
Kehamilan ku sudah menginjak empat bulan, perubahan demi perubahan ku rasakan di dalam tubuh ini
Apa lagi ketika bangun tidur, pasti selalu ada yang berdetak atau kedutan di dalam perut ku
" yang sayang sama mama ya nak.. kita akan berjuang melawan pahit nya kehidupan.." ucap ku pagi ini di kala ku rasa kan ada nya kedutan di area perut
Ku elus dengan sayang, makin hari, perut ku semakin bertambah besar dan ku rasakan ada nya tanda-tanda kehidupan di perut ku
Walau pun mas imam tetap sama, kalau melakukan kesalahan tetap meminta maaf,
Tapi aku sudah bosan dengan kata-kata itu, tapi esok nya di ulang lagi di ulang lagi
Apa lagi kini kami sudah menempati rumah baru yang di janji kan oleh papa pada kami
Walau pun mas imam berada tepat di samping ku, namun hati nya saat ini entah berada di mana
" ada apa.." tanya mas imam dari belakang tubuh ku
Seketika aku menoleh ke atas dan mendapati wajah mas imam tengah melihat ke arah ku
" tidak ada apa-apa.." saut ku singkat
" tapi tangan mu ke arah perut terus apa ada yang sakit, sehingga kau mengelus nya.." tanya mas imam mengerut kan kening
Aku tak menjawab pertanyaan itu biar lah mas imam jadi penasaran atas kondisi ku saat ini
Aku memilih beranjak dari atas ranjang dan meninggal kan mas imam sendiri dengan sejuta kebingungan nya
Aku tak tau sampai kapan perihal ini akan berakhir, kalau saja terus begini, aku yang akan pergi secara diam-diam nanti, lihat saja
Aku saat ini memang masih diam, bukan aku tak tau suami ku tengah bersama Karin kembali
Mereka seakan lupa dengan status mereka masing-masing, apa lagi mas imam, ia tengah lupa memiliki aku dan juga Beby yang ada di dalam perut ku
Tapi aku tak mau ambil pusing, aku masih memikir kan kewarasan ku dan kesehatan Beby ku, biar kan saja mereka berbuat semau mereka
" Ku antar atau berangkat sendiri.." tanya mas Ima pada ku
__ADS_1
" Biar aku berangkat sendiri.." saut ku singkat
Tak mau ambil pusing perihal kendaraan yang akan membawa ku, ku langkah kan kaki ku ke arah dapur
Pagi ini perut ku sudah keroncongan sekali, padahal tadi malam aku makan jam sembilan, tapi perut ku masih tetap lapar di pagi hari
" mau makan apa mbak Hanum.." tanya art ku
Ya.. walau pun hidup berdua, aku tidak sanggup untuk mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, dan bekerja di kantor lagi
Alhasil aku menyewa seorang art u tuk mengurus rumah dan juga makanan kami berdua
" Ibu masak apa hari ini.." tanya ku pada buk eka. Tapi aku lebih suka memanggil nya dengan sebutan ibu
" masak terong sambel sama tumis bayam mbak, mau. Kalau mau biar ibu siap kan, karena hanya ini yang tersisa di kulkas.." ujar nya
" mau Bu.. aku sudah lapar sekali, perasaan sekarang aku jadi mudah lapar ya.." saut ku pada Bu Eka
" biar saya siap kan mbak, lagian semua sudah matang, tinggal hap. .. aja, langsung masuk perut.." ujar bu eka, membuat ku tertawa kecil
Tak berapa lama semua masakan sudah terhidang di hadapan ku, ketika aku hendak makan, mas imam pun muncul tepat di samping ku
'' makan gak ajak- ajak ya.." ujar nya tersenyum pada ku
'' makan tinggal makan, siapa yang larang..'' ujar ku cuek
'' kenapa sih.. Beberapa bulan ini ketus sekali, asal di tanya selalu jawab nya singkat terus..'' ujar nya pada ku lagi
'' mas... Aku lagi mau makan.. Bisa tidak, tak usah membahas yang tak penting.. Bikin selera makan ku hilang saja..'' ujar ku menatap mas imam jengah
'' oke..oke.. Silah kan makan tuan putri..'' ujar nya mengalah dan duduk di tempat biasa
aku menatap nya sekilas dan memulai mengisi Nasih ke piring begitu juga dengan lauk nya, mas imam biar kan saja situ, apa perduli ku
selesai makan, aku pun beranjak pergi tanpa bersuara sedikit pun, tak menghirau kan tatapan mas imam yang aneh kepadaku
'' Bu.. Hanum berangkat kerja..'' teriak ku dari ruang tamu dan berlalu ke depan setelah mendengar sautan dari dapur
__ADS_1
'' dek.. tunggu..'' panggil mas Imam
seketika aku menoleh ke arah belakang, dan mendapati mas imam berjalan ke dekat ku, entah mau apa lagi mas imam ini, aku hanya menanti apa yang akan ia katakan pada ku
'' biar mas antar kan saja ya... Nanti pulang nya di jemput, biar tidak kesusahan berkendara sendiri..'' ujar mas imam menawar kan diri
'' tidak perlu mas, aku masih bisa mengendarai mobil ku sendiri, lagian nanti mas antar, pulang nya belum tentu mas tepat janji kan..'' ujar ku dengan malas
Aku sudah tau tabiat mas imam, mengantar ku, tapi tidak dengan menjemput ku, aku tau ia sedang bersama Karin, tapi aku tidak pernah mau menegur nya sama sekali
'' kenapa berbicara seperti itu, maaf.. Kemarin-kemarin memang mas yang salah, tidak memberi tahukan kalau mas sedang ada rapat..'' ujar mas imam
'' oh..ya.. Rapat dengan Karin maksud nya,, sudah lah mas.. Jangan berbual lagi, aku tau yang sebenar nya, namun aku tak mau ada keributan, aku sudah lelah mas..''' ujar ku terkekeh kecil menatap mas imam
ku lihat mata mas imam menatap ku dengan tatapan terkejut, entah perkataan ku benar ada nya, entah juga memang aku salah dalam berucap, biar kan saja
aku pun berlalu pergi tanpa menghirau kan mas imam yang terbengong dengan ucapan ku pada nya
Ku langkah kan kaki ku berjalan cepat ke arah luar, bukan nya aku lari dari masalah, tapi selalu masalah yang sama terus yang ku hadapi selama beberapa bulan ini
'' dek.. Tunggu, adek salah paham..'' ternyata mas imam mengejar ku, tapi aku tidak menghirau kan nya
Memilih menancap gas mobil berlalu ke jalan raya tanpa menghirau kan teriakan mas imam yang memanggil ku terus menerus
sesampai nya di kantor, ku parkir kan mobil ku seperti biasa dan masuk ke dalam di sambut dengan mbak iren yang terlihat lesu dan penuh tempel di kening nya
'' ada apa mbak, kok banyak sekali tato nya .'' ujar ku terkekeh kecil melihat kening mbak iren
'' ngejek aja kerjaan nya kamu itu,, gak tau apa, kepala mbak lagi mumet ini..''' dengus nya menatap ku
'' lebih mumet gak punya kepala mbak..'' saut ku terkekeh kecil
'' dasar semprol sana kamu..'' usir nya pada ku,
Aku pun memilih untuk pergi, tidak mau meledek nya lagi karena aku pun sedikit kasihan melihat mbak iren
...****************...
__ADS_1