
Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.
Dua Minggu sebelumnya..
Saat Vino dan Fadil sedang mengurus ijin praktek untuk sebuah rumah sakit yang akan mereka buka. Vino bertemu dengan salah satu Dosen mereka yang bekerja di dinas terkait.
"Pak Bambang" panggil Vino kepada Dosen yang suka memberikan nasehat setelah selesai memberikan mata kuliahnya itu.
Pria paruh baya yang sedang membaca arsip milik negara pun menoleh ke pada yang memanggil namanya. Ia melihat ke arah Vino dan Fadil yang tersenyum padanya. Di karenakan Vino adalah salah satu mahasiswa yang teraktif dan juga terpintar di angkatan nya serta salah satu murid di bawah bimbingannya saat pengajuan skripsi tentu saja ia langsung mengenali mahasiswa tampannya itu.
"Vin Chow??" tanyanya untuk memastikan nama yang dulu sering di panggilnya untuk mahasiswa yang satu ini.
"iya pak. Vin Chow. Hehehe" sahutnya sembari terkekeh.
"Dan saya yang sering bapak panggil Aidil hehehe" timpal Fadil.
"Masya Allah kalian semua ini toh" ucapnya yang merasa kagum akan kedua mahasiswa di bawah bimbingannya ini.
"Masih bersama aja ya kalian?. Alhamdulillah semoga langgeng persahabatannya" ucapnya penuh syukur untuk kedua sohib ini.
"hehehe makasih ya pak" ucap Fadil. lalu di tanggapi Vino dengan anggukan.
"Ayo duduk. Jadi mau bikin surat apa ini?" tanya sang Dosen.
"Biasalah pak. Surat ijin buka lapak baru" ujar Fadil dengan candaan.
"mmm..makin maju aja usaha kalian. Selamat ya.Ya udah sini berkasnya ntar bapak beresin"
ucap sang Dosen.
Lima hari kemudian...
Pak Bambang menghubungi Vino secara langsung untuk memberitahukan jika surat yang di butuhkan oleh Vino dan Fadil telah di selesaikan oleh pegawainya.
Vino menemui sendiri Dosennya di kantor dinas kesehatan setempat. Setelah pak Bambang menyerahkan surat yang di minta oleh Vino, mereka mengobrol sejenak hingga akhirnya pak Bambang sendiri yang meminta pada Vino agar menggantikan dirinya untuk mengajar mata kuliah tertentu di kampus tempat Vino menimbal ilmunya sebagai seorang dokter. Walaupun akhirnya Vino lebih memilih fokus pada usaha yang di bangun bersama keluarga dan teman-temannya.
__ADS_1
"Tolong kampusmu kali ini Vin. Karena sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikan pengajar mata kuliah tersebut meskipun untuk sementara. Bukankah sebelumnya kamu udah mendapatkan surat undangan mengajarkan?" ujar pak Bambang.
"iya sih pak. Tapi saya memang belum punya waktu untuk mengajar dengan cara terbang kecuali jika saya menetap di sini" jawab Vino jujur mengemukakan alasan ia menolak mengajar di Indonesia.
"Yah kalau begitu tinggallah di Indonesia saja" saran pak Bambang.
"Belum bisa pak" sahut Vino seraya tersenyum.
"Jika belum bisa. Tolong saya untuk mengantikan posisi saya mengajar untuk satu semester ini saja. Soalnya saya mau ambil cuti. Udah lama ga pulang kampung. Bawa anak istri jalan jalan, bersilaturahmi dengan sanak saudara" bujuk sang Dosen.
"Kenapa bapak memilih saya?. Bukankah masih ada mahasiswa yang lain yang lebih berkompeten mengajar di bandingkan saya" tanya Vino merendah yang sebenarnya ia tidak begitu percaya diri dalam bertatap muka dengan para mahasiswa apa lagi ia mengajar kan ilmu yang memang pernah ia geluti sebelumnya ketika pasca sarjana.
"yah habisnya siapa lagi. Wong cuma kamu yang punya pengalaman dalam mengatur manajemen sebuah perusahaan hingga sukses. Lagian kamu masternya di bidang itu ". Jawab pak Bambang.
"Fadil juga berpengalaman di bidang manajemen pak. Dia asisten saya yang paling bisa saya handalkan" jawab Vino demi mengelak dari tugas tambahan dari sang Dosen.
"masa jeruk makan jeruk sih Vin" celoteh pak Bambang.
"tenang pak Bakalan Manusia makan jeruk. Soalnya si Fadil lagi kuliah online di luar negri di bidang yang sama dengan saya. Kan bentar lagi rumah sakit yang kamu bangun bakalan selesai segala macam interiornya. Jadi rencananya saya akan menempatkan Fadil sebagai direkturnya langsung" ungkap Vino berharap Dosennya ini berubah pikiran.
"yah pak masa langsung langsung gini sih. Saya ga punya persiapan apa pun loh" jawab Vino merasa tak enak jika harus menolak lagi secara langsung.
"Itu mah gampang. Biar saya nanti yang kasih kisi-kisi pembelajarannya. Kamu tinggal jelasin materinya dengan metode kamu sendiri. Udah mah gampang. Tenang aja. Sipp ya pokoknya". Ujar sang Dosen seraya menepuk pundak mahasiswanya yang dulu dekat dengannya.
"udah ya. Saya harus balik ngantor. Jangan lupa Minggu depan ya Vin" ucap sang Dosen mengingatkan mahasiswanya lagi.
Sementara Vino di tinggalkan begitu saja oleh Dosennya lantaran harus kembali bertugas. Vino sendiri masih ragu apakah ia mampu melakukan tugas baru yang di berikan oleh mantan Dosen pembimbingnya itu. Ia pun pergi dari kantor Dinas kesehatan tersebut untuk kembali ke kantornya.
Sesampainya di kantornya, pria itu melakukan curhatan via online kepada Fadil yang saat ini harus bertatap muka pada jadwal kuliahnya yang di luar negri.
"Ambil aja Vin. hitung hitung. nolongin Dosen. Masa kamu ga mau berbakti pada nusa, bangsa dan orang tua" ucap Fadil di selingi candaan.
Vino berdecih lantaran mendengarkan kata katanya Fadil barusan.
"ehh..ga boleh begitu kamu. Itu Dosen kita juga orang tua kita juga. Ga ada pak Bambang ga jadi wisuda kamu" celoteh Fadil mengingatkan akan jasa jasa Dosennya mereka yang satu itu.
__ADS_1
"iya..iya..Aku tolongin. Cuma aku bingung bagiin waktunya gimana?" gerutu Vino.
"itu mah gampang. Kita tukaran tempat untuk satu semester ini. Nanti aku tinggal pulang ke Indonesia kalau ada perlu sama kamu jika menyangkut urusan perusahaan. Gimana okey ga?" tanya Fadil.
"Lagian Minggu depan aku balik ke Indonesia sekalian bawa kerjaan. Soalnya jadwal kuliah tatap mukanya ada yang di mundurin sampe Minggu depan" lanjutnya lagi.
"mmm.." jawab Vino malas.
"Semangat Prof Vino. Ehh bukan. Doktor Vino. Hehehe" kekeh Fadil.
"Udah belajar Sono. Jangan kebanyakan maen cewek kamu. selesaikan dulu tugasmu" titah Vino seraya menutup chatingannya.
Vino menarik dalam nafasnya karena memikirkan jadwal barunya di Minggu depan.
"kira kira aku mampu ga ya?" soalnya aku ga pernah mengajar" gumamnya.
"Bisa. Kamu pasti bisa Vino. Fighting" gumamnya pada dirinya sendiri seraya menoleh pada kaca besar yang berada di samping kursi kebesarannya.
Lalu Vino bangun dari duduknya dan mendekati kaca cermin seraya mematutkan dirinya di kaca.
"Selamat pagi anak anak" ucapnya menirukan gaya Dosennya yang dulu.
Lalu ia mengernyitkan dahinya seraya menggelengkan kepalanya.
"Selamat pagi adek adek semua"ucapnya yang teringat jika ada seorang Dosen muda atau pun asisten Dosen yang memanggil seluruh mahasiswa didikannya dengan sebutan adik.
Lima belas menit ia melatih dirinya sendiri sebagai pengajar meskipun ia merasa apa yang ia lakukan salah dan terasa kaku baginya.
"ahhh.." keluh Vino.
Ke chapter selanjutnya ya??
****************
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.
__ADS_1