
" untuk apa lagi istri sah di samping suami nya, jika sudah ada pelakor setia berada di samping nya, kan sudah ada pelakor, jadi istri sah tidak berarti sama sekali.." celetuk ku
Membuat pupil mata Karin melebar ketika mendapat kan sindiran ku secara terang-terangan di depan semua nya
" kamu ini ngomong apa Hanum... Kenapa kamu mengatakan aku pelakor.." tanya Karin seperti hendak menutupi kesalahan nya
" oh.. ternyata sadar diri kalau kamu pelakor nya... Bagus deh.. gak capek-capek aku ini ngurus suami yang tak pernah anggap istri, dan lebih memilih pelakor nya.. ya.. sudah,, kau urus saja itu kekasih hati mu.." ujar ku santai
Aku tak akan meribut kan satu pria, karena bagi ku lelaki yang tak bisa setia itu tak bisa di pakai sama sekali
Jangan tanya kan tatapan mas imam kepada ku, ia seperti menatap sisi lain dari diri ku saat ini
Tak memperdulikan. Tatapan lelah mas imam, aku hendak berlalu pergi lagi dari sini
Panas sekali melihat mereka berdua tidak menganggap keberadaan mama dan papa ada di sana
" mau kemana lagi kamu Hanum.." tanya mama ketika melihat ku hendak pergi keluar dari ruangan yang menurut ku pengap ini
" mau mencari suami orang yang sayang nya seperti Karin kepada mas imam.." celetuk ku pada mama
Entah mama akan sakit hati pada ku atau bagai mana, aku tidak memperdulikan nya sedang kan papa hanya bisa geleng kepala saja menatap ke arah ku
" Hanum.." panggil papa ketika aku hendak memutar handle pintu
Sejenak ku hentikan langkah ku dan menoleh ke arah papa yang menatap ku dengan tatapan yang susah ku artikan sama sekali
" ya.. papa.." ujar ku pada papa
" kamu berbicara yang benar kepada mama mu, tidak baik melibat kan satu masalah dan membuat mama mu sakit hati, papa tidak pernah marah jika kamu membentak mama mu di depan papa, tapi berbicaralah yang benar di depan mama mu ini.. karena mama mu ini lah yang melahir kan mu,, masalah mu ada di mana, jangan libat kan mama atas sakit hati mu.." ujar papa dengan lembut
Membuat ku memutar bola mata malas,, dan menatap jengah ke arah dua orang yang sejak tadi memperhatikan ku
Terpaksa aku memutar kembali tubuh ku dan melangkah ke arah mama dan papa,
__ADS_1
" maaf ma.. bukan maksud Hanum menyakiti mama..," ujar ku tulus pada mama ku
" iya.. mama ngerti kok. Bagai mana perasaan mu, mama sudah memaaf kan mu kok.." ujar mama tersenyum lebar pada ku
" om.. Tante,, aku pamit pulang dulu ya.. dan kamu yang,, lekas sembuh ya.." ujar nya pamit pada mama dan papa dan juga pada mas imam
Apa kata nya tadi, Yang.. membuat ku mau muntah saja, tidak ada lagi panggilan tersayang selain kata yang
" iya.. makasih loh Karin.. sudah mau jenguk imam .," Ujar mama tersenyum lebar pada Karin
Melihat senyum di wajah Karin, membuat ku kesal dan ingin mencakar Wajah nya itu
Setelah kepergian Karin, mama dan papa juga beranjak hendak mencari makanan untuk kami makan malam
" Ma.. aku mau pulang aja deh.." ujar ku pada mama
" kamu ngomong apa sih.. suami mu lagi kemalangan.. kamu mau pulang.." ujar papa menatap ku tak percaya
Membuat ku menghela nafas panjang ketika papa sudah berbicara pada ku
" masih mau pulang atau tetap di sini.." tanya papa
" Hanum di sini pa.." saut ku singkat
Pilihan yang berat menurut ku, karena aku sebenar nya malas berdua di ruangan yang sama dengan mas imam
Setelah kepergian papa dan mama, aku memilih duduk di sofa yang di sediakan di sini, tak mau mendekat ke arah mas imam
'' Hanum..''' panggil mas imam pelan
Aku pura-pura tak mendengar nya, ku alih kan diri ku dengan mengambil ponsel yang ada di dalam tas ku
'' Hanum.. Sini..'' ujar mas imam lagi menyuruh ku untuk mendekat ke arah nya
__ADS_1
aku tak mau mendengar kan mas imam, dan menuruti permintaan nya, biar kan aja ia sendiri di sana, aku tak mau perduli lagi
ku lirik sekilas mas imam menurun kan ke dua kaki nya dari atas ranjang, dan menarik tiang infus yang tidak jauh dari nya
Setelah berhasil menarik tiang infus nya, perlahan berjalan ke arah ku dengan tertatih-tatih
sebenar nya aku pun iba dengan kondisi mas imam saat ini, namun mau bagai mana lagi, aku tak bisa mengubah perasaan ku saat ini yang telah terbakar amarah
'' boleh aku duduk..'' ujar mas imam lirih
membuat ku bergeser ke samping menyisihkan tempat duduk untuk nya tanpa bersuara sama sekali
'' aku minta maaf atas perlakuan ku selama ini, ku akui aku memang salah pada mu, salah ku banyak sekali pada mu, sehingga tidak terbilang lagi..''
'' sekarang terserah padamu, aku pasrah akan keputusan mu saat ini, makin di tahan makin membuat mu tersiksa berada di sisi ku, mungkin jalan terbaik untuk kita adalah berpisah..'' ujar nya menghela nafas panjang
Sejenak ku tatap wajah nya yang menatap lurus ke depan, dengan aku kembali menatap kenarah ranjang yang kosong
'' setelah keluar dari rumah sakit, dan ke adaan ku pilih, aku akan mengatakan niat ku kepada mama dan papa, dan aku yang akan mengurus semua nya, kau tak perlu repot-repot datang ke persidangan nanti nya..'' ujar nya lagi menatap ke arah ku
'' bagai mana menurut mu..'' tanya nya pula
aku yang di tanya hanya diam, harus menjawab apa aku ini, sebenar nya aku pun ingin berpisah dari nya, karena aku tak sanggup lagi untuk melihat mas imam terus menerus berduaan dengan Karin
'' hei.. Jangan diam saja, tolong jawab aku..'' ujar mas imam mencolek dagu ku
'' terserah kamu saja mas.. Karena aku memang sudah tak tahan melihat mu dengan Karin..'' aku ku jujur
'' maaf, memang aku yang salah sejak awal, aku yang terlalu egois sejak awal, sekarang aku sadar diri, jika kau keberatan mengurus anak ku nanti, boleh kau antar kan dia secara baik-baik kepada ku.. Aku juga tidak akan lupa memberi nya nafkah.. Karena itu memang kewajiban ku pada nya..'' ujar mas imam lagi
ketika aku hendak menjawab, ucap salam terdengar dari balik pintu kamar inap mas imam,
Secara serempak kami pun menoleh ke arah pintu yang perlahan terbuka tersebut, ternyata mama dan papa yang datang
__ADS_1
Mama dan papa membawa makanan yang hendak kami makan malam ini