
"Akh!"
Rain tiba-tiba saja jatuh, tak ada angin tak ada hujan. Dia pun memegangi kakinya seperti orang yang kesakitan.
"Rain!" Aku pun segera mendekatinya.
"Ara, kakiku sakit sekali."
Saat itu juga kulihat sinar hitam di area kakinya yang bekas tergigit ular. Lekas saja aku membantunya untuk menyingsingkan celana. Dan ternyata...
"Astaga, Rain."
Kulihat bekas gigitan ular itu seperti mengeluarkan asap hitam. Aku pun tak mengerti mengapa bisa seperti ini. Apakah ini efek dari energi yang bertabrakan? Karena kami sudah berada di dekat pohon surga sekarang.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian...
"Rain, kau melihat sendiri, bukan?" tanyaku kepada Rain yang kini duduk di sampingku. Dia memerhatikan bekas gigitan ular yang ada di kaki kirinya.
"Ini aneh sekali, Ara. Berarti ular itu adalah ular jadi-jadian. Tidak salah lagi." Rain tiba-tiba saja sudah pulih sempurna, sesaat setelah duduk di bawah rindangnya pohon surga.
Aku berpikir sejenak. "Berarti kawasan bukit ini adalah area netral dari sihir." Aku mengungkapkan pemikiranku.
"Kau merasa begitu?" tanya Rain.
Rain terdiam sejenak. Dia tampak memikirkan hal ini. "Di bawah bukit ini ada sebuah gubuk yang biasa digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi para petani ataupun pekebun yang lewat. Para pedagang lintas daerah juga seringkali beristirahat di sana. Kau mau melihatnya, Ara?" tanya Rain padaku.
Aku berpikir. "Kau bisa gambarkan bagaimana bentuk bukit ini dari jarak jauh?" Aku balik bertanya padanya.
__ADS_1
Rain memutar tubuhnya ke sekeliling arah. Dia memerhatikan keadaan sekitarnya. "Ini adalah bukit, tapi bisa dibilang bukit tunggal. Dan ini adalah bukit tertinggi di negeri kami. Jika dari pesisir lautan ke sini, jalannya akan menanjak sekali. Dan dari bukit ini juga bisa terhubung dengan berbagai dermaga. Hanya saja jalannya setapak." Rain menuturkan.
Jalan setapak? Dermaga?
Saat itu juga pikiranku mengaitkan hal ini dengan sekelebat bayangan hitam yang kulihat waktu itu. Aku jadi berpikir jika yang kulihat adalah seorang manusia berpakaian hitam yang berlari cepat melewati jalan setapak ke bukit ini. Tapi, aku belum yakin pasti.
"Em, sudah. Kita makan buahnya saja ya."
Lantas aku juga tidak ingin melanjutkan hal ini. Aku tidak ingin apa yang ada di pikiranku membuat Rain kesal kembali, lalu jatuh sakit. Biarlah cukup aku saja yang tahu tentang apa yang terjadi di luar logika ini. Aku tidak ingin menambahi bebannya dengan ceritaku lagi. Cukup sudah waktu di Terusa waktu itu. Aku tidak mau terulang lagi.
"Em, manis sekali, Ara."
Rain pun mulai menyantap buah surga yang berhasil kuminta pada pohonnya. Namun sayang, aku hanya bisa menjatuhkan lima buahnya. Sepertinya memang harus banyak-banyak berlatih agar kekuatanku bisa kembali pulih. Ya, hanya itu satu-satunya cara untuk memancing kekuatanku lagi. Karena pada kenyataannya aku memang masih membutuhkan kekuatan itu untuk menolong orang-orang. Terutama kedua pangeranku dan negeri ini. Semoga saja kekuatanku itu lekas kembali.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian...
Ini adalah hari ke empat dari kedatangan kami terakhir ke bukit pohon surga. Dan ini adalah hari kesekian kalinya aku mengambil buah surga. Ternyata kekuatanku itu memang harus dilatih. Jika tidak, tidak akan kembali. Seperti pisau yang harus selalu diasah jika ingin tajam. Begitu juga dengan kekuatanku ini.