Putri Yang Hilang 2

Putri Yang Hilang 2
Hanum 53


__ADS_3

'' kamu ngerti aja maksud mbak..'' saut nya sambil tertawa menutup mulut dengan telapak tangan nya


'' gak usah takut, biar Hanum yang bayar mbak, mbak pilih aja menu yang mana mbak suka..'' suruh ku


Tentu saja dengan cepat mbak iren memilih menu yang ia mau begitu pula dengan ku


Selesai makan, kami bergegas kembali ke kantor, karena jam kerja masih ada dan kami masih memiliki tanggung jawab penuh di kantor


Begitu lah keseharian ku selalu, di rumah bagai patung yang tak bersuara, dan ketika di kantor menjadi pribadi yang beda


Karena di kantor aku memiliki lawan bicara yang bagus, jika di rumah, memandang mas imam saja sudah seperti memandang musuh yang akan datang mendekat


***


Tak terasa begitu cepat pula hari berganti begitu juga dengan bulan.Hari berganti bulan berlalu begitu cepat tanpa ada kendala sedikit pun di kehamilan ku ini


Aku pun tak pernah mengabai kan pemeriksaan untuk kandungan ku, karena aku tak ingin calon anak ku kenapa-kenapa


Jangan tanya kan mas imam, ia tak pernah tau kondisi ku dan tak pernah tau kapan aku jadwal untuk pemeriksaan kesehatan kehamilan ku ini


Seperti hari ini, ia hanya menanyakan naik apa aku berangkat bekerja dan pulang nya bagai mana


   " di antar atau naik kendaraan sendiri.." tanya mas imam pada ku begitu lah setiap hari nya


 Aku memandang nya sekilas sebelum aku menjawab pertanyaan nya,


  " naik kendaraan sendiri.." saut ku singkat pada nya

__ADS_1


Ku lanjut kan lagi makan ku ini, karena aku baru saja menyantap makanan ku mas imam sudah bertanya


   " heem.. di tolak lagi.." ujar nya lesu


   Melihat nya seperti nelangsa membuat ku tak ambil pusing dengan semua itu


  " selalu saja menolak di antar, padahal kandungan nya sudah sebesar itu, apa tidak bisa kau menurun kan ego mu sedikit saja.." kata nya menatap ku penuh harap


Tapi sayang nya telinga ini seakan sudah tuli tak mau mendengar apa pun yang di ucap kan nya


Karena aku sudah terlanjur kecewa berat atas diri nya yang sehari memperlakukan ku dengan baik, dan sehari lagi tidak, begitu lah seterus nya


Apa lagi jika ia sudah berduaan dengan Karin, jangan tanya kan lagi bagai mana sikap nya terhadap ku


    " itu tidak masalah bagi ku, hanya perkara kecil untuk ku.." ujar ku lagi tanpa mengalih kan pandangan ku dari atas piring


Membuat ku secara cepat menatap nya, apa yang ia ucap kan tadi, kata nya aku terlalu egois dan tak memikir kan nya plus tak menganggap keberadaan nya,, wah.. gak bener ini, bukan nya malah sebalik nya ya." Gumam ku dalam hati sebelum ku ledakan bom yang membara di dada


   " lalu aku harus seperti apa.. coba katakan.. harus kah aku menahan suami ku ketika ia terus menerus memikir kan wanita lain, apa kah aku harus mengemis cinta setiap saat di saat suami ku cinta dengan wanita lain, harus kah kehamilan ku ini ku jadikan sebagai alasan menahan suami ku agar tidak kepangkuan wanita lain, apa aku harus bersujud di kaki suami ku ketika suami ku memeluk wanita lain tepat di depan mata ku ini.. lalu aku egois yang mana.. coba jelas kan mas.. jangan hanya kata maaf saja yang keluar dari mulut mas ketika berbuat salah.."


" aku tak masalah mas.. aku di cerai kan hari ini, detik ini juga, aku tak takut hidup menjanda, sejak awal pun aku sudah mengatakan pada mas, pergi saja lepas kan aku, mas malah memilih membuat ku hamil dan sekarang mas dengan mudah nya mengatakan aku terlalu egois.. hah... Mimpi apa aku semalam punya suami yang mau nya selalu benar dan tak punya salah.." ujar ku geleng kepala melihat nya menatap ku terkejut


   " aku tidak seperti yang kau ucap kan Hanum..? Elak nya cepat


'' lagian kau sendiri yang terlalu sombong Hanum, mentang-mentang kau anak orang kaya, bisa berucap seenak nya, kau tidak berpikir bagai mana dengan anak yang ada di dalam kandungan mu, kalau bukan karena anak, mungkin aku sudah meninggal kan mu sejak lama..'' ujar nya terlihat kesal padaku


   " oh..ya..? Saut ku dengan cepat ku ambil ponsel ku dan berdiri menyerah kan nya pada mas imam

__ADS_1


Ia sempat ragu untuk mengambil ponsel yang ku genggam, tapi aku tetap menyodor kan nya


   " lihat sendiri mas, bagai mana kelakuan mu, aku tidak akan berbicara tanpa ada bukti.." ujar ku membuka galeri ponsel ku dan memberikan nya pada mas imam


Dengan ragu ia meraih ponsel ku dan membuka album, dan melihat di sana berjejer rapi setiap pose demi pose berjejer di ponsel ku


  " silah kan kalau mau mengelak lagi mas, terserah pada mu, aku tidak akan pernah meribut kan suatu hal kalau tidak ada bukti nya.." ujar ku sinis


  Ia menatap satu persatu dengan tatapan kaget, sedang kan aku hanya bisa berdecak kesal menatap mas imam saat ini


  '' lagian aku tidak pernah membangga kan kekayaan ke dua orang tua ku mas, asal mas tau, semua itu hanya milik mama dan papa ku, tidak dengan ku, kalau masalah anak mas berat meninggal kan ku, aku tidak masalah mas... toh.. Masih banyak di luar sana wanita yang memiliki anak tanpa memiliki suami, bahkan mereka yang berpacaran saja memiliki anak tanpa ada nya ikatan.. Tapi mereka biasa-biasa saja tuh..''


'' jangan mengatas nama kan anak.. Jika mas ingin berpisah dari ku, berpisah ya.. Berpisah saja mas,, jangan bawa-bawa anak yang sedang ku kandung,, jika mas berat dengan anak, aku akan membawa nya ikut serta dengan ku, mas tenang saja, selama aku masih hidup, anak tidak akan pernah terlantar oleh ku, akan ku buat anak ku kelak hidup enak dan kecukupan tanpa peran mas.. Silah kan kalau mau meninggal kan aku..'' ujar ku pada nya


  " sudah puas kan.. sini ponsel ku.." ujar ku meminta ponsel milik ku


Dengan perlahan ia memberikan ponsel itu pada ku, dengan cepat pula aku meraih nya, lalu beranjak pergi dengan mas imam yang masih terdiam di meja makan


   Berdebat tak pernah berakhir, entah sampai kapan aku akan bahagia, aku ingin hidup damai dan bahagia


  Begini lah nasib ketika menikah dengan seseorang yang belum bisa melupakan masa lalu nya


   Aku memang mencintai mas imam, tapi kalau begini caranya, hati ku terasa sakit bukan main


  Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh, namun ketika melihat mas imam masih memikir kan Karin,


...****************...

__ADS_1



__ADS_2