PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Tanya


__ADS_3

"Kalau begitu saya permisi." Aku pun berpamitan.


Aku beranjak keluar dari ruangan menteri ini. Dia pun mengantarkanku sampai ke depan pintu. Kutebarkan senyuman lalu beranjak pergi. Aku ingin kembali ke kamarku terlebih dulu. Ya, aku harus bersiap-siap sebelum kembali ke Angkasa. Aku harus menyerahkan laporan kerja sama yang telah selesai ini.


Semoga saja Zu masih asik mengobrol sehingga dia tidak ikut masuk ke kamarku.


Sejujurnya aku ingin menjaga jarak dari Zu. Tapi ternyata semesta malah menakdirkan kami bertemu. Tak ayal hatiku ini pun semakin tak karuan saja. Aku diterpa dilema dan dilema. Entah bagaimana akhirnya.


Hah ... akhirnya sampai juga.


Tak berapa lama aku sampai juga di kamarku. Kubuka pintu lalu segera masuk ke dalamnya. Namun, saat itu juga aku terkejut bukan main. Ternyata...


"Pangeran Xi?! Ap-apa yang kau lakukan di sini?!"

__ADS_1


Kulihat pangeran berpakaian kerajaan berwarna putih itu sedang duduk di atas kasurku. Aku pun membiarkan pintu ini tak terkunci.


"Setelah dia datang, aku kesulitan untuk menemuimu," katanya sambil melihat-lihat sketsa rancangan busanaku.


"Maksud Pangeran?"


"Zu. Siapa lagi orang yang membatasi pertemuanku denganmu?" Susana hatinya seperti kurang baik. Bisa kurasakan dari intonasi bicaranya.


"Pangeran, kenapa kau di sini?" tanyaku seraya berjalan mendekat ke arahnya.


"Ara, apa kau mempunyai hubungan khusus dengannya?" tanyanya yang membuatku menelan ludah.


Err ... kenapa dia menanyakannya?

__ADS_1


Aku tak tahu maksudnya apa. Tapi sepertinya Xi telah salah dalam menilai sikapku. Tidak mungkin dia banyak bertanya tanpa alasan yang jelas. Seperti saat ini, seperti orang yang cemburu saja.


"Em, Pangeran Xi. Aku tidak tahu apa maksud dari pertanyaan itu. Aku juga tidak tahu mengapa kau bisa sampai kemari. Apakah ada alasan khusus?" tanyaku hati-hati.


Bagaimanapun dia adalah seorang putra mahkota dari negeri yang berperang dingin dengan Angkasa. Sehingga sebisa mungkin aku harus berhati-hati bicara padanya. Aku tidak boleh sampai salah kata karena hal itu dapat menimbulkan masalah yang baru. Apalagi dia tahu benar jika aku adalah salah seorang pekerja di istana. Dan ya, sebisa mungkin aku mengondisikan detak jantungku yang kian tak beraturan karenanya. Aku harap-harap cemas menantikan hal apa yang akan dijawabnya.


Xi kemudian berjalan menuju jendela kamarku. Dia melihat pemandangan kolam seraya mengembuskan napas dengan pelan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan namun segan.


"Aku dan Zu tak jauh berbeda usianya. Bisa dibilang dia juga teman masa kecilku. Katakanlah jika kami dibesarkan bersama sebagai putra mahkota. Namun, aku lebih beruntung karena sampai saat ini masih mempunyai ibu. Zu adalah teman dekatku walau jarak negeri kami amat berjauhan. Tapi rasanya kerenggangan atas persahabatan itu mulai goyah sejak semalam." Dia menuturkan.


"Maksud Pangeran?" tanyaku lebih jelas.


Dia berbalik menghadapku. "Ara, boleh aku jujur?" Dia malah balik bertanya padaku.

__ADS_1


Aku mengangguk sambil merasa heran. Kulihat sinar matanya seperti menyiratkan kesedihan yang mendalam. Entah hal apa yang sebenarnya terjadi padanya. Aku pun masih menunggunya bicara.


"Ara, aku membutuhkanmu. Maukah kau ikut berkelana denganku?" tanyanya yang sontak membuatku menelan ludah seketika.


__ADS_2