
Di kediaman Rain...
"Ara, terima kasih."
Rainku duduk di sofa teras belakang kediamannya. Dia ingin duduk di sini sambil meminum susu bersamaku. Dan ya, dia tampak memerhatikanku. Seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Aku pun dengan segera mengaduk susu lalu ikut memerhatikannya. Aku tersenyum padanya.
"Kenapa?" tanyaku ceria.
Rain tersenyum. Senyum indah yang kuharapkan beberapa hari ini. Dan ya, dia mengusap kepalaku. Seperti ingin melampiaskan rasa sayangnya padaku. Aku pun menciumnya. Mencium pipinya dengan satu kecupan kecil. Sontak wajah Rain tersipu malu di depanku. Aku pun mengusap pelan wajahnya.
"Terima kasih, Ara. Terima kasih telah merawatku," katanya seraya menatapku.
Aku mengangguk. "Itu sudah kewajibanku, Rain. Yang penting kau sehat dulu ya." Aku pun mencolek ujung hidungnya itu.
Rain tertawa. Tawa kecil yang membuatku berharap semoga dia bisa lekas sembuh. Rain kemudian terdiam sejenak. Dia memerhatikanku. Seperti berniat mencium keningku. Aku pun memejamkan mata ini di hadapannya. Pasrah jika dia ingin menciumku. Tapi, saat itu juga...
__ADS_1
"Putraku!!!" Kudengar suara ratu yang datang tergesa-gesa ke kediamannya. "Putraku, di mana dirimu?!" Intonasi suara ratu pun semakin meninggi.
"Ibu?"
Rain segera beranjak berdiri untuk menemui ibunya. Dan ya, aku membantunya lalu berjalan bersama masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum sempat, ratu sudah datang dan menghampiri kami. Dia melihatku yang sedang memegang Rain ini.
"Lepaskan tanganmu darinya!" Ratu berseru padaku.
"Ibu?!" Rain pun tampak terkejut dengan sikap ibunya.
"Akh!"
Aku didorongnya hingga jatuh ke sofa teras ini. Dia menatapku dengan penuh kebencian.
"Gadis sialan! Semua ini karenamu. Semenjak kau datang, negeri ini jadi berantakan! Pergi kau dari istana!!!" Ratu menunjuk keluar padaku.
__ADS_1
"Ibu, apa yang Ibu katakan? Ara calon istriku, Bu!" Rain pun membelaku. "Bangun, Ara." Dia membantuku bangun dari sofa.
"Rain! Apa kau tidak sadar semenjak kedatangannya banyak sekali kejadian aneh di istana ini?! Apa kau sudah dibutakan oleh cinta sehingga tidak lagi bisa berpikir dengan jernih?!" tanya ratu berapi-api.
Saat itu juga aku hanya bisa terdiam seribu bahasa.
"Semenjak dia di sini, berulang kali Angkasa mengalami keadaan yang mengerikan. Kau periksa lagi siapa calon istrimu! Ibu tidak ingin mengambil risiko!"
Kembali, ratu menunjukkan rasa tidak sukanya padaku. Saat itu juga aku hanya bisa menelan ludah dan menahan kesedihan ini. Sungguh hatiku pilu saat disangka menjadi penyebab dari semua permasalahan yang melanda Angkasa. Saat itu juga hatiku lemah. Aku seperti tidak mempunyai alasan untuk tetap tinggal di sini.
"Ibu, Ibu tidak boleh berbicara seperti itu kepada Ara. Apalagi sampai mengusirnya. Ibu akan menyesal!" Rain menegur ibunya.
"Cih!" Saat itu juga ratu mendecih ke arahku. "Ibu bisa memberimu gadis yang lebih baik darinya. Buang dia segera! Dia penyebab malapetaka di istana ini. Atau kalau tidak, jangan anggap ibu sebagai ibumu lagi!"
Begitulah hal yang dikatakan ratu sebelum pergi. Dia memang amat tidak menyukaiku. Saat itu juga hatiku berdesir lirih. Benarkah apa yang dikatakan ratu? Jika aku hanya pembawa malapetaka untuk negeri ini? Sungguh aku serba salah menjalani takdirku. Mengapa calon mertuaku itu tidak menyukaiku? Apa salahku? Apa karena aku berasal dari kalangan rakyat jelata? Bukan putri kerajaan yang memiliki segalanya?
__ADS_1