
'' begini yang membuat ku diam mas.. Tapi diam ku ternyata tak berpengaruh dengan mas ya..'' ujar ku terkekeh kecil
'' kamu salah paham Hanum.. Kami hanya sedang bekerja saat ini..'' ujar Karin mencoba menjelas kan pada ku
'' oh..ya.. Aku baru tau, sepasang kekasih sedang bekerja.. ya.. Sudah kalau begitu, selamat bekerja..'' ujar ku memandang ke dua nya sambil tersenyum
'' Hanum.. Aduh.. Jangan buat keributan di sini, mbak malu ini di lihatin orang banyak..'' ujar mbak iren menarik tangan ku agar pergi dari hadapan ke dua nya
Sedang kan mas imam mulai berdiri dan ingin mengejar ku, tapi Karin menahan lengan nya
'' ayo mbak, kita pergi..'' ajak ku pada mbak iren
'' tunggu Hanum, biar mas antar ke kantor..'' mas imam mencoba menahan ku
'' tidak perlu mas, aku bawa kendaraan ku sendiri.. Silah kan selesai kan pekerjaan kalian, mau itu menikmati moment di saat kalian berdua atau bekerja, aku tidak perduli mas..'' ujar ku pada mas imam
Ku langkah kan kaki ku keluar dari tempat makan ini bersama dengan mbak iren menarik ku cepat
Sedang kan Karin berusaha menahan mas imam agar berada di sisi nya terus menerus, aku tak perduli lagi dengan ke dua mahluk menyebal kan itu
sesampai nya di kantor, aku tidak pokus kembali bekerja, aku memilih untuk pulang, ku lirik jam, sudah menunjuk kan pukul tiga sore hari
'' mau kemana kamu Hanum..'' tanya mbak iren menahan ku
'' mau pulang mbak, rasa nya aku bosan sekali di sini..'' ujar ku pada mbak iren
'' mau di temani tidak..'' tanya mbak iren
'' gak usah mbak..'' tolak ku cepat
dalam perjalanan ponsel ku terus berdering, namun ku abai kan begitu saja, aku tidak perduli dengan ponsel yang terus berdering itu
Menurut ku ponsel ku terlalu berisik sekali, sampai tiba di rumah pun, ponsel itu terus saja berisik tapi aku tetap abai dan tak melirik nya sedikit pun
'' lelah bosan..'' sungut ku turun dari mobil dan menutup pintu mobil ini
Langkah ku masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar, itu lah tujuan ku saat ini tidak ada yang lain lagi
__ADS_1
Baru saja aku merebah kan tubuh ini di atas ranjang, suara ketukan pintu kamar sudah terdengar dari luar
Membuat ku berdecak kesal ketika ketukan pintu itu seakan tak sabaran untuk di buka kan
" Hanum..Hanum.. kamu ada di dalam..," itu seperti suara mama yang mengetuk pintu kamar ku
Gegas aku beranjak dan keluar dari kamar untuk melihat, apakah itu mama atau siapa
" ya . Sebentar ma.." saut ku
Ketika ku buka pintu, wajah panik mama yang ku dapati, ku kerut kan kening bingung melihat mama yang seperti itu
" kenapa ma.." tanya ku pada mama
" itu.. anu.. " mama sampai ngos-ngosan dan beberapa kali menarik nafas, sampai belum sempat menyelesai kan apa yang mama ucap kan pada ku
" anu.. itu apa ma.." tanya ku cepat
Tak sabar ingin mendengar kan apa yang ingin mama sampai kan pada ku
Ucapan mama membuat ku melongo seketika di tempat, seakan tak percaya apa yang di sampai kan oleh mama saat ini
" mama bercanda ih.. tadi siang masih baik-baik saja kok ma.." saut ku sambil menggeleng kan kepala ku menatap mama tak percaya dengan apa yang mama sampai kan barusan
" terserah kalau kamu gak percaya, mama mau kesana ini, mau memastikan, beneran imam atau bukan.. kamu mau ikut atau di rumah aja.." tanya mama pada ku
'' dari tadi mama telponin juga gak di angkat-angkat terus, kami sibuk ngapain sih..sebenar nya, tapi kata papa kamu gak ada pekerjaan yang menyita waktu juga .'' sungut mama lagi
" Ya.. udah ma.., di rumah sakit mana, biar Hanum susulin nanti.. Hanum belum mandi ini.." ujar ku santai
Mama menatap ku penuh keheranan, mungkin mama berpikir aku ini tidak ada panik-panik nya ketika mendengar kabar tersebut
Entah lah, perasaan ku tidak sepanik mama, aku biasa saja ketika mendengar kabar buruk mas imam
Aku jadi terkekeh kecil mendengar berita ini bagai kan mimpi saja bagi ku. Karena tadi pagi dan siang tadi, kami masih lagi berdebat panjang
" malah mau mandi dan cengengesan pula.. suami nya kecelakaan malah santai aja kamu nya gak ada panik-panik nya sama sekali..." ujar mama menatap ku heran
__ADS_1
" Siapa yang cengengesan, orang mau mandi juga.." elak ku pada mama
Mama hanya bisa menggeleng kan kepala nya saja ketika melihat ku biasa saja mendengar berita tersebut
" terserah kamu deh.. nanti mama kirim alamat nya pada mu, lekas mandi dan bersiap, mama pergi lebih dulu dengan papa.." ujar mama berlalu dengan wajah kesal nya
Setelah melihat mama pergi, aku pun masuk ke kamar kembali dan menyahut handuk berlalu ke kamar mandi untuk membersih kan diri
'' menyusah kan saja..'' sungut ku ketika aku hendak mengendarai mobil
Alamat rumah sakit telah di kirim mama berserta dengan alamat kamar mas imam mama mengirim nya begitu lengkap dan detail sekali
Apa kah aku harus sedih atau senang ketika mendapat berita ini, entah lah,
Ketika aku sampai di rumah sakit yang mama kirim alamat nya, dengan segera ku parkir kan mobil ku masuk ke dalam mencari ruang rawat mas imam
Walau pun perut ku sudah terlihat sangat besar, namun aku tidak pernah kewalahan untuk membawa beban ku
Terkadang malah aku terhibur dengan keadaan ku saat ini, apa lagi nanti ketika pergerakan yang ku rasa kan di dalam perut ku
" seperti nya ini ruangan nya.." ujar ku menilik ponsel ku kembali dan melihat benar-benar ini yang terpampang jelas
Perlahan tapi pasti, ku buka handle pintu ruangan mas imam, untuk memastikan benar atau tidak nya ini ruangan milik mas imam
Namun ketika ku buka, semua mata kini tertuju pada ku, membuat ku menoleh ke Kanan dan ke kiri,
Mana tau ada orang lain yang mereka perhatikan selain diri ku ini, namun ketika ku toleh, tidak ada orang lain selain diri ku
" assalamualaikum.." salam ku ketika hendak masuk dan aku pun menutup pintu nya secara perlahan
Ternyata di sana juga ada Karin yang setia duduk di samping brangkar mas imam membuat ku tersenyum miring
" CK... Istri macam apa kamu itu, sudah tau suami nya kecelakaan malah santai aja.. tidak ada panik panik nya sama sekali.." ucapan pedas Karin terdengar ketika aku baru saja hendak duduk bergabung dengan mama dan papa ku
Ku urung kan niat ku untuk duduk dan menatap Karin dengan sinis,
...****************...
__ADS_1