PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Bincang Bersama Raja


__ADS_3

Rain menciumku. Dia menarikku untuk lebih dekat dengannya. Aku pun pasrah saat bibir dan kumis tipis itu mengenai permukaan bibirku. Aku menikmatinya. Namun, Rain semakin memperdalam ciumannya. Seolah menegaskan jika aku ini hanya miliknya. Aku pun hanya bisa pasrah dan meremas belakang jubahnya saat merasakan bagaimana lidah basah itu meluapkan perasaannya kepadaku. Pada akhirnya lidah kami berpadu. Saling beradu di antara hati yang bergemuruh. Harus kuakui jika aku mencintai Rainku.


Sesampainya di istana Angkasa...


Aku kembali lagi ke istana sejuta kisah ini. Aku datang bersama Rain dan langsung disambut oleh Cloud. Seperti biasa keduanya saling melirik tajam saat aku ada di antara mereka. Maklum, keduanya saling memperebutkan aku dan tidak ada yang mau mengalah. Aku pun kembali menjadi Ara yang dicintai mereka. Memposisikan diri ini untuk bersikap adil terhadap keduanya.


"Ada kabar baik untuk kalian. Ayah sudah siuman." Cloud menuturkannya kepada kami.


Kulihat kuda-kuda prajurit yang mengantarkan Rain ke Negeri Bunga kembali lagi ke halaman belakang istana. Aku pun berjalan di antara mereka, menuju istana. Kulihat Rain diam saja di sisi kiriku sambil memalingkan pandangannya. Seketika aku jadi teringat dengan permintaannya di kapal tadi.

__ADS_1


"Em, Cloud. Bolehkah aku menjenguk Yang Mulia?" tanyaku kepada Cloud.


Cloud mengangguk. "Tentu. Kita akan menemui ayah sekarang." Cloud pun menggandengku seraya tersenyum. Tapi saat itu juga Rain segera menepiskannya. Aku pun tertawa dalam hati ini.


Mereka tidak pernah berubah. Selalu saja sama seperti dulu.


Lantas kulangkahkan kaki ini menuju lantai tiga istana untuk melihat keadaan baginda raja. Aku juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum beliau teracuni. Tapi ada baiknya aku berganti pakaian dulu. Maklum sehabis melakukan perjalanan jauh. Aroma keringat itu pasti ada saja.


Semilir angin berembus pelan menjelang sore ini. Ya, aku sampai di istana Angkasa pada sore hari. Mungkin ada sekitar setengah tiga waktu duniaku. Dan kini aku, Rain dan Cloud sedang duduk di depan tempat tidur raja. Raja terlihat tampak lelah setelah apa yang dialaminya. Tapi, aku tidak melihat ratu di sini. Mungkin dia sedang sibuk di lantai bawah istana.

__ADS_1


"Syukurlah kalian telah kembali."


Kata-kata itulah yang kudengar dari raja. Walau bibirnya masih pucat dan rambutnya sudah mulai beruban, raja tetap saja lantang berbicara. Dia memiliki kharismatik yang diturunkan ke anaknya. Semoga saja nanti cucunya juga seperti itu. Aku pun mengusap perutku.


"Ayah, Ara berhasil mendapatkan bunga malaikat untuk ditanam di istana. Ara juga telah pergi ke Negeri Bunga untuk urusan kerajaan. Dia sudah bisa mengemban tugas sebagai ratu." Cloud menuturkannya kepada raja.


Kulihat Rain menyilangkan kedua tangannya di dada sambil memalingkan muka saat Cloud berkata seperti itu. Sedang raja tampak mengangguk, menerima perkataan Cloud. Sepertinya tak lama lagi pernikahan kami akan segera diselenggarakan.


"Ya. Aku sudah memikirkan hal ini. Aku akan mengangkatmu sebagai Raja Angkasa selanjutnya. Dan kau, Rain." Raja beralih kepada Rain. "Jabatan perdana menteri akan kuserahkan padamu. Kau yang akan membantu Cloud untuk mengurusi hal-hal di luar negeri. Kau akan banyak berpergian dari istana." Raja menuturkan.

__ADS_1


Rain menghela napasnya. "Aku tahu. Tapi bagaimana dengan permintaan kesepuluh negeri yang ingin bergabung?" tanya Rain pada ayahnya.


__ADS_2