PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Sa-salam bahagia untuk Pangeran." Dengan terbata aku pun memberikan salam padanya.


Atmosfer ruang tamu yang ada di ruang rawat ratu ini berubah seketika. Aku pun menoleh ke arah Olive yang berdiri di sisiku. Dia terlihat terpana dengan kedatangan Xi ke istana. Aku pun jadi tak mengerti mengapa Xi bisa ada di sini. Apakah sebuah kebetulan atau rekayasa semata? Sungguh detak jantungku tak terkendali. Rasa khawatir bercampur was-was menyelimuti. Benarkah dia pelaku dari sakitnya ratu?


Ini aneh sekali. Xi datang ke Angkasa, raja teracuni. Dan kini saat Ratu Terusa sakit, dia juga datang ke sini. Apakah ada hubungannya? Kenapa hatiku malah mencurigainya ya?


Entah mengapa hatiku menduga-duga yang buruk tentangnya. Aku pun menarik napas dalam agar tidak terbawa suasana. Bagaimanpun Xi adalah putra mahkota. Dan aku calon ratu Angkasa. Aku harus tetap menjaga tata krama sekalipun amarah menerpa.


Ya, aku harus dapat mengondisikan hati dan pikiran ini agar tetap tenang. Sehingga tidak terbawa pikiran yang menyesatkan. Aku juga harus menguatkan mental. Bukankah Tetua Agung sudah memberitahukannya?


Sepuluh menit kemudian...

__ADS_1


Canggung. Itulah hal yang kurasakan saat berjalan bersama Xi di koridor istana lantai dua ini. Xi meminta izin kepada raja untuk berbicara padaku. Raja pun mengizinkannya. Sedang aku sendiri tampak ragu untuk bertemu kembali dengannya.


Aku khawatir Rain melihatnya. Tapi sepertinya pangeran kesayanganku itu sedang tidak berada di istana. Kulihat tempat pelatihannya sepi sedari tadi. Mungkin mereka berlatih di alam bebas hari ini. Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang kutahu saat ini sedang berjalan bersama Xi.


"Kau begitu dekat dengan Rain." Xi membuka percakapan saat kami berjalan bersama di koridor istana lantai dua.


Aku mengangguk. Bingung harus berkata apa.


Aku menoleh ke arahnya. Saat itu juga aku melihatnya tersenyum tanpa dosa. Xi pun menghela napasnya lalu berbicara kepadaku kembali.


"Apakah karena dia seorang panglima kau lebih menyukainya dibandingkan yang lain?" Xi bertanya lagi.

__ADS_1


"Pangeran, apa maksudmu?" Aku segera menanyakannya.


Xi menghentikan langkah kakinya. Dia memutar tubuhnya ke arahku. Kami lantas berhadapan di koridor istana lantai dua ini. Dan entah mengapa keadaan sepi sekali. Seperti tidak ada orang di sini.


"Ara ...," Dia berucap lembut padaku. "Aku bisa memberikan apapun yang kau mau. Mungkin aku bukan panglima seperti Rain. Mungkin juga bukan raja seperti Cloud. Aku juga bukan seperti Zu yang akan memimpin sebuah negeri yang besar. Aku adalah Xi dengan segala kekurangannya. Aku tidak punya apa-apa untuk memikat hatimu. Tapi, aku bisa memberikan segala yang kau mau." Dia berkata seperti itu padaku.


Sejenak kutelan ludahku. Dadaku naik turun mendengar dia berbicara seperti itu. Tatapan matanya terlihat berbeda sekali. Dia bukan seperti Xi yang kukenal dulu. Apakah ini sisi lain dari dirinya? Mengapa aura jahat itu kurasakan darinya? Atau ini hanya sebatas perasaanku saja?


"Pangeran, hati seseorang itu tidak bisa dipaksakan. Dengan siapapun aku, itu tidak ada hubungannya denganmu. Baiknya kau mencari yang sepadan. Karena aku hanya berasal dari kalangan rakyat jelata. Bukan putri kerajaan yang mempunyai segalanya. Kau salah orang, Pangeran," kataku padanya. Aku pun berniat pergi darinya.


Xi terdiam. Dia tampak memikirkan hal ini. Dan karena tidak ingin menambah masalah, aku lekas berpamitan saja.

__ADS_1


"Masih ada urusan yang harus kukerjakan. Permisi." Aku pun lekas pergi.


__ADS_2