PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Teguh Pendirian


__ADS_3

Rain mengangguk.


"Dan ternyata pemilik asli dari bunga malaikat itu adalah Arthemis. Asia hanya mencoba menanamnya saja. Lalu saat ratu negeri ini sakit, obat penawarnya juga berada di kawasan Arthemis. Pohon bidadari itu. Apakah hal ini tidak terasa aneh?" tanyaku padanya.


Rain tampak berpikir.


"Apa mungkin kebetulan terjadi berulang kali?" tanyaku lagi.


Sejenak Rain terdiam memikirkan hal ini. Kulihat dahinya berkerut pertanda berpikir keras atas masalah yang melanda. Lalu kemudian Rain pun bicara padaku.


"Benar, Ara. Aku rasa semua ini memang ada hubungannya dengan negeri itu." Rain membenarkan apa yang aku pikirkan.


Segera saja kuungkapkan kejadian yang kualami tadi. "Rain, kau tahu. Tadi Xi juga datang ke istana ini," ucapku.


"Apa?!" Seketika Rain terkejut.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Xi datang dan membawa banyak buah tangan untuk ratu. Sebelumnya saat raja sakit aku juga melihatnya di danau angsa putih. Apakah itu suatu kebetulan semata?" tanyaku, berharap Rain bisa membantuku memecahkan masalah ini.


Seketika itu juga Rain memikirkan hal ini baik-baik. Dia menatap kekejauhan lalu memegang dagu dengan jari tangannya, berpikir. Rain tampak membenarkan apa yang kupikirkan selama ini. Dia kemudian membenarkan perkataanku lagi.


"Jika benar dia pelakunya, maka aku akan meminta pihak Angkasa untuk memblokade semua pintu kedatangannya." Rain ingin bertindak.


"Hei, tunggu dulu." Aku pun menahannya.


Rain menoleh ke arahku. Raut wajahnya menyiratkan sejuta tanda tanya.


Rain mengangguk. "Lalu, apa jalan terbaik dari semua ini?" tanya Rain segera. Dia tampak menyerahkan urusan ini kepadaku.


Aku menarik napas panjang. "Aku akan mencoba menyelidikinya. Aku akan ke Arthemis," kataku padanya.


"Apa?!!" Saat itu juga raut wajah Rain amat terkejut dengan hal yang kukatakan ini. "Tidak, Ara. Kau tidak boleh ke sana!" Dia pun melarangku.

__ADS_1


"Rain, dengarkan aku dulu." Aku meminta.


"Pokoknya tidak. Aku tidak rela kau pergi ke sana. Xi adalah anak dari Raja Arthemis dan cucu satu-satunya dari penguasa otoriter yang ada di sana. Aku tidak mengizinkanmu pergi. Titik!" Rain beranjak pergi.


"Tapi Rain—"


"Tidak!"


Dia segera menyela perkataanku lalu pergi. Rain tidak menerima saran dariku ini. Wajahnya terlihat tidak enak dipandang olehku. Jiwa seorang pemimpin tersirat dari sikapnya. Dan dia mengambil keputusan secepatnya. Tak lain untuk melindungiku. Rain begitu sayang padaku.


Ya Tuhan, dia marah padaku.


Rain memang tidak pernah berubah. Sifat dan sikapnya masih sama seperti dulu. Hanya saja dia lebih bisa berlapang dada dengan kakaknya. Dia mau menerima takdirnya. Tapi untuk yang lain dia tetap bersikukuh mempertahankan pemikirannya. Dan ya, sepertinya usahaku malam ini sia-sia. Rain marah, solusi juga tidak kudapatkan. Tapi sungguh aku begitu penasaran.


Apa yang harus kulakukan untuk mengetahui kebenarannya ya?

__ADS_1


Lantas aku berpikir cepat malam ini. Sebuah cara pun kutemukan sebelum melangkah lagi. Dan cara itu adalah bermeditasi. Ya, aku harus bermeditasi untuk mendapatkan ketenangan jiwa ini. Karena setelah ketenangan itu kudapatkan, aku bisa berpikir dengan jernih. Semoga saja malam ini bisa kudapatkan jawaban. Tentang apa yang harus kulakukan.


__ADS_2