
'' segitu marah nya kamu sama mas .'' ujar mas imam tertunduk lesu
Aku hanya diam membiar kan mas imam berkata sesuka hati nya aku tak mau ambil pusing dengan semua yang ada
'' mas minta maaf sama kamu .'' ujar mas imam lagi
sungguh bosan sekali mendengar kata maaf mas imam, toh besok akan di ulangi lagi di ulangi lagi,
Tak menjawab aku banyak diam, walau pun aku tak tau kondisi tubuh ku saat ini dan aku sedang sakit apa saat ini
'' mas.. Mengaku sal...
Perkataan mas imam terjeda sejenak di kala ada ketukan pintu dan mengucap kan salam, aku segera menoleh ke arah pintu begitu juga dengan mas imam
'' assalamualaikum..'' ucap seseorang lalu membuka perlahan pintu nya
Kami berdua hanya pokus ke arah pintu siapa kan gerangan tamu yang datang tersebut
" waalaikumsallam..," saut ku lirih menatap ke arah pintu
'' Hanum..'' mama muncul dari ambang pintu kini terlihat lah mama dan papa sedang berada di sana
'' ya.. Ma..'' saut ku ketika mama mendekat
'' kamu tidak apa kan sayang, mama menghawatir kan mu .'' ujar mama memutari brangkar ku, karena ada mas imam di sebelah kanan ku
" gak apa kok ma... Lihat kan, Hanum tidak kenapa-kenapa.." ujar ku pada mama agar tidak terlalu panik dengan ku
" Hanum sakit apa imam.. kenapa sampai di bawa ke rumah sakit, apa Hanum kecelakaan.." mama menodong mas imam dengan sejuta pertanyaan
Aku pun memang belum mengetahui sakit ku apa, tapi aku enggan untuk bertanya pada nya lebih baik aku diam
" Hanum hanya pingsan ma, aku panik malam itu.. maka nya aku bawa kemari, ternyata sampai di sini Hanum harus menjalani pengobatan rawat inap karena tekanan d*r*h nya rendah, di tambah lagi Hanum sedang mengandung.." ujar mas imam sambil menunduk
Dengan cepat ku elus perut ku yang masih rata, ternyata sudah ada kehidupan lain di dalam perut ku
" maaf ma.. aku tidak becus mengurus Hanum, aku lalai sampai tidak tau kesehatan Hanum menurun.." ujar mas imam menunduk kan kepala nyaerasa bersalah kepada mama
Mama terdiam begitu juga dengan ku yang sejak tadi mendengar berita ini, tak tau aku harus bahagia atau bersedih dengan semua ini
__ADS_1
" kenapa gak ada yang kasih kabar sama mama sih.. mama dapat kabar mendadak, kan jadi panik.." ujar mama mengomel
" hanum gak apa ma . Hanum sehat sehat saja kok.." Ujar ku pada mama
Memang sejak awal aku tidak merasakan ada nya hal aneh dan perubahan di dalam diri ku
" maaf ma.. imam panik malam itu.. sampai gak teringat mengabari mama.." ujar imam lagi
Mama berulang kali memeluk dan mengelus kepala ku begitu juga dengan papa yang semakin mendekat ke arah ku
Begitu besar nya kasih sayang ke dua orang tua ku pada ku, membuat ku semakin sayang kepada mereka
" sudah makan belum.." tanya mama pada ku dengan suara lembut
aku hanya mengangguk samar, karena memang sebenar nya aku pun sudah makan sebelum mama kemari
" mau cemilan apa gitu, biar papa belikan.." tawar papa
Sejenak ku berpikir, namun tidak ada satu pun yang ada di pikiran ku tentang makanan yang menggugah selera ku
" gak pa.. Hanum hanya butuh istirahat saja.." pinta ku
" sudah berapa bulan kandungan Hanum.." tanya mama pada mas imam
Mama bergeser posisi menjadi memutari brangkar ku ke arah kanan
" sudah lima Minggu ma.. " ujar mas imam.
Aku hanya bisa mendengar kan sambil memejam kan mata, karena menurut ku pembicaraan mama dan mas imam tidak terlalu menarik
***
Hingga dua hari aku berada di rumah sakit, kini aku sudah berada di rumah atas izin dokter dan mewanti-wanti mas imam tidak membuat ku terlalu stress
Mama yang mendengar itu menatap mas imam begitu juga papa, namun mereka tidak mau berdebat di depan dokter dan hanya mengiyakan saja
" mau di ruang tamu atau kekamar langsung kak.." tanya papa yang memapah ku
Sedang kan mas imam sibuk mengeluarkan barang bawaan ku dan mama mengambil kan air minum
__ADS_1
" mau di ruang tamu aja pa.. aku bosan berada di atas ranjang terus.." saut ku apa ada nya
" baik lah, tunggu sebentar di sini, papa ambil kan bantal dulu.." ujar papa
Sebenar nya aku sudah tidak apa-apa, hanya saja kepala ku terkadang pusing bukan main dan tidak berselera untuk makan apa pun kecuali buah
Walau pun dokter sudah memberikan vitamin dan penambah nafsu makan, tapi tetap saja mulut ini tak mau makan juga
" geser dulu.. biar papa taruh bantal di belakang kamu.." ujar papa penuh dengan perhatian
" ini minum kamu .." mama menyodor kan segelas air putih kepada ku
" makasih ma.." aku tersenyum sambil menerima minum yang di berikan oleh mama
" iya.. sama-sama.." saut mama
Ku minum hanya separuh nya saja, selebih nya ku letak kan di atas meja sofa,
Mama duduk di dekat ku, sedang kan papa menyala kan televisi, agar aku tidak bosan duduk kata nya
Sedang kan mas imam, mungkin ia saat ini sedang mandi membersih kan diri, kerena tadi di rumah sakit ia tak sempat membersih kan diri
Hingga sore hari, aku perlahan berjalan ke arah kamar, karena aku ingin mandi, tadi mas imam memang menemani ku di saat mama dan papa tidak di samping ku
Tapi ketika mama dan papa balik lagi, ia memutus kan untuk beristirahat di kamar karena mengantuk kata nya
" bisa jalan sendiri tidak kak,.. kalau tidak bisa, biar papa bantu.." seru papa memperhatikan ku
" masih bisa pa.. aman terkendali.." kekeh ku pada papa
Papa hanya geleng kepalaelihat ku yang terkekeh kecil, papa melanjut kan langkah nya ke arah dapur
Berbeda dengan ku yang melangkah kan kaki ku ke arah kamar, namun belum sempat ku buka pintu kamar
Ternyata pintu kamar tak tertutup dengan rapat, sehingga aku jelas mendengar ada suara seseorang sedang bercakap-cakap melalui panggilan telepon
Ku geser sedikit pintu kamar ku, mengintip ke dalam, ternyata mas imam sedang menelpon tapi entah dengan siapa ia berbicara saat ini
" maaf Karin, aku tak bisa menuruti mau mu sekarang, aku tak bisa pergi.." ujar mas imam setengah prustasi
__ADS_1
Sedang kan aku hanya menatap punggung nya saja, kini ia tidak sedang menghadap ke arah ku,