
" aku benar-benar tidak bisa, jangan paksa aku, mungkin setelah Hanum sembuh total, baru aku bisa menuruti apa yang kau pinta.." ujar nya pula
Tak mau ambil pusing, aku berjalan ke arah kamar dan menutup pelan pintu, terlihat mas imam sedikit terkejut dengan kehadiran ku
Tapi aku memilih pura-pura tak tau saja, apa yang sedang ia lakukan dan apa yang sedang ia bicarakan
" Hanum.." ujar nya terkejut
" Hem.." saut ku singkat
Aku menyahut handuk dan berlalu ke kamar mandi, meninggal kan mas imam dengan keterkejutan nya padaku
Hanya butuh lima belas menit kini aku telah Selesai mandi, dan aku keluar hanya menggunakan handuk mandi saja,
tak memperdulikan tatapan mas imam ke arah ku, terserah ia mau memandang ku seperti apa, aku tak perduli
Ku cepat kan langkah kaki ku mengarah ke lemari mencari pakaian ganti ku, karena aku tadi tak membawa nya ke kamar mandi
Selesai memakai perlengkapan ku, kini aku berjalan ke meja rias, di mana aku mempoles diri ku sesederhana mungkin
" jangan pakai bedak dek..," larang nya pada ku
Sejenak ku hentikan aktivitas ku menoleh ke arah nya, menatap nya dengan bingung
" Kenapa.." tanya ku pada mas imam
" setau ku orang hamil tak boleh menggunakan itu, sampai nanti melahir kan.." seru nya
Aku tak memperduli kan perkataan nya, karena bagi ku berpoles adalah kegemaran ku sejak aku duduk di bangku SMP
" oh.." hanya itu saja yang keluar dari mulut ku
Toh..aku merasa baik-baik saja, kenapa mesti di larang membuat ku mencabik kan bibir kesal kepada nya
" kenapa hanya itu sautan nya, apa adek tidak takut terjadi apa-apa nanti pada anak kita.." ujar mas imam lembut sambil mengelus lengan ku
" aku tidak perduli itu." Gumam ku berdecis menatap nya sinis
" dek.. masih marah kah..." Pertanyaan yang berulang kali menurut ku
" jangan tanya kan aku masih marah apa tidak, kalau mas tau jawaban nya.." saut ku marah
Seketika aku langsung meninggal kan nya begitu saja, walau pun kondisi tubuh ku kurang memungkin kan, aku tetap memasakan diri untuk keluar dari kamar ku sendiri
__ADS_1
Sedang kan mas imam semula yang hendak meraih ku kini terbengong melihat kepergian ku dengan kemarahan yang memuncak
" kak.. mau kemana.." tanya Kahfi ketika kami saling berpapasan ketika aku hendak keluar kamar begitu juga dengan Kahfi
" gak kemana, cari suasana sejuk aja.." ujar ku pada Kahfi dan meloyor pergi begitu saja
" suasana sejuk gimana kak.." panggil Kahfi
Namun sayang nya aku telah jauh dari nya, aku tak ambil pusing dengan teriakan Kahfi yang bertanya pada ku
Ku langkah kan kaki ini ke arah ruko sebelah tepat di samping rumah mama dan papa
Proses rumah masih berjalan separuh nya karena permintaan yang terlalu ribet dan aneh membuat arsitek mau pun tukang nya harus ekstra sabar menghadapi kami semua
" assalamualaikum mbak Lala.." sapa ku dengan ramah
mbak Lala menatap ku dengan intens, mungkin mbak Lala heran dengan kedatangan ku setelah sekian lama
" Waalaikumsallam nona cantik.. loh kok kemari,, kata nya gak sakit.." tanya mbak Lala heran
" Sakit apa, orang sehat gini kok.." elak ku, tentu saja aku kurang sehat karena aku baru saja keluar dari rumah sakit tadi siang
" mama mana mbak, gak jadi Dateng.." tanya nya lagi
Ya.. biasa nya mbak Lala akan mempromosi kan barang baru dan menjual secara online mau pun of online
" Tepat nya sih, belum mulai, kamu mau temani mbak mu ini kerja..," ajak nya
Tanpa pikir panjang aku hanya mengangguk setuju dengan ajakan mbak Lala,
Toh.. bagiku tidak ada rugi nya, karena aku bisa terhibur dengan komen para penonton setia mbak Lala
Ada saja kadang membuat tertawa tapi tidak sepenuh nya menyenang kan, terkadang ada yang membuat kita patah semangat kalau kita ambil hati.
" nah.. gitu dong, mbak mu ini kan jadi semangat untuk kerja.. ada temen nya.." cetus nya sambil tersenyum senang
Aku hanya memandang nya menyiap kan semua perlengkapan live dan tak lupa camera ponsel yang ia punya
Mama memang memberi kan mbak Lala ponsel kerja, setiap tahun nya pasti berganti karena mama tau kebutuhan mbak Lala ada di ponsel
Dua jam berlalu, kami berada di depan layar ponsel yang menyala dengan barang-barang yang di jual
Kami berdua sudah seperti tertimbun sampah, tapi masalah nya semua ini lah sumber penghasilan mama
__ADS_1
" pengap mbak.." ujar ku bergeser sedikit
" mau keluar aja atau mau apa.." tanya mbak Lala pada ku sedikit khawatir
" mau minum dingin mbak, ada gak.." tanya ku pada mbak Lala
" ada,, sebentar mbak ambilin dulu." ujar mbak Lala berlalu pergi meninggal kan ku sendiri di depan layar ponsel yang sudah mati dengan di penuhi barang jualan mbak Lala yang menumpuk di dekat ku
'' Hanum..'' panggil mas imam masuk ke ruang live
Sejenak ku menoleh ke arah nya dan menatap nya tanda bertanya
'' ternyata ada di sini, mas tadi mencari kamu..'' ujar nya bingung hendak masuk lewat mana
Karena melihat ke sekeliling ku penuh semua, mas imam sampai garuk kepala bingung sendiri
'' tunggu di luar saja..'' suruh ku pada nya
Mas imam mengangguk samar, dan berlalu melipir pergi ke arah luar kembali meninggal kan ku seorang diri
tak berapa mbak Lala datang dengan segelas minum dingin membuat ku tergiur dengan apa yang di bawa mbak Lala
'' ini pesanan mu.. Untung saja masih ada jus mbak di dalam kulkas..'' ujar mbak Lala sambil tersenyum sumringah menatap ku
'' keliatan nya seger ya.. Mbak..'' ujar ku menerima segelas air dingin dari tangan mbak Lala
'' memang segar.. Mbak aja sering beli di tempat jual es buah di depan simpang mau masuk ke mari..'' ujar mbak Lala
'' eemmm... Seger nya mbak..'' ujar ku ketika jus buah naga masuk ke dalam tenggorokan kan ku
Manis dan segar, membuat ku ketagihan dengan rasa nya
'' masih ada lagi mbak..'' tanya ku ketika tenggakan terakhir ku habis kan
'' sudah habis.. Kalau mau besok mbak bawa kan untuk mu..'' ujar mbak Lala tersenyum manis
Sedikit ada rasa kecewa ketika keinginan ku tak terpenuhi, walau pun aku sudah meminum nya segelas penuh,
Tapi ketika permintaan ku di tolak kok rasa nya sesedih ini ya
'' kamu kenapa Hanum..'' tanya mbak Lala sedikit panik
Ketika melihat ku hanya diam di tempat dan air mata ku luruh seketika
__ADS_1
...****************...