
Akhir dari kisah ku, tak selama nya perjodohan itu bertahan dengan baik, contoh nya saja kami berdua
Berakhir dengan perpisahan, mas imam sempat memeluk ku untuk terakhir kali nya ketika kata perpisahan itu benar-benar sudah di putus kan
Mas imam meminta satu permintaan terakhir nya di kala berpisah dengan ku, jangan batasi antara ia dan anak nya, aku menyanggupi itu semua
Dengan catatan mas imam hanya boleh menjenguk anak nya kelak hanya seorang diri saja tanpa ikut nya istri baru nya nanti
'' sebenar nya aku belum rela melepas kan mu, tapi ini semua demi kebaikan bersama, aku terpaksa merelakan mu...? Ujar nya dalam pelukan perdamaian kami
Sebenar nya aku pun sama, namun tak bisa ku ungkap kan secara baik-baik kepada mas imam, hanya pelukan ini saja yang ku rasa kan hangat nya
Mas imam seolah tulus dalam memeluk ku, rasa cinta di hati ku seakan patah ketika mas imam memutus kan melepas kan ku
sedang kan mama dan papa hanya bisa mendukung keputusan mas imam begitu juga dengan ku
" jaga kandungan mu dengan baik-baik aku akan selalu ada di saat dia membutuh kan ku nanti..'' ucap nya seraya melepas kan pelukan kami berdua
Mas imam melepas kan ku, dan ia berjalan tanpa menoleh lagi ke arah ku, walau pun aku masih berharap di hubungan ini
Namun apa daya, ketika garis jodoh ku dengan nya telah terputus sampai di sini saja tidak untuk selama nya
'' ayo pulang ke rumah kak.. Jangan tinggal sendirian di sini..? ajak mama merangkul ku dengan penuh kasih sayang
'' tapi aku masih mau di sini ma..? Ujar ku pula pada mama
bukan nya niat menolak ajakan mama, namun aku masih ingin tetap berada di sini untuk sementara waktu saja
***
Tiga bulan ketika perpisahan ku antara mas imam sudah berlalu, masa Iddah ku juga sudah selesai saat ini
Namun kerinduan ini masih berada ada untuk nya, walau pun mas imam tidak menampak kan diri pada ku
Tapi aku semakin uring-uringan setiap waktu, kerja tak jenak tidur tak nyenyak pikiran melayang entah di mana
Ternyata berat juga melepas kan seseorang yang sudah kita cintai, walau pun cinta kita tak pernah terbalas kan oleh nya sama sekali,
__ADS_1
Nyata nya rasa cinta ini semakin dalam untuk nya, walau pun terkadang aku berpikir bahwa diri ku ini seperti orang bodoh saja
" kak.. Ada undangan nih.." ujar mama menyodor kan selembar kertas undangan ke tangan ku
dengan malas ku raih selembar surat undangan itu, perlahan ku buka dan memampang kan wajah mas imam dan senyum manis Karin di sana
membuat ku semakin tergores oleh selembar kertas ini, seketika aku merosok perlahan ke sandaran sofa yang awal nya ku duduki tadi
" kamu kenapa kak.." tanya .Ama terlihat panik melihat ke adaan ku
" ma.." ujar ku menyerah kan lembar kertas itu pada mama
Seketika mama langsung meraih nya dari tangan ku dan melihat nya,
" ya.. Allah kak, maaf kan mama, mama gak tau kalau itu dari Karin.." dengan cepat pula mama membuang nya ke arah dapur surat undangan tersebut
" ma.. mama... Teriak ku cepat
mama seketika berlari panik mendekati ku yang tergugu melihat ke arah bawah
" kenapa kak.." tanya mama pula
" Astagfirullah..kak,, kamu mau lahiran.." tanya mama
Aku hanya menggeleng kan kepala ku saja pertanda aku tidak tahu sama sekali akan melahir kan itu seperti apa
" pa...papa ..papa tolongin anak nya ini.." mama terlihat panik dengan ke adaan ku
papa yang hanya mengenakan handuk berlari ke arah kami yang berada di ruang tamu ini
" ada apa ma.." tanya papa ketika sudah dekat dengan kami
" iisss... Si papa, malah gak pakek baju sih.. Cepet sana pakai baju nya dulu.. Lihat anak nya ini, mau lahiran.." ujar mama terlihat kesal dengan papa
" bagai mana papa mau pakai baju, mama teriak teriak begitu bikin papa panik saja.." papa berlalu pergi ke kamar nya kembali
mama bergegas meninggal kan ku ke arah kamar ku, mungkin mama mau mengambil perlengkapan ku dan juga calon beby ku
__ADS_1
" ma.. Papa sudah pakai baju nih.. Ayo biar di antar ke rumah sakit.." ujar papa mendekat dengan kunci di tangan nya
Mama datang dengan tergopoh-gopoh membawa koper besar sengaja ku sediakan untuk tempat pakaian ke rumah sakit nanti
" ini pa.. Di angkat aja anak nya.." ujar mama
Dengan sigap papa mengangkat tubuh ku dari sofa membawa ku ke luar rumah
" pa.. Kakak masih bisa jalan.." ujar ku menolak di gendong oleh papa
" oh.. Iya kah.. Papa pikir sudah tidak bisa jalan lagi.." kata papa terkekeh kecil
" eh.. Malah ketawa di sana sih pa, yang serius itu ngangkat anak nya ntar jatuh loh.." ujar mama terlihat kesal menatap kami berdua di tengah jalan keluar pintu masuk
" iya ma.. Ini kakak minta jalan sendiri..'' ujar papa menurun kan ku secara perlahan
'' di angkat aja sih pa.. Biar cepat berangkat nya..'' omel mama
'' gak usah ma.. Biar kakak jalan perlahan..'' saut ku melerai perdebatan antara mama dan papa
pagi ini memang semua orang tak ada di rumah, sedang kan yang lain memilih untuk tinggal di rumah mereka masing-masing
hanya terkadang mereka pulang dan pergi lagi di kala malam hari, mereka datang di saat perut mereka kosong saja
'' di papah aja pa.. Jangan di biarin sih.. Nanti jatuh anak nya gimana..'' omel mama lagi terdengar di kala papa ingin membukakan pintu mobil untuk ku
'' papa selalu saja salah di mata mama mu itu kak.. Pening deh papa lihat mama mu itu..'' ujar papa sekilas melihat ke arah mama yang memasuk kan koper ke bagasi belakang
'' gitu aja papa cinta setengah mati sama mama..'' aku terkekeh meringis
menahan sakit dan melihat ekspresi lucu papa ketika serba salah di mata mama
'' abis nya mama mu sudah banyak kasih papa keturunan sih..'' ujar papa tersenyum lebar memandang mama
'' apa cuma mama aja yang panik di sini nih.. Kenapa kalian berdua terlihat santai begitu..'' mata mama melihat kami merah nyalang seakan ingin menerkam kami berdua dengan papa
'' yang sabar ma.. Kakak nya lagi baru jalan masuk nih, di tungguin aja sih..'' ujar papa menatap mama dengan Sabar
__ADS_1
Aku perlahan masuk ke dalam mobil di ikuti dengan mama, ketika aku sudah duduk dengan benar, barulah papa menutup pintu nya dengan baik
...****************...