Putri Yang Hilang 2

Putri Yang Hilang 2
Hanum 15


__ADS_3

'' setelah ini, tolong panggil aku dengan sopan tapi tidak menjatuh kan mu..''' pinta nya setelah kami berdua menyetujui surat perjanjian yang ia buat


 di dalam nya tertara aku tidak berhak ikut campur apa pun urusan nya begitu juga dengan nya yang tidak boleh ikut campur urusan ku


 dan aku boleh memiliki kekasih karena ia pun memiliki kekasih, untuk setengah tahun kedepan kami akan hidup bersama


Tidak ada sentuhan pisik mau pun lain nya tidak ada yang boleh ini dan itu, entah lah, aku tidak terlalu jauh membaca nya hanya ku singkat- singkat saja


  '' aku harus memanggil apa..'' tanya ku pada nya pula


Karena sebelum nya aku tidak pernah memanggil sayang kepada lelaki mana pun,


  '' yang menurut mu bagus dan tidak berlebihan..'' ucap nya lagi


  '' tapi apa..'' ujar ku pula


Perdebatan perkara panggilan setengah jam berlalu, dan aku merasa geli sendiri harus memanggil nya dengan sebutan mas


Sudah seperti apa saja, karena ia tidak mau jika ku panggil dengan sebutan Abang, menyusah kan sekali


Padahal di keluarga kami semua rata-rata memanggil Abang jika lebih tua dari usianya lain nya


   '' aku mau pulang, kau mau di sini apa ikut dengan ku pulang..'' ia menoleh sejenak kepada ku


  '' apa aku masih di harap kan di sana, bukan nya kau menyuruh ku untuk tidak kembali kerumah itu..'' tanya ku terkekeh kecil menatap nya


Bukan kah ia yang mengusir ku, kenapa malah sekarang mengajak ku untuk pulang,


  '' hanya setengah tahun saja, kau berada di sana, sisa nya aku akan memulang kan mu secara baik-baik kemari.'' ujar mas imam


  membuat ku berpikir sejenak, apa kah ini jalan yang terbaik, jalan mana yang harus ku pilih, tapi aku sudah menandatangani surat perjanjian kami tadi


  '' baik lah, aku akan ikut kau pulang, tapi bagai mana dengan kamar kita, apa kah kita di sana akan tidur seranjang, karena di sana hanya ada satu kamar.. '' tanya ku


  '' kita tidak akan tinggal di situ lagi..'' ujar nya


'' lalu kita akan di mana..''


  '' ada lah, kau ikut saja lebih dulu, kalau malasah tempat tinggal aku yang akan mengurus nya nanti..'' ujar nya pula


Aku hanya menurut saja, dan aku pun berkemas sementara mas imam pamit kepada mama dan papa, untung nya ini hari libur, mama dan papa ada di rumah

__ADS_1


***


Seminggu telah berlalu dengan mas imam membawa ku berpindah tempat, tidak di rumah yang pernah ku datangi kemarin


Ini lebih dekat lagi dengan kantor pabrik, sekitar dua puluh menitan jika mengendarai mobil atau motor


   sudah seminggu hidup serumah, namun aku tidak merasakan kenyamanan ada di sini, tidak memiliki gairah berada di sini


Apa lagi aku sering di tinggal seorang diri oleh mas imam, terkadang ia hanya menginap satu malam dan pergi lagi


Rasa kesepian itu selalu menyerang di saat malam tiba, karena siang hari aku selalu bekerja kecuali hari libur,


Seperti malam ini mas imam tak kunjung pulang, padahal ini sudah larut malam, namun tanda-tanda ia akan pulang itu tidak ada sama sekali


  '' sunyi sekali di sini, lebih baik aku tadi memutar haluan ke rumah mama, di sana kan ramai..'' sesal ku tak memutar arah pulang ke rumah mama


aku pikir hari ini mas imam akan pulang kemari, ternyata tidak sama sekali, biasa nya ia akan berkunjung dua atau tiga hari sekali, ini sudah lebih dari tiga hari ia tak kunjung kembali juga


 '' membosan kan..'' dengus ku sebal


Malam ini aku tidur di rumah sendiri lagi untung nya perumahan ini ada tetangga nya, kalau tidak, entah lah.


Entah mau jadi apa aku ini, apa lagi kalau aku sakit, pasti nya tidak ada yang akan mengetahui keadaan ku


***


   '' pagi Hanum..'' sapa mbak iren


Aku melirik nya sekilas dan memberikan senyuman terpaksa, aku nampak sekali lesu dan lusuh


   '' eh.. Kenapa dengan mu..'' mbak iren menghampiri ku


Apa yang ia pikir kan tentang ku saat ini, apa ia berpikir aku ini terlalu buruk kah, sampai ia memperhatikan ku secara intens


'' aku gak apa mbak..'' ujar ku sambil berjalan gontai


  '' Ndak mungkin? Pasti nya ada apa-apa toh pada mu..'' saut mbak iren meragukan jawaban ku barusan


   '' kurang tidur aja mbak..'' alibi ku agar mbak iren tidak mengintrogasi ku


  '' kurang tidur kenapa, apa kamu melekan..'' tanya mbak iren lagi

__ADS_1


   '' iya.. Mata ku melek, ga gara lihat film Drakor mbak.. aduh.. alur cerita nya itu loh mbak, sedih banget..'' ujar ku menangis Bomba


Tentu nya aku hanya berpura-pura menangis saja tidak beneran aku menangis nya


  '' film Drakor kok jadi penutan toh..'' ujar mbak iren berdecak sebal


   '' soal nya seru mbak, apa lagi lihat istri nya yang selalu di tinggal pergi suami nya, kadang pulang ya.. kadang gak pulang..'' saut ku asal


  '' la.. Emang nya suami nya Ndak di rumah toh, apa suami nya selingkuh..'' ujar mbak iren lagi


  '' gak tau mbak, alur cerita nya seperti itu kok..'' jawabku


Tentu saja aku asal bicara, karena aku tak mau mbak iren menatap ku dengan tatapan curiga


  '' gak ada salah nya kalau mbak ikut coba nonton, apa judul film nya biar tak carik nanti di internet..'' celetuk nya


  '' aduh.. Hanum lupa mbak .'' saut ku pura-pura lupa


  '' gimana sih, giliran di minta judul malah lupa .'' sungut mbak iren


 aku tak menanggapi mbak iren, biar kan saja ia marah pada ku hari ini, aku bergegas masuk ke dalam ruangan ku


   '' gak tau aja mbak iren, aku yang jadi peran utama nya..'' sungut ku sambil membanting tubuh ini di sandaran sofa


'' lama-lama pusing juga kalau begini, sudah seperti janda tanpa status ini..'' kesal ku


Tak mau ambil pusing tentang mas imam, aku memilih mengerjakan tugas kantor yang menumpuk


   '' hidup kok bisa seribet ini ya..''


Sesekali aku menghentikan pekerjaan ku, dan sesekali celetukan keluar dari mulut ku ini, entah siapa yang mendengar nya hanya berbicara dengan angin saja


  '' mbak ayo makan siang .'' ajak ku pada mbak iren


'' aduh...'' ujar mbak iren


Ia berbalik dan menatap ku, seketika aku menertawakan tingkah konyol nya, lihat lah, bagai mana aku tidak tertawa mulut nya penuh dengan mie


  '' ya.. ampun mbak, di Telen dulu itu makan nya..'' tunjuk ku pada mulut mbak iren


Dengan susah payah mbak iren menelan makanan nya membuat ku tertawa kecil melihat nya dengan mulut penuh

__ADS_1


...****************...


__ADS_2