
Sang raja mengangguk kembali. "Kau bisa pergi setelah pengangkatan Cloud. Tapi tidak untuk kesepuluh negeri dalam waktu dekat. Kau bisa membaginya dalam tiga bagian. Aku telah memerintahkan tuan Shane untuk mengirimkan surat resmi penundaan." Raja menjelaskan.
Rain mengangguk. "Aku mengerti, Ayah " Pada akhirnya keputusan disepakati bersama.
"Untuk sementara kita bersiap-siap untuk pengangkatan Cloud. Kau bisa melatih prajuritmu untuk upacara pengangkatan." Raja memerintahkan.
"Aku mengerti." Rain pun beranjak berdiri. Dia segera pergi dari hadapan kami.
Rain selalu dingin manakala Cloud berada di dekatku. Tapi yang membuatku heran, kenapa dia tidak nekat saja untuk pergi bersama ke duniaku? Bukankah kami bisa hidup bahagia di sana? Bukannya aku tidak mengerti tugas dan tanggung jawabnya di istana. Tapi jika begini, dia akan terus-terusan menahan kesal karena Cloud. Aku jadi tidak mempunyai cara lagi untuk membuatnya memilih.
__ADS_1
"Ara, kau bisa tanyakan kepada ayah tentang hal yang mengganjal di hatimu. Mungkin ayah bisa menjawabnya." Cloud mempersilakan aku bertanya.
Saat itu juga aku merasa jika Cloud begitu mengerti akan diriku. Kemarin aku memang sempat ingin bertemu raja dan menanyakan tentang hubungan Angkasa dan Arthemis. Tapi, saat itu dilarang. Dan kini waktunya bagiku untuk menanyakannya. Aku pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Setengah jam kemudian...
Raja bilang padaku jika memang ada perang dingin antara Angkasa dan Arthemis. Hal itu disebabkan karena kesalahpahaman tentang batas teritorial sebuah pulau yang ada di antara laut keduanya. Yang mana pulau itu masuk ke dalam wilayah Angkasa. Tapi lautnya milik Arthemis. Sehingga karena hal itulah pihak Arthemis marah kepada Angkasa. Mereka memperebutkan pulau tersebut untuk menjadi bagian dari wilayah mereka.
"Hah, akhirnya aku tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hal ini semakin menguatkan dugaanku akan kedatangan Xi ke Angkasa. Atau jangan-jangan dia yang menyamar sebagai pelayan lalu meracuni raja?"
__ADS_1
Satu per satu teka-teki mulai terungkapkan. Tapi aku masih penasaran dengan sekelebat bayangan hitam yang kulihat waktu itu. Apakah itu Xi? Atau orang lain? Aku sendiri belum dapat memastikannya jika belum membuktikannya sendiri. Aku tidak mau berprasangka kepada orang lain. Apalagi aku harus menjaga nama baik Angkasa sebagai calon ratu negeri ini.
"Ara."
Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarku. Aku segera kembali ke kamar setelah berbicara dengan raja. Dan ya, aku baru saja melepas gaunku di depan cermin. Tapi pangeran itu entah mengapa bisa masuk dengan mudahnya ke kamar ini.
"Cloud?!" Aku pun lekas-lekas menutupi tubuhku dengan gaun.
Cloud datang ke kamarku tiba-tiba. Padahal perasaanku sudah menutup pintu sebelumnya. Aku juga telah mengunci pintu ruang tamu. Tapi mengapa dia bisa dengan mudah masuk ke kamarku ini?
__ADS_1
"Jangan ditutupi, biarkan saja."
Cloud pun mendekatiku. Dia kemudian mengambil gaun yang kupakai untuk menutupi tubuh ini. Walau masih memakai kemben dan leging pendek, tetapi tetap saja untuk ukuran istana sangat vulgar sekali. Aku pun terkejut saat dia melemparkan gaun itu ke lantai.