
Perseteruan Kahfi dan Ihsan berlanjut sampai siang hari, di mana kami semua sedang menikmati makan siang bersama
'' pindah..'' suruh Kahfi ketika ia hendak duduk di bangku makan
'' apa sih bang, aku udah duduk bener gini, malah di suruh pindah, mau pindah kemana lagi aku ini, lagian ini kan tempat duduk ku sejak awal.'' ujar Ihsan tetap duduk di bangku yang biasa ia duduki
'' kamu pindah Ihsan..'' geram Kahfi
'' apa sih bang, dari tadi perasaan emosian terus deh, sampai aku pun di usir, ini kan tempat duduk ku sejak lama..'' Ihsan tetap kekeh duduk di tempat nya
aku yang sudah paham tabiat Kahfi hanya bisa menghela nafas panjang, begitu juga mama
'' geser saja Ihsan.. Sini tukeran tempat sama kakak..'' ujar ku pada Kahfi
Memilih untuk menengahi ke dua nya agar mereka tidak bertengkar seperti pagi tadi
'' Abang ini kenapa sih, emosian muluk, aku kan hanya minta kepada Allah, sisa kan satu, seperti istri selembut kakak ipar, apa aku salah sih bang..'' kesal Ihsan menatap Kahfi
'' ya.. Gak seperti istri Abang juga lah..'' ujar Kahfi sewot
'' idih.. Aku kan cuma minta kelembutan dan kecantikan nya..'' ujar Ihsan tetap stay duduk di tempat nya
Ingin sekali ku getok kepala kedua nya, dan ingin sekali ku pukuli kedua nya, sabar ku sudah habis jadi nya karena mereka berdua
'' apa kalian tidak bisa ya, tidak bertengkar..'' gigi ku sudah bergemulutuk menatap kedua nya
jika aku sudah seperti itu, mereka berdua pasti diam dan menuruti apa kata ku, dan benar saja, mereka berdua langsung diam dan menunduk tak berani menatap ke arahku
'' Ihsan... Duduk sini..'' sentak ku memukul bangku di sebelah ku
Sampai mas imam terjingkat kaget karena aku memukul tempat duduk di sebelah ku terlalu keras
'' kaget aku..'' ujar mas imam
mama hanya tertawa geli melihat mas imam yang terkejut karena kemarahan ku pada ke dua adik ku yang ada di depan ku
'' pindah tidak..'' tanya ku lagi dengan suara berat dan keras
__ADS_1
'' iya kak..'' saut Ihsan menunduk
Ia pun pindah tempat tepat di sebelah ku, di mana tempat duduk itu milik Aisyiah dan di sebelah nya Aisyah
'' loh bang, kenapa duduk di situ..'' Aisyiyah menatap bingung Ihsan yang duduk di teras rumah ini
'' kamu pindah duduk di depan Abang mu itu, biar dia puas..'' ucap ku galak
Sedang kan Ihsan dan kahfi tak ada yang berani jika suara ku seketika sudah marah pada mereka berdua
Begini lah keseharian kami, jika salah satu di antara mereka bertengkar, terkadang memang aku lah yang jadi penengah di antara ke dua nya
Walau pun begitu, aku memang tetap manja ketika ada waktu dan masa nya tidak selalu galak dan ketus
Walau terkadang aku manja di depan mereka, akan tetapi mereka takut juga di kala aku sudah marah
***
sampai satu bulan sudah berlalu begitu saja, mas imam tetap saja seperti sedia kala, lebih banyak diam tak bersuara
Terkadang membuat ku jengah atas diri mas imam, raga nya bersama ku, tapi pikiran serta hati nya entah di mana-mana
Apa lagi setelah mendapat kan kabar, bahwa Karin telah menikah dengan orang lain, mas imam bukan lagi seperti diri nya
" Mas.. apa yang membuat mu begini terus.." tanya ku kesal
Bagai mana tidak kesal hati seorang istri, aku ingin berpisah, ia tak mau, aku tetap bersama nya, ia tak menganggap ku ada di samping nya
" Hem.." saut nya menoleh pelan pada ku
" apa yang membuat mas terus begini, coba katakan dengan jujur, aku sudah lelah mas, aku sudah tidak kuat lagi kalau mas terus begini... Aku wanita mas, setidak nya di pernikahan aku ingin memiliki suami yang seperti di luaran sana.."
" di sayang, di manja suami, di mengerti suami, ketika suami bekerja dan pulang, mendengar keluhan nya, ini.. lihat lah mas, raga mas memang bersama ku, tapi hati dan pikiran mas entah di mana, aku manusia biasa mas, aku juga punya batas kesabaran, tidak semua nya bisa ku sabar kan mas, jika mas terus begini aku lebih baik keluar dari kehidupan mas imam, aku menyerah mas menghadapi mas.."
" bukan nya aku tidak mau mempertahan kan hubungan kita ini, tapi lihat lah mas... Lihat diri mas, apa mas merasa memiliki istri, walau pun mas tinggal di lingkungan papa, ku lihat mas di sini seperti terkekang sekali dengan ku.." ujar ku tegas
Aku sudah lelah segala nya, lelah hati pikiran raga.. dan jiwa, aku ingin kepastian, bukan seperti ini yang malah banyak diam dan jarang berbicara
__ADS_1
" aku.. aku.. masih bingung.." ujar mas imam gugup
" apa yang mas bingung kan, kata kan saja mas, aku akan mendengar kan dan aku akan menyimak apa yang akan mas katakan nanti nya.." jawab ku cepat
" karena Cepat atau lambat, perpisahan itu pasti terjadi.
Entah siapa yang akan lebih dulu pergi.
Entah Aku.
Entah mas imam.
Entah kita berdua."
" Asal mas tau, Waktu bersama tak mungkin diciptakan? kalau tidak untuk dinikmati bersama."
" Saling menyayangi.
Saling mengingatkan.
Saling menjaga satu sama lain."
" Jangan sampai kebersamaan kita rusak karena ego mas. Karena hal lain yang mungkin tidak lebih penting dari apa pun, termasuk hubungan kita saat ini mas. Karena ketidaksadaran mas, bahwa waktu bersama mungkin saja berakhir sewaktu-waktu begitu saja."
" Kadang dan seringkali terjadi, penyesalan hadir saat semuanya sudah berakhir mas, aku tak mau itu terjadi mas."
" jika itu terjadi, mungkin aku memilih tak akan kembali ke masa yang sama, aku tak mau mengulangi nya mas.."
" Sebelum ada penyesalan, saat masih ada kesempatan, dan mungkin saat ini masih ada waktu untuk memperbaiki semua nya.."
" jangan sampai penyesalan membawa mas ke jurang yang paling dalam sedalam-dalamnya.. karena mungkin saat itu aku tak akan mau kembali kepada mas, karena sekali mas lepas kan aku, di situ lah aku akan pergi menjauhi mas imam, karena aku merasa bahwa aku lah yang kurang baik menjadi istri di saat bersama dengan mas.."
" mungkin saat ini mas tidak mencintai orang-orang yang hadir di dalam kehidupan mas, mungkin mas Lebih menghargai.. dan Lebih mementingkan..perasaan papa atau takut dengan papa.. tapi mas tak pernah tau bagai mana aku di samping mas, mas lebih menutup mata ketimbang membuka mata mas lebar-lebar.."
" Karena kita menikah bukan sebuah kebetulan, Aku dan kamu dipertemukan mungkin karena takdir dan jodoh kita bersama"
" Dan bukan suatu kebetulan juga, jika saatnya sudah tiba. Aku dan mas pasti dipisahkan.. oleh ruang dan waktu.."
__ADS_1
" mungkin karena perjodohan ini mendekatkan mas yang semula jauh jadi bersama ku."
...****************...