PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Panik


__ADS_3

Aku mengangguk segera. Kulihat Cloud pun terdiam sejenak. Seperti berpikir untuk menyelesaikan masalah ini.


"Aku rasa ... dia memang harus diantisipasi. Aku khawatir dia adalah pemilik seribu wajah." Cloud menuturkan padaku seraya tertegun.


"Aku juga berpikir demikian, Cloud. Tidak mungkin kebetulan terjadi berulang kali, bukan? Pastinya ada alasan dibaliknya." Aku membenarkan apa katanya.


Cloud menoleh ke arahku. "Apa ada sesuatu yang aneh selain melihat ular hijau itu?" tanya Cloud padaku.


Aku mengangguk. "Waktu Yang Mulia teracuni, aku bertemu dengan seorang pria di danau angsa putih. Dan ternyata pria itu adalah Xi. Waktu Ratu Terusa sakit, Xi juga datang ke istana dan kami sempat berbicara. Tapi anehnya, aku tidak bisa mengingat apa isi pembicaraan kami. Dan pelayan Terusa mengatakan jika aku jatuh pingsan lalu dibawa ke kamar olehnya. Dan malamnya aku melihat ular hijau itu. Bukankah hal itu aneh sekali, Cloud?" Aku mengutarakan isi pikiranku.


Cloud mengangguk. Dia lalu mengusap pipiku. "Tenang, Ara. Aku akan menangani hal ini. Akan kukerahkan banyak prajurit yang berpengalaman untuk berjaga di sekitar ibu kota. Aku tidak akan membiarkannya masuk ke Angkasa. Apalagi ke danau cinta kita." Dia berjanji padaku.

__ADS_1


Aku pun tersenyum malu di hadapannya. Entah mengapa saat Cloud menyebut danau cinta kita, aku jadi malu sendiri. "Jangan menghiburku, Cloud. Karena bisa saja aku memukulmu saat ini," kataku malu.


Cloud tersenyum. Semburat senyum itu terlukis indah di wajahnya. Dia pun mengusap kepalaku. "Aku mencintaimu, Ara. Aku menyayangimu. Apapun akan kulakukan untukmu," katanya dengan penuh keyakinan seraya menggenggam tangan ini.


Aku tersenyum bahagia di hadapannya. Tak tahu apakah hal yang kami lakukan ini benar atau tidak. Aku masih bisa tersenyum di saat Rain sedang sakit. Tapi sepertinya, Cloud lebih tahu apa yang harus dilakukan untuk negerinya. Jika Xi memang mengincarku, pastinya Cloud akan tahu lebih dulu. Dia seorang pria yang peka terhadap keadaan sekitarnya. Dan ya, aku yakin dia pasti memberikan yang terbaik untuk semuanya. Aku percaya padanya.


"Aku akan mengerahkan seluruh tabib istana untuk mempercepat kesembuhan Rain. Kau jangan khawatir, Ara."


Sore harinya...


Angin sepoi-sepoi menerpa tubuhku yang sedang tertidur di sofa teras, belakang kediaman Rain. Aku merebahkan diri di sini setelah berbincang bersama Cloud. Tapi ternyata, aku malah kebablasan tidur. Dan ya, aku terbangun dengan terkejut.

__ADS_1


"Astaga!"


Lekas-lekas aku beranjak ke kamar Rain untuk melihat keadaan pangeranku di sana. Tapi ternyata...


Dia ke mana?


Rain tidak ada di kamarnya. Saat itu juga aku panik bukan kepalang. "Rain!"


Segera saja aku mencarinya. Mencari ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, mencari ke halaman belakang rumahnya. Tapi Rain tetap saja tidak ada.


Ya Tuhan, dia ke mana?

__ADS_1


Aku pun segera berlari ke dapur. Kali-kali saja dia sedang membuat teh sore ini. Tapi dia tidak ada juga di sana. Lekas saja aku berlari ke lantai dua kediamannya, memeriksa satu per satu ruangan yang ada di sana. Tapi, Rain tetap tidak ada.


__ADS_2