
Rain meletakkan kedua tanganku di lehernya. "Miliki aku malam ini. Buat aku ...," Dia kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Buat aku kalah berulang kali. Aku menginginkanmu." Dia memintaku.
Sontak aku menelan ludahku. Permintaannya pasti tidak jauh-jauh dari hal itu. Lantas jika sudah begini apa yang harus aku lakukan? Haruskah menolaknya padahal aku sudah berada di atas pangkuannya? Atau pura-pura malu dan pergi begitu saja? Cinta itu kadang membuat orang gila. Sama seperti si bungsu ini yang menginginkan kedekatan batin denganku. Dan ya, dia menggunakan cara ini untuk memilikiku.
Sesampainya di Terusa...
Benar-benar lelah. Itulah hal yang kurasakan saat baru sampai di sebuah negeri yang ada di barat Angkasa. Negeri ini terdapat begitu banyak patung yang menghiasai setiap sudut jalannya. Mulai saat sampai di pelabuhan, bahkan sampai memasuki kotanya. Sepertinya Terusa adalah negeri arsitektur seni. Banyak sekali patung yang menghiasi.
Mungkin jika diibaratkan di duniaku, Terusa lebih mirip seperti Pulau Bali. Para penduduknya juga ramah tamah dan masih mengenakan pakaian sejenis kebaya semua. Aku merasa dejavu melihatnya. Serasa pulang ke duniaku saja.
"Kau mau mampir ke toko yang ada di sini, Ara?" Rain bertanya padaku. Kami berada di kereta kuda bersama.
"Rain, berapa jumlah penduduk negeri ini?" Aku langsung menanyakannya kepada Rain.
Rain tampak mengingat. "Mungkin hanya ada sekitar lima sampai tujuh juta jiwa," katanya.
__ADS_1
"Sedikit sekali." Aku pun bergumam sendiri.
"Itu baru perkiraan saja, Ara. Tidak yang sesungguhnya. Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?" tanya Rain kemudian.
Aku menoleh ke arahnya yang duduk di sisi kananku. "Kalau Arthemis?" tanyaku lagi yang membuat Rain mengerti maksud pertanyaanku.
"Sebenarnya penduduk Arthemis itu sedikit sekali. Sekutunya saja yang banyak. Dalam hubungan antar negeri pasti ada keuntungan yang didapat masing-masing pihak. Tak jauh berbeda dari duniamu." Rain menuturkan.
Aku mengangguk. Terdiam sejenak di sampingnya.
"Ara." Dia kemudian mendekat kepadaku.
Rain mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Jadi bentuknya seperti itu, ya? Indah sekali." Dia mengingatkan aku atas kejadian semalam.
"Rain!" Aku pun memukul lengannya.
__ADS_1
"Sayang ...." Rain segera memegang tanganku. "Jika begini kan adil. Kita sudah sama-sama melihatnya." Dia seakan-akan meminta haknya.
"Aku khilaf semalam." Aku pun malu di hadapannya.
Rain tersenyum. "Kemari." Dia memintaku agar merebahkan diri ini di dadanya. "Aku milikmu, Ara. Selamanya akan menjadi milikmu. Ya, walaupun aku sendiri tidak bisa memilikimu seutuhnya." Rain seperti mengungkapkan isi hatinya.
Rain ....
Saat itu juga aku merasa bersalah, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu lemah untuk memaksanya ikut ke duniaku.
"Aku tidak bisa berkata apa-apa, Rain." Aku pun hanya menjawab seperti itu.
Rain mengangguk. Dia mengecup tanganku lalu mencium kepala ini. "Asal bisa terus bersamamu, akan kulakukan semuanya." Dia memberi keyakinan padaku.
Aku memeluknya. Menghirup dalam-dalam aroma parfumnya. Rainku akhirnya bisa menerima kenyataan. Walau jauh di lubuk hatinya amat menginginkan aku seutuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, takdir berkata seperti ini. Kami pun tidak bisa melawannya. Satu harapanku semoga semuanya baik-baik saja. Penuh cinta dan kasih sayang seutuhnya.
__ADS_1
Sesampainya di istana Terusa...
Langit gelap, awan mendung menyertai kedatangan kami, tiba di sebuah istana bercat putih. Entah mengapa kabut hitam itu kulihat dari radius satu kilometer dari istana. Dan sesampainya di istana pun kulihat langit seperti tidak ada sinar mataharinya. Apakah ini hanya penglihatanku saja?