Putri Yang Hilang 2

Putri Yang Hilang 2
Hanum 6


__ADS_3

" boleh, itu pilihan kamu, tapi lebih cepat lebih baik.." ucap papa


" oh iya Hanum,.. ini kenal kan suami dari teman mama,.. Om Malik ." ucap mama memperkenal kan teman nya


'' Hanum om..'' ucap ku ramah sambil.bersalaman pada nya


'' cantik ya, pantas saja Ica sangat menginginkan anak kalian menjadi menantu nya..'' saut om Malik


Mungkin sejak tadi om Malik memandang ku hanya karena ini, namun aku tidak mau ambil pusing, aku pun hanya tersenyum saja menanggapi perkataan nya


'' terimakasih om..'' saut ku singkat


'' kalau begitu saya pamit dulu ya, saya tidak tenang meninggal kan istri saya sendirian di rumah sakit..'' ujar om Malik ketika kami sudah berbincang-bincang sejak tadi


'' ah iya,, kirim salam buat Ica, kami akan menjenguk nanti siang setelah makan...'' ucap papa begitu juga dengan mama


'' terima kasih sambutan baik kalian, saya pikir saya tidak akan di perlakukan istimewa, ternyata memang benar, kalian sekeluarga tidak seperti gosip yang tersebar..'' ujar om Malik memuji keluarga kami


'' hanya begitu saja? Tidak perlu sungkan, kami senang kedatangan tamu, apa lagi ini suami dari sahabat istri saya .'' ujar papa sambil tersenyum


Setelah basa-basi, om Malik pun undur diri, dan kami bertiga pun memilih masuk ke dalam rumah


Setiba di ruang tamu, ku lihat papa menghela nafas panjang yang teramat berat, aku pun sedikit iba dengan papa


'' keputusan mama untuk menjodoh kan Hanum kepada anak teman mama itu gak salah..'' tanya papa sangat hati-hati takut mama akan tersinggung dengan ucapan papa barusan


'' kenapa memang nya pa, lagian kan, sama anak teman baik mama sih, pasti nya gak ada masalah, mama tau Ica orang nya sangat baik lah, mudah-mudahan Hanum bahagia mendapat mertua sebaik ica..'' ujar mama menoleh cepat ke arah papa


'' memang temen baik mama, tapi papa kok rasa nya berat ya ma..'' ujar papa


  '' berat kenapa sih pa.. Apa ada masalah dengan Ica, lagian papa lihat sendiri kan, Malik juga baik dan ramah..'' ucap mama menilai kepribadian om Malik


  '' papa ikut Hanum saja, kalau Hanum nya tidak menolak, papa juga tidak mau memaksa Hanum ma..'' saut papa


Mungkin papa masih berat melepas kan anak gadis nya untuk orang lain, apa lagi papa tidak pernah mengetahui bagai mana rupa calon menantu nya kelak

__ADS_1


  '' mama juga tidak akan memaksa Hanum pa, kalau keadaan tidak mendesak, dan jika keadaan Ica sehat-sehat saja, mungkin mama juga keberatan pa..'' saut mama


Aku hanya melempar pandangan ke arah mereka berdua secara bergantian


  '' ya. sudah, mama dan Hanum bersiap segera, nanti siang setelah makan, kita langsung berangkat ke rumah sakit..'' ucap papa pada kami berdua


Aku hanya mengangguk saja, dan berjalan ke arah kamar ku, namun ku urung kan niat ku malah berbelok ke arah dapur, karena aku belum sarapan pagi


***


Siang ini, mama dan papa datang berkunjung ke rumah sakit, seperti apa yang di ucap kan papa kepada om Malik pagi tadi


Aku pun ikut serta dalam rombongan mama yang menjenguk tante ica, walau sedikit terpaksa, tetap ku turuti permintaan mama


Dalam perjalanan, aku hanya bisa terdiam memikir kan tentang perjodohan ini, walau hati ku rasa nya sangat berat


namun melihat mimik wajah mama, aku sedikit tak tega, , sedang kan mama sudah memasang wajah murung saja sejak tadi pagi sampai sekarang


'' ayo turun Hanum, apa kamu mau di situ saja..'' ujar mama menatap ku sejenak


Ketika kami sudah sampai di rumah sakit di mana Tante Ica di rawat


'' ya..ayo..'' ajak mama


Aku pun turun dari mobil dan mengekori mama yang mau masuk ke dalam ruangan Tante Ica


sesampai nya kami di dalam, Tante Ica nampak sekali pucat pasi dan tidak terlihat ada semangat sama sekali


'' ya..Allah Ica, kenapa Kau tidak bilang sedang sakit separah ini, kenapa baru saja kamu mengabari ku..'' mama menangis di dekat Tante Ica


ku lihat tante Ica hanya tersenyum saja kepada mama, di mana hidung nya di sambung dengan selang pernafasan di tambah tangan nya juga ada alat infus


yang membuat ku sedikit seram, di mana banyak alat yang tertempel di dada Tante Ica, walau pun terlapisi baju pasien, namun nampak jelas semua yang menjalar ke arah tubuh Tante Ica


'' maaf, tidak mengabari kamu, aku berpikir penyakit ku akan cepat sembuh, tidak tau nya penyakit ku semakin menggerogoti tubuh ku ini..'' saut lirih Tante Ica sambil tersenyum

__ADS_1


tak ada raut sedih sedikit pun di wajah Tante Ica, ia tersenyum lembut pada mama, walau pun mama sudah menangisi Tante Ica sampai sesunggukan


'' kamu mau kan jadi besan ku, menggantikan ku menjaga anak ku..'' ucap Tante Ica penuh harap kepada mama


'' jangan bicara seperti itu Ica, kamu pasti bisa menjaga anak mu itu, aku tidak bisa Ica... Jangan tinggal kan kami..'' ucap mama sesunggukan


Tante Ica hanya tersenyum manis di sana, walau pun bibir nya terlihat sangat pucat, tapi tidak menyurut kan senyuman manis Tante Ica


Aku tau saat ini Tante Ica sedang berjuang melawan penyakit nya, tapi yang ku heran kan sejak tadi, di mana anak Tante Ica


Kenapa sampai sekarang tidak terlihat batang hidung nya sama sekali


'' sudah ma... Yang tenang sedikit jangan mama tangisi, kan mama tadi sudah janji sama papa, gak akan menangis lagi, mama kan sudah janji bahwa kita kemari akan membuat teman mama bahagia, bukan malah membuat Ica sedih..'' ujar papa mengusap bahu mama lembut


Setelah papa mengatakan hal itu, semua kepanikan pun terjadi, di mana kini nafas Tante Ica seperti tersengal-sengal


membuat mama semakin histeris, jangan tanya kan. Suami dari Tante Ica, ia pun sama,


 namun yang ku heran kan, dimana anak mereka yang akan di jodoh kan dengan ku ke adaan sudah sepanik ini, tapi ia tidak nampak sama sekali sedari tadi


'' beri sedikit ruang, kami akan memeriksa nya..'' ujar perawat begitu juga dokter


Kami memilih untuk keluar dari ruang rawat Tante Ica, sedang kan mama semakin menjadi tangisan nya


  '' sudah ma.. Jangan menangis terus, kasian Ica nya, kamu jangan menangis lagi, lebih baik kita berdoa saja agar Ica lekas sembuh..'' ucap papa merangkul mama


Aku hanya menatap mama dan papa saja, sedang kan om Malik terduduk di ruang tunggu yang tak jauh dari kami


Tak berapa lama, satu perawat muncul, perawat yang tadi menyuruh kami keluar


'' maaf.. Pasien ingin berbicara dengan ibu Kiara..'' ucap suster yang keluar menghampiri kami


'' ya.. Saya sus..'' ujar mama menatap ke arah suster yang keluar dari ruang rawat Tante Ica


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like komen hadiah dan vot nya ya,


Karena setiap dukungan kalian sangat bermanfaat untuk penulis


__ADS_2