
Aku menggelengkan kepala. "Olive, apa benar tadi pangeran Xi ke sini?" tanyaku padanya.
Olive terdiam sejenak. Dia tampak berpikir mengenai hal ini.
"Kita menemuinya tadi di ruang rawat ratu, bukan?" tanyaku lagi.
Sungguh aku ingin tahu kebenarannya untuk membuktikan perasaanku tentangnya. Apakah benar dia adalah dalang dari teracuninya Raja Angkasa dan sakitnya Ratu Terusa? Aku ingin tahu kebenarannya.
Olive akhirnya mengangguk. "Pangeran Xi memang tadi ke sini, Nona. Tapi, kenapa wajah Nona terlihat sangat khawatir sekali?" Dia mempertanyakan sikapku.
Astaga ....
Saat itu juga aku terdiam dan terpaku. Ternyata benar jika Xi datang ke sini. Berarti apa yang kulihat tadi tidaklah salah. Dia datang ke istana Terusa.
__ADS_1
"Lalu apa yang dia katakan kepada raja setelah itu?" Aku pun mencoba bertanya lagi.
Olive mengangguk. "Nona, apakah Nona ingin bertemu langsung dengannya?" Olive malah bertanya seperti itu.
"Olive, aku hanya ingin kau mengatakan apa yang terjadi tadi. Itu saja," kataku lagi, mulai merasa gemas karena Olive seperti mengulur waktuku. Dia lama menanggapiku.
Olive pun mengangguk-angguk. Dia seperti takut dengan perubahan intonasi dan wajahku. "Pangeran Xi memang datang lalu berbicara bersama raja di ruang tamu ruang rawat ratu, Nona. Lalu kita masuk dan melihatnya. Pangeran kemudian meminta izin kepada Yang Mulia untuk berbicara kepada Nona. Setelah itu entah mengapa Nona pingsan dan pangeran Xi lah yang mengantarkan Nona sampai ke kamar. Dan sekarang dia sudah pulang." Olive berkata padaku.
Ap-apa?!
"Nona? Nona?" Olive pun menggerak-gerakkan tangannya di depanku.
Seketika aku tersadar. "Em, aku ingin beristirahat sebentar. Bisakah buatkan wedang jahe untukku?" tanyaku padanya.
__ADS_1
Olive mengangguk. "Saya akan kembali secepatnya, Nona. Ini manisan untuk Nona. Pangeran Xi yang menitipkannya untuk Nona." Olive berkata lagi.
Bak guntur menggelegar di angkasa. Saat itu juga aku takut seketika. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Firasatku mengatakan Xi datang ke istana Terusa bukan tanpa tujuan. Melainkan untuk mengincar sesuatu. Dan sesuatu itu adalah diriku?
Kenapa dia terasa misterius sekali? Apakah jangan-jangan manisan ini ada obat pemikatnya?
Entah mengapa pikiran buruk mulai menyelimuti hati ini. Aku merasa curiga dengan segala gerak-geriknya. Seribu pertanyaan juga muncul di hatiku. Mengapa dia sampai datang ke istana ini? Apakah benar murni ingin menjenguk ratu yang sakit?
Rasa-rasanya perasaanku ini tidak salah. Jika dia memang ada hubungannya dengan apa yang terjadi di Angkasa atau Terusa. Tapi aku tidak ingin menuduhnya. Aku harus tetap berhati-hati kepadanya. Mungkin lebih baik jika kutanyakan Rain saja.
Ya Tuhan, apakah masalah besar yang akan menimpaku itu berkaitan dengan Xi?
Kuambil napas dalam-dalam lalu segera menerima manisan pemberian dari Xi ini. Dengan gemetar aku pun menerimanya. Aku kemudian menunggu Olive kembali datang dengan membawakanku wedang jahe. Sepertinya aku harus cepat membicarakan hal ini kepada Rain. Ya, harus. Mungkin dia mempunyai sedikit informasi tentang Xi.
__ADS_1
Rain, jika benar firasatku, apa yang harus kita lakukan terhadap Xi?
Lantas aku kembali ke kamar sambil membawa manisan. Kubuka pintu dan kulihat Rain baru saja selesai mandi. Dan ya, sepertinya kami akan berbincang setelah ini.