PUTRI UNTUK PANGERAN

PUTRI UNTUK PANGERAN
Kesal Tertahan


__ADS_3

"Semoga tidak kapok datang ke sini ya." Ratu berkata padaku.


Aku mengangguk. "Pangeran Xi, terima kasih."


Aku juga berpamitan kepada Xi. Namun, Xi diam saja dan mengangguk seperti orang yang terpaksa. Aku pun berusaha tersenyum kepadanya.


"Yang Mulia, saya permisi."


Zu akhirnya ikut bicara. Kereta kuda istana sudah menunggu kami. Baik raja maupun ratu akhirnya melepaskan kepergian kami. Mereka mengangguk, mengiyakannya seraya tersenyum.


Aku menarik napas dalam-dalam. Tersenyum kepada mereka sebelum berbalik menuju kereta. Pada akhirnya aku pun melangkahkan kaki menuju kereta kuda yang sudah menunggu di sana. Zu pun menggandeng mesra tanganku. Namun, saat itu juga...


Rain?!

__ADS_1


Terdengar gemuruh suara langkah kaki kuda yang cepat. Dan tak lama kulihat sosok pangeran berjubah merah datang bersama pasukannya memasuki istana ini.


Astaga! Bagaimana ini?!


Sontak saja kulepas pegangan tangan Zu dariku. Aku segera menjaga jarak darinya. Rain pun akhirnya tiba di hadapan kami. Dia memerhatikanku dengan pandangan penuh curiga. Dia juga melihat Xi yang ada di belakang kami.


Rain turun dari kudanya. "Salam bahagia untuk Yang Mulia." Rain memberi salam kepada Raja dan Ratu Negeri Bunga.


"Selamat datang di istana kami, Pangeran Rain." Raja pun menyambutnya.


Sontak baik ratu maupun Rose terkejut mendengarnya. Saat itu juga jantungku berdebar kencang sekali. Seperti mau copot dari tempatnya. Rain memasang raut wajah tak senangnya kepada pria di sampingku ini, Zu.


"Oh, silakan. Tapi pangeran Zu sudah akan mengantarkannya." Raja juga sepertinya tahu apa yang terjadi. Dia tampak tersenyum kepada Rain di tengah suasana yang canggung ini.

__ADS_1


Rain menoleh ke arah Zu. "Sepertinya tidak perlu. Karena aku telah menjemputnya." Rain melirik sadis ke arah Zu.


Aku menelan ludah. Harap-harap cemas atas apa yang terjadi. Pada akhirnya aku menundukkan wajah karena tidak ingin melihat mereka. Aku khawatir, sangat khawatir terjadi perkelahian di sini. Walau nyatanya ini bukan duniaku, tetapi tetap saja rasa was-was itu begitu tinggi.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Pangeran Rain." Raja pun berucap terima kasih kepada Rain.


Rain segera memegang tanganku. Pegangan tangan yang sangat kuat hingga membuatku melihatnya. Zu pun hanya diam melihat kami. Dan Rain lekas membawaku pergi dengan tatapan tajam ke arah Zu. Aku pun hanya bisa memejamkan mata ini, berharap bisa segera pergi.


Ya Tuhan, mengapa seperti ini?


Di depan raja dan ratu, akhirnya terjadi sebuah tragedi. Di mana kesemua pangeran menunjukkan keinginan yang besar untuk memilikiku. Sungguh aku pusing sekali. Serasa menemui jalan buntu.


Rain lalu memintaku untuk menaiki kuda hitamnya. Aku pun lekas naik ke kuda hitam itu. Rain tersenyum kepada raja dan ratu Negeri Bunga. Dia lalu segera membawaku pergi dari istana. Dan ya, aku hanya bisa diam. Aku pasrah. Karena tahu tak ada gunanya juga untuk bicara. Jadi diam saja.

__ADS_1


Makan siang di kapal laut Angkasa...


Tak terasa setelah melalui beberapa jam perjalanan, kami akhirnya sampai juga di kapal laut milik Angkasa. Dan ya, kini aku sedang duduk bersama si putra bungsu Angkasa sambil makan siang di atas kapalnya. Tapi, wajah Rain terlihat tidak senang. Sepertinya dia masih marah dengan kejadian di istana tadi.


__ADS_2