
Gelas-gelas kaca diletakkan di atas meja makan yang besar. Lampu kristal juga tergantung di plafon ruangan ini. Guci-guci indah dan bunga yang berbagai macam jenisnya terlihat di berbagai sudut ruangan. Hamparan karpet merah juga menjadi pertanda jika ini bukanlah ruang makan biasa. Aku dan Rain pun datang sambil bergandengan tangan ke ruang makan ini. Para pelayan istana juga segera menyambut kedatangan kami.
"Silakan, Pangeran, Nona."
Pelayan menarikkan kursi untukku. Tapi Rain melarangnya dan meminta agar dia saja yang melakukannya. Aku diperlakukan bak ratu olehnya. Rain begitu memanjakanku. Terlepas dari segala keinginannya yang begitu besar terhadapku.
Saat ini kondisi tubuhku mulai pulih. Hanya saja membutuhkan waktu beristirahat yang lebih lama lagi. Mungkin setelah makan malam aku akan segera tidur. Mencoba merelaksasikan pikiran agar tidak terbawa perkataan Tetua Agung. Tentang masalah besar yang akan menimpaku nanti.
"Sudah lama menunggu?"
__ADS_1
Kulihat raja negeri ini datang. Raja berjubah biru dan bermahkota emas datang sendirian tanpa ada ratu yang menemaninya. Kami pun berdiri untuk menyambutnya. Sampai akhirnya dia duduk di hadapan kami. Raja pun mempersilakan kami untuk mencicipi hidangan pembuka yang telah tersaji.
"Silakan, Pangeran Rain, Nona Ara." Raja mempersilakan kami.
Anggur merah mulai dituangkan oleh pelayan wanita istana ini. Satu per satu gelas kami pun diisi dengan anggur yang aromanya begitu pekat. Aku sendiri tersenyum sejenak saat pelayan menuangkan gelas ke anggurku. Rasa-rasanya aku tidak bisa meminumnya nanti. Aku takut mabuk dan tak sadarkan diri. Jadi aku mengambil sup buah saja yang sudah disajikan untuk menutupi rasa haus yang mulai melanda ini. Kami pun memulai makan malam dengan perbincangan kecil tentang negeri ini.
"Sedari awal aku tidak melihat ratu, Yang Mulia." Rain memulai percakapan di meja makan ini.
Aku melirik ke arah Rain. Rain pun tampak mengerti arti dari lirikanku ini.
__ADS_1
"Apakah nanti kami boleh melihatnya, Yang Mulia?" Rain meminta izin.
Raja tersenyum. "Tentu saja. Jangan sungkan, Pangeran Rain. Terusa dan Angkasa tak lama lagi akan bersatu. Tentu kami malah bersenang hati jika Pangeran mau menjenguk istriku." Raja tampak senang sekali.
Saat itu juga aku mulai berpikir tentang hal yang diceritakan oleh raja ini. Ternyata benar, Ratu Terusa memang sedang tertimpa penyakit. Sama halnya dengan yang Tetua Agung katakan waktu itu. Dan rasa-rasanya aku memang harus segera mengeceknya.
Aku harus tahu ada apa sebenarnya. Tapi mungkin besok saja karena malam ini harus beristirahat terlebih dahulu. Begitu juga dengan Rain yang datang dan langsung melakukan pertemuan dengan para prajurit negeri ini.
Kutahu Rain lelah. Tapi dia masih sempat-sempatnya untuk merawatku yang sedang lemah. Bagaimana aku tidak semakin cinta padanya? Dia telah memberiku segalanya. Bahkan rela dimarahi ayahnya untuk menjemputku semata. Andai saja ini di duniaku, pastinya kami sudah berumah tangga dengan bahagia. Rain dapat menerima segala kekuranganku.
__ADS_1
Besar harapanku cinta ini akan abadi selamanya. Dan besar doaku agar kami bisa dipertemukan dalam janji suci sehidup semati. Aku menyayangi Rain setulus hatiku. Begitu juga dengan dirinya yang tak ingin jauh dariku. Kami telah berusaha untuk bersama selamanya dan berharap semesta ikut merestuinya. Ya, semoga saja doa baik cepat melesat ke angkasa.