku. Sensasi aneh pun mulai kurasakan di tubuh ini.
Pangeran, sudah ....
Mungkin dia sudah gila. Ya, anggap saja begitu. Aku juga tahu jika dia tidak ingin kehilanganku. Tapi rasa-rasanya dia begitu egois karena tidak memikirkan bagaimana perasaan Rain dan Cloud atas sikapnya ini. Dia tidak lagi sempat berpikir bagaimana jika berada di posisi mereka. Dan aku sebagai wanita hanya bisa menerimanya saja. Aku tidak bisa melawannya. Aku tak berdaya.
Angin malam pun berembus melewati kami. Di tengah bibirnya yang terus mencumbuku, kusadari sesuatu jika sudah memang waktunya bagi seorang calon raja untuk menikah. Karena dia juga mempunyai kebutuhan biologis yang harus segera terpenuhi. Dan dia ingin akulah yang memenuhinya. Tapi masalahnya, bagaimana dengan kedua pangeranku di Angkasa? Apakah mereka bisa menerimanya?
Zu melepas ciumannya. Dia membuka matanya perlahan lalu memegang wajahku ini. "Kenapa tidak membalasnya, Ara? Apa kau sudah menemukan yang baru?" Tiba-tiba dia bertanya seperti itu.
__ADS_1
Bibirku yang masih basah karena cumbuannya pun berkata, "Kau cemburu?" Entah mengapa aku malah berkata seperti itu.
Dia meletakkan tangan kananku di dadanya. "Dengarkanlah. Apa aku rela permaisuriku disentuh orang?" Dia balik bertanya padaku.