
Esok harinya...
Keadaan bak mendesakku untuk segera kembali ke Angkasa. Rain sedari malam ribut ingin pulang dan memakan buah surga. Entah mengapa pangeranku yang satu ini tiba-tiba bersikap seperti ini. Padahal biasanya dia gagah perkasa dan tidak menunjukkan sisi kelemahannya. Tapi semenjak sakit, dia ingin selalu berada di dekatku dan pulang ke tanah airnya.
Kini aku baru saja sampai di dermaga Angkasa yang berada di pesisir laut barat negeri kedua pangeranku. Kulihat mentari baru saja terbit di ufuk timur. Kami memang berangkat dari Terusa pagi-pagi. Dan ya, akhirnya kami kembali lagi ke negeri ini. Rain pun merebahkan kepalanya di pangkuanku. Dia ingin tertidur di atas pangkuanku.
Kasihan sekali Rainku ini.
Keadaan tak terduga terjadi pada pangeranku. Mau tak mau aku pun harus segera bertindak dan menemui raja pagi-pagi. Dan ya, kami sempat bercakap-cakap sebentar mengenai kelanjutan kerja sama antar kedua negeri. Aku pun pulang dengan membawa surat resmi dari Terusa. Berupa surat kesepakatan penyatuan wilayah dan keinginan Raja Terusa bertemu Raja Angkasa secara langsung. Raja Terusa ingin membicarakan penyatuan wilayah kekuasaannya.
__ADS_1
Aku sendiri menerimanya dengan senang hati. Raja Terusa juga mengucapkan terima kasih kepadaku karena telah membantu mengobati ratu. Dan kini proses penyembuhannya kuserahkan kepada Olive. Aku telah mengajarinya bagaimana cara membuat ramuan herbal untuk ratu. Karena aku tidak mempunyai waktu lagi. Aku harus mengurus pangeranku.
Sungguh sedih hatiku saat melihat Rain seperti ini. Aku pun mencoba merebahkan punggung di kursi kereta kuda sambil mengingat-ingat kejadian sebelum ini. Apakah Rain sakit juga karena Xi? Aku amat penasaran sekali. Rasanya aku ingin menemuinya dan membicarakan baik-baik hal ini. Apa maksud dirinya mendekatiku? Benarkah dia menyukaiku atau hanya sekedar ambisi untuk merebutku dari kedua pangeran? Sungguh aku penasaran sekali.
Lekas sembuh, Rain.
Entahlah, aku tidak tahu bagaimana ke depannya. Aku hanya menjalani saja. Semoga cerita ini bisa berakhir bahagia. Aku berharap yang terbaik untuk mereka.
Sesampainya di istana Angkasa...
__ADS_1
Langit mendung menyambut kedatangan kami di istana ini. Aku pun turun dari kereta kuda dengan dibantu oleh salah satu prajurit berkuda. Sedang Rain langsung dibawa menuju kediamannya yang berada di barat istana. Aku pun masuk terlebih dahulu ke istana untuk menyerahkan surat dari Raja Terusa yang kubawa. Kulihat keadaan istana tampak sepi pagi ini.
"Salam bahagia untuk Nona Ara."
Begitulah yang diucapkan oleh para pelayan istana saat berpapasan denganku. Aku pun hanya bisa mengangguk seraya tersenyum kepada mereka. Aku menuju lantai dua untuk menemui Cloud yang ada di ruangannya. Dan sesampainya di sana, aku pun segera mengetuk pintunya. Namun ternyata, tidak ada orang di dalamnya. Lekas saja aku masuk ke dalam kamarnya.
"Cloud ...."
Aku masuk dan melihat Cloud masih tertidur di atas kasurnya. Dia terlihat kelelahan sekali. Aku pun tidak enak membangunkannya saat ini. Aku kembali saja ke ruangannya lalu meletakkan surat dari Raja Terusa ini ke atas mejanya. Kemudian melangkahkan kaki menuju kediaman Rain. Aku ingin merawat pangeranku di sana.
__ADS_1