
Rasa nya dada ini sesak sekali seakan mendidih rasa nya melihat suami ku masih memikir kan kekasih nya, lebih tepat nya mantan kekasih nya
Sesampai nya di kantor, semangat ku sudah berkurang, rasa malah menyerang ku seketika
Mbak iren yang berulang kali menyapa ku saja ku abai kan begitu saja,
Membuat ku uring-uringan ketika memegang komputer mau pun kertas atau yang lain nya
Bawaan malas menyerang ku sampai ke siang hari, rasa malas itu tetap ada, tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk menghilang kan rasa malas tersebut
Sampai-sampai mbak iren datang berulang kali mengajak ku untuk makan siang bersama dengan nya
'' ayo makan siang di luar .'' ajak mbak iren kembali siang ini ketika waktu istirahat sudah masuk
sejenak ku tatap wajah Mbak iren yang sejak pagi tadi ku abai kan, rasa iba ku mulai merayap di hati melihat Mbak iren yang tak pernah menyerah mendatangi ku
'' mau makan di mana..'' tanya ku pada mbak iren dengan malas-malasan
'' ke tempat yang waktu itu, tapi kamu yang bayar ya .'' ujar nya dengan terkekeh kecil kepada ku
'' ye.. Itu sih.. Mau nya mbak iren aja..'' saut ku sebal
'' ya.. Emang.. Kamu mau nggak..'' tanya nya lagi
'' ya..udah.. Ayo..'' ku ambil tas ku tak lupa mematikan laptop sejenak dan berjalan mengikuti langkah mbak iren
Kami pun berangkat dengan mbak iren membawa mobil ku itu, dengan malas sekali aku naik ke samping kemudi
'' jangan lesu gitu dong, yang semangat .'' ujar mbak iren dengan tersenyum lebar di depan ku
Bukan nya tersenyum, aku malah menatap nya sinis, membuat mbak iren malah terkekeh kecil melihat ku
entah apa yang lucu, mungkin mbak iren hanya menghibur ku saja saat melihat ku murung sejak pagi tadi
__ADS_1
'' aku deh.. Yang pesan kan makanan nya..'' ujar nya dengan semangat ketika kami sudah duduk
'' ye.. Itu sih.. Mau nya mbak iren ya..'' saut ku dengan mendengus sebal
'' kamu tau aja.. Abis nya.. Enak sih.. Makan di sini, kalau makan sendiri gak sanggup gaji nya, kalau sama kamu kan, otomatis kamu yang bayar, jadi gaji mbak gak berkurang sama sekali, bisa untuk nabung.. Nambah nambahin untuk ngirim uang ke ibu di kampung....'' ujar nya menaik turun kan ke dua alis nya
mbak iren saja masih memikir kan ibu nya di kampung, padahal ia saja kesusahan, sedang kan aku, hemm. entah lah,
Mama ku sudah berlebihan apalagi papa, jangan di tanya, papa memiliki aset banyak apa lagi papa dapat warisan dari almarhum opa dan Oma nya
belum lagi sebidang lahan yang di berikan oleh nenek dan kakek yang ada di kota E, mungkin uang ku belum ada apa-apa nya dibanding kan dengan mereka
Tapi jika seorang anak ingin berbakti kepada ke dua orang tua nya, tidak perlu dengan uang yang banyak bisa membuat ke dua orang tua bahagia saat saja sudah cukup kan
'' mbak selalu ya.. Kirim ke kampung begitu..'' tanya ku menatap mbak iren serius
'' ya.. harus dong, selagi orang tua masih ada dan masih bisa mendoa kan kita yang jauh di sini, kita kan sebagai anak wajib berbakti kepada ke dua orang tua..'' ujar mbak iren serius
Aku yang di tanya mendadak diam di tempat, dan menggeleng pelan, pasal nya aku yang jadi anak jarang memberi sesuatu yang sepesial
Karena menurut ku semua yang akan ku beri, mama sudah memiliki nya, dan apa lagi yang harus ku beri kepada mama dan papa
'' iisss... Ndak boleh gitu.. Kamu ini, padahal uang punya, kerjaan juga netap kan, karena kerja di perusahaan sendiri .'' ucap mbak iren
Aku kembali mengangguk kan kepala ku lagi di depan mbak iren
'' sesekali kasih lah ke dua orang tua mu, walau pun mereka sudah memiliki segala nya, namun berbeda dengan kita yang memberi nya, walau nilai nya tidak seberapa, tapi bagi mereka itu sangat berharga tau..'' ujar mbak iren mendengus kesal pada ku
'' boro-boro mau ngasih mbak, semua yang aku mau malah di kasih sebelum aku minta, terutama jodoh ku..'' ujar ku terkekeh kecil mengingat bagai mana awal mula aku menikah dengan mas imam
'' itu tanda nya orang tua kamu sayang banget sama kamu, dan kami berbakti sama ke dua orang tua itu sih..'' saut mbak iren terkekeh kecil
Tak berapa lama pesanan yang di pesan mbak iren datang dan kami terdiam sambil menikmati makanan yang telah tersaji di depan kami
__ADS_1
aku masih memikir kan perkataan mbak iren barusan, apa aku kurang berbakti pada mama dan papa, atau aku kurang bersyukur atas nikmat yang telah di berikan kepada ku
Sampai-sampai aku harus menerima ujian yang begitu berat menurut ku di kala menikah dan mendapat kan pasangan yang kurang sayang pada ku
ah.. Sudah lah, lebih baik ku nikmati makan ku ini dari pada memikir kan yang bukan-bukan
Yang ada aku akan bertambah sakit hati nanti nya jika memikir kan hal itu lagi, apa lagi akhir-akhir ini kerjaan ku selalu marah dan marah terus
Selesai makan, kami berbincang-bincang sebentar dengan mbak iren, sampai aku mendengar suara gelak tawa seseorang yang begitu tidak asing di telinga ku
'' ada apa..'' tanya mbak iren kepada ku
Ketika aku celingukan mencari sumber suara tersebut sampai aku menemukan titik di mana mereka berada
'' kenapa sih..'' tanya mbak iren lagi
Namun aku hanya diam dan tatapan ku hanya pokus pada dua orang yang baru masuk dan bersenda gurau tanpa menyadari keberadaan ku saat ini
'' hei.. Kamu mau kemana..'' mbak iren terlihat panik ketika aku beranjak dari duduk ku ini
Untung nya makanan yang kami pesan sudah ku bayar di awal, jadi aku tak usah repot-repot membayar nya lagi dan tak perlu takut di kejar para pelayan nya
'' ini anak mau kemana sih, kenapa kesurupan begini, bikin aku takut aja..'' dengus mbak iren tapi tetap ku hirau kan
'' bagus ya.. Mas, kayak nya aku tak perlu lagi mencari bukti akan kesalahan mu, tapi lihat lah, mas sendiri kan yang membuat ku seperti ini..? Ujar ku bersedekap tangan di dada
Kulihat mas imam mau pun Karin terkejut dengan kehadiran ku, mereka sama-sama menoleh ke arah belakang mereka di mana aku berada
''. Ha..num.. Panggil mas imam gugup
Pasal nya aku berdiri tepat di belakang nya, dan ketika ia menoleh, tentu saja pandangan diri ku yang sedang berdiri di belakang nya
...****************...
__ADS_1