
"Saya ... saya merasa tertekan di sini, Nona," katanya yang membuatku terkejut.
"Tertekan?" tanyaku.
Dia mengangguk.
"Tertekan kenapa Lara? Aku tidak mengerti," tanggapku.
Lara menunduk. Dia seperti merasa bersalah. "Bayang-bayang ratu terdahulu selalu menghantui saya, Nona," katanya, yang membuatku terkejut seketika.
"Ratu terdahulu? Jadi maksudnya?"
"Ratu White sudah tiada, dia diracun oleh ratu yang sekarang," katanya.
__ADS_1
"Apa?!"
Saat itu juga jantungku berdegup kencang sekali. Rasa-rasanya tak percaya dengan hal yang kudengar pagi ini.
"Nona, tolong saya. Tolong bawa saya pergi dari sini. Ratu terdahulu selalu menghantui saya. Seolah meminta saya untuk menjadi saksi kunci atas kematiannya." Air mata terlihat mulai menggenangi matanya.
Aku menelan ludah, mencoba memahami situasi yang terjadi. "Apakah ratu yang sekarang tahu jika kau adalah saksi kunci?" tanyaku dengan suara yang amat pelan.
Lara mengangguk.
Lara mulai meneteskan air matanya. "Ratu mengancam saya, Nona. Saya akan dihukum mati jika sampai membocorkan apa yang terjadi waktu itu. Sedang saya mempunyai tiga adik kecil yang masih membutuhkan nafkah. Saya tak berdaya. Jadi saya simpan saja rahasia ini. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Nona." Dia mengungkapkannya.
"Kau percaya padaku?" tanyaku lagi.
__ADS_1
Dia mengangguk. "Nona adalah wanita yang baik. Saya bisa merasakan hal itu. Saya tidak bisa lagi memendam rahasia ini. Karena saya tahu cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar. Dan saya pasti dieksekusi." Dia menahan isak tangisnya.
"Ya Tuhan ...."
Saat itu juga kupeluk dirinya. Aku mencoba berempati terhadap apa yang menimpanya. Ternyata benar penglihatanku waktu itu, tentang wanita bergaun putih yang mati tergeletak di kamarnya. Ternyata dia adalah ratu terdahulu. Dan Lara merupakan saksi kunci atas kejadian itu. Tapi ada satu hal yang mengganjal di hatiku, mengapa Lara dibiarkan hidup oleh ratu yang sekarang jika dia adalah saksi kunci dari kejahatannya? Pastinya ada sesuatu di balik ini semua.
Ya Tuhan, apa ini maksud-MU mengutusku ke Negeri Bunga? Ingin aku menyelesaikan masalah yang ada di sini? Jika iya, apa yang harus kulakukan? Ratu terlihat bersikap baik kepada orang-orang. Bagaimana mungkin jika dia adalah dalang dari pembunuhan ratu sebelumnya?
Sungguh tak kusangka jika akan menerima kabar ini. Lantas aku pun meminta Lara untuk menceritakan semuanya. Aku ingin tahu dan membandingkan dengan apa yang kulihat waktu itu. Benarkah kejadian itu? Atau hanya sebatas halusinasiku semata?
Satu jam kemudian...
Mentari terbit dengan sempurna. Aku pun sudah mandi dan berdandan sebelum menjalani hari terakhirku di istana. Rencana pagi ini akan diadakan sarapan pagi bersama dengan para tamu kerajaan sebelum mereka kembali ke negerinya masing-masing. Dan aku ingin mengikuti sarapan pagi kali ini. Aku ingin tahu bagaimana sikap ratu di depan raja.
__ADS_1
Jujur saja aku tak percaya jika dibalik sikap ramah ratu ternyata ada sesuatu kejahatan yang disembunyikan. Mungkin pepatah yang mengatakan jangan lihat seseorang dari luar itu memang benar adanya.
Sampai detik ini pun aku masih berpikir keras bagaimana cara untuk memecahkan masalah ini agar mendiang ratu mendapat keadilan. Padahal kalau dipikir-pikir, bukan urusanku juga. Tapi mungkin inilah maksud Tuhan mengutusku datang ke sini. Karena tidak mungkin sesuatu terjadi tanpa alasan yang tak jelas.