Queenvin

Queenvin
Impian


__ADS_3

#hai reader..happy reading back


"hallo say". panggilan Sarah menghentikan lamunannya tentang peristiwa di tiga hari yang lalu.


"ya". sahutnya.


"kenapa diam aja. aku pikir kamu tidur lagi". celetuk Sarah.


"eng..enggak kok". jawabnya.


"oh. ya udah Buruan bangun ya say". titah Sarah


"ya". sahutnya singkat seraya menutup ponsel nya dan meletakkan di atas nakas.


dengan netranya yang sebenarnya masih mengantuk itu ia bangun dari tempat tidurnya untuk melangkah ke kamar mandi dan bersiap siap berangkat ke kampus bersama Sarah yang nantinya akan datang menjemput nya.


begitu pun Sarah sendiri lebih memilih bangun dari ranjang menuju ke kamar mandi setelah kliennya, Fadil keluar dari kamar mandi.


"kamu udah bangun?". tanya Fadil.


Sarah tersenyum seraya mengangguk kecil. lalu masuk ke kamar mandi. sementara Fadil langsung menggunakan setelannya setelah nya ia mengetikkan jumlah nominal untuk Sarah. lalu ia pergi meninggalkan Sarah yang masih berada di kamar mandi setelah pamit melalui pesan pada wanita itu.


Beberapa menit setelahnya, Sarah keluar dan mendapati kamar hotel yang di inapinya dengan Fadil telah kosong.


ia berdecih kecil seraya menggeleng pelan.


"hmm..ternyata dua sekawan sama aja. sama sama suka meninggalkan sesuatu setelah mereka puas". gerutunya yang teringat saat temannya yang langsung di tinggal sendirian oleh Mr. Chow tempo hari.


ia memeriksa ponselnya dan tersenyum kecil saat melihat jumlah nominal yang memuas kan baginya. lalu ia membalas pesannya Fadil dan sama sama mengucapkan terima kasih atas take and give yang masing masing mereka dapatkan hari ini.

__ADS_1


satu jam kemudian..


Sarah mengajak karibnya itu untuk nongkrong di sebuah Resto cafe selagi menunggu jadwal kuliah selanjutnya selepas adzan Dzuhur. Sarah masih mempelajari jurnal mata kuliah utama untuk ujian pertengahan semester nya mereka hari ini.


sementara Nita menatap termangu pada dua wanita yang sedang menyapu di pinggiran jalan. ia teringat pada dirinya sendiri yang sebelum terjun ke dunia ini adalah seseorang yang bekerja di pinggiran jalan, terkena debu, panas dan kadang hujan. bahkan terkadang rasa miris terbersit saat melihat sekelompok para wanita yang sukses meniti karier di sebuah perkantoran atau pun rumah sakit saat dirinya mendapatkan pekerjaan sebagai cleaning service sementara di sana.


bukan hanya itu saja, saat yang lainnya menikmati masa liburan, ia malah harus bekerja keras dan full time untuk menutupi kekurangan karyawan yang telah mengambil masa cuti liburan.


bahkan pernah ia merasa iri saat melihat sekelompok para Dokter yang bekerja di rumah sakit sedang merayakan keberhasilan nya dalam bekerja dan mendapatkan penghargaan akan sesuatu dari pencapaian nya. sementara dirinya hanya bisa menatap sendu seraya membersihkan sampah dari perayaan yang mereka ciptakan.


Sarah yang melirik karibnya itu sekilas, lalu mengekori arah pandangannya Nita dengan netranya.


"kamu lagi perhatiin dua ibu ibu itu ya?" terka nya.


Sontak membuat Nita langsung mengalihkan pandangannya pada Sarah dan tersenyum.


"baru tiga hari yang lalu Ra aku berjuang dan bertahan hidup seperti mereka dan.... ".


"iya Ta. aku ngerti. kalau sekarang kamu masih bersalah pada dirimu sendiri tapi untuk apa sih di ingat ingat lagi. kamu jalani aja dulu yang ini. dan nikmati hasil dari pekerjaan kamu yang ini. setelah selesai kamu bisa bebas memilih jalan hidup kamu sendiri. pastinya setelah kamu menyelesaikan kuliah kamu hingga titel dokter bersandang di depan nama kamu". ucap Sarah yang terpaksa memotong ucapan sahabatnya ini.


"wujudkan dulu impiannya bunda kamu Ta. apa kamu lupa?". ujar Sarah yang mengingat kan karibnya tentang impiannya ibunya saat ia teringat ceritanya Nita tentang impian bundanya.


Nita terdiam saat di ingatkan kembali tentang tekadnya menjadi seorang dokter hanya demi membahagiakan sang ibu.


Bertahun tahun yang lalu di lewatinya dengan rasa pelik dalam rumah kontrakan sederhana


dan di saat dirinya masih seorang gadis yang selalu saja menatapi selembar kertas yang berisi kan surat peringatan mengenai pembayaran uang semester kuliah nya.


Saat ia belum mampu mengumpulkan biaya untuk semester kuliahnya. Ia pun kembali di hadapkan pada situasi yang genting. yang membuat dirinya harus memilih salah satu yang paling penting dan yang paling utama.

__ADS_1


yah, di mana satu sisi ia harus terus melanjut kan pendidikannya itu yang sebelum nya acap kali terpaksa harus mengambil cuti kuliah lantaran harus bekerja full time jika mepet keuangan. lalu satu sisinya ia harus rela uang yang ada untuk membayar biaya pengobatan dan perawatan ibunya yang sedang sakit.


Akan tetapi di satu sisi yang lain ia juga tak mampu jika harus menanggung semua beban biaya hidupnya yang semakin hari semakin di luar batas kemampuan nya yang hanya bekerja sebagai tenaga buruh lepas.


" puff sungguh melelahkan".desahnya selalu ketika tenaganya telah terkuras habis setelah menerima pekerjaan full timenya.


Hampir setiap waktu ia menghembuskan nafasnya yang terasa amat berat baginya kala mendapatkan surat peringatan dari pihak kampus dan juga pesan masuk dari rumah sakit di mana sang bunda di rawat.


"di mana lagi mau nyari duit segitu banyaknya belum lagi harus bayar kontrakan lagi". kata kata keluhan setiap kali dirinya buntu untuk mendapatkan uang tambahan.


Nada pesan masuk ke ponsel jadulnya berbunyi lagi. ia melirik ke layar ponsel tersebut dan langsung tau jika pesan tersebut berasal dari administrasi rumah sakit yang memberitahukan tenggat waktu pembayaran biaya rumah sakit ibunya yang kini sedang di rawat di sebuah ruangan intensif yang pasti nya akan memakan biaya yang tak sedikit dalam perawatan ibunya yang mengalami gagal ginjal dan jantung itu


Ia memijit mijit pelan keningnya yang terasa penat akibat terlalu lelah berfikir dan bekerja mencari uang menutupi segala biaya tuntutan hidup yang secara bersamaan harus segera di lunaskan.


Ia melipat kertas tersebut dan menyimpan nya di laci meja belajarnya. rasanya juga percuma jika hanya memelototi kertas ter - sebut jika yang di pelototi tak juga memberi nya solusi.


ia berdecak kesal sembari menutup laci meja belajarnya. lalu ia mencoba meraup oxygen sedalam mungkin dan membuangnya perlahan sebelum memulai aktivitas nya untuk menyusun laporan makalah nya yang harus ia kumpulkan besok pagi.


"semoga besok ada pencerahan". doanya selalu di hati dengan penuh harap.


lalu netranya kembali fokus pada pekerjaan nya. beberapa jam kemudian ia berhasil menyelesaikan satu tugas kampusnya.


"Alhamdulillah selesai juga". gumamnya sembari tersenyum menyemangati dirinya sendiri.


yah begitulah di setiap hari nya setelah ia di tinggal pergi oleh orang orang yang ia kasihi. gadis itu telah menjadi dewasa dan belajar untuk tak lagi bergantung hidup pada orang lain' atau memberikan harapan nya pada seseorang termasuk pada ibunya sendiri yang saat ini untuk menopang hidupnya sendiri pun sulit apa lagi harus bertanggung jawab pada dirinya, putrinya yang tinggal satu satu nya dari sekian darah dagingnya yang telah tiada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hai readers novel baruku baru saja di entas kan. mohon dukungannya ya dengan memberikan like, vote, komen, dan juga rate serta giftnya. terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2