
Hai my reader. I am coming back. happy reading.
"Ko Kevin".teriak Quini memanggil namanya.
"Quini???". pekik Kevin dan keluarganya terhenyak kaget.
Quini setengah berlari menghampiri Kevin.
Dalam penglihatannya dan juga di mata kedua orang tuanya memang tuan putrinya itu masih lah seperti seorang gadis kecil. wajar bila sang Raja ingin selalu melindungi putri nya yang masih polos itu.
"kamu. ngapain ke sini?. gimana nanti kalau ayah tau Quin". ucap Kevin.
"aku cuma mau liat Koko lagi". jawab Quini.
"Wak Banun. Hay ya.kenapa kamu orang bawa bawa ini tuan putri kesini. gimana nanti kalau tuanku Faisal tau kalau putrinya di bawa ke sini. Hay ya kamu orang cari perkara saja". omel Meylin.
"dia maksa minta ikut. owe juga bingung Mey. ini nyak Quini menangis di depan pintu rumah kalian tadi". sahut Banun.
"iya tetapi tetap saja jangan di bawa keluar istana Wak. nanti Kevin lagi yang di salah kan". gerutu Meylin kurang senang karena merasa khawatir.
"ya sudah jangan di ributkan lagi Amma. biar kan saja dulu ini anak. nanti kita pikirkan alasannya sama tuan Faisal". ucap Appanya Kevin yang di panggil Fendy.
"kamu mulai bandel ya". ujar Kevin memarahi gadis itu.
"malam ini aja kok". sahut Quini seraya memasang wajah memelas.
Kevin menanggapinya dengan senyuman. hanya beberapa menit Quini dan Kevin bisa bersenda gurau sebelum keberangkatan lelaki itu ke tempat tujuannya di kota lain.
hingga tiba saatnya kedua karib itu pun harus berpisah. Kevin tersenyum lembut pada Quini setelah ia berpamitan pada kedua orang tua nya.
"kamu baik baik ya di sini. jangan nakal lagi kayak malam ini. jaga diri sebagai perempuan
turuti apa kata bunda dan ayah kamu". pesan Kevin pada gadis kecilnya.
"iya Koko. cepat pulang ya?. kalau udah selesai lagi ujian sekolahnya". jawab Quini.
"kamu ini. belum juga aku berangkat udah di suruh pulang".celetuk Kevin seraya mengacak kepala Quini yang tertutup selendang.
"nyak Quini. sudah ya. bang Kevin mau berangkat tu". ucap Fendy.
__ADS_1
Quini pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Kevin pun menaiki bus dan duduk di samping jendela di mana ia bisa melihat Quini dari sini.
Kevin tersenyum seraya melambaikan tangan nya pada semua yang masih menunggu keberangkatan busnya, termasuk gadis kecil nya.
sedangkan Quini membalas lambaian tangan Kevin dengan hati yang masygul. entah mengapa ia merasa jika ini adalah pertemuan terakhir dengan Kokonya.
Dan itu terbukti benar adanya setelah ia pulang dari terminal bus. Ia telah di tunggu oleh sang ayah di depan teras istana dengan wajah dingin dan terlihat murka. begitu pun dengan sang bunda yang terlihat rasa takut di raut wajah cantiknya.
Quini berdiri ketakutan begitu pun dengan keluarga Kevin, apa lagi Wak Banun.
"masuk". titah sang ayah pada Quini.
Quini pun menuruti apa kata ayahnya. sedang kan untuk ketiga orang yang telah berani membawa keluar putrinya dari istana, apalagi di tengah malam tanpa seijin darinya hanya menatap tajam pada ketiganya.
"kembali ke rumah kalian masing masing. besok pagi kalian akan menghadapi sidang" tukas Faisal tegas.
"baik tuanku Teuku Faisal". ucap ketiganya.
Sepeninggalnya pelayan itu Faisal mentitah kan pada istrinya agar memanggil putrinya ke ruang kerjanya.
"sudah malam bang. lebih baik besok pagi saja Abang menasehatinya". cegah Dyah.
"panggil dia sekarang juga bunda??!". titahnya tegas dengan nada suara yang mulai meninggi.
mendengar hal itu maka Dyah pun tak berani membantah atas apa yang di titahkan oleh suaminya itu. Ia pun dengan amat terpaksa memanggil sang putri ke ruang kerja ayahnya.
Quini yang tau akan mendapatkan hukuman atau pun peringatan dari sang ayah hanya bisa pasrah saat dirinya di hadapkan pada sang ayah.
Faisal memandang dingin Quini yang kini hanya menundukkan wajahnya.
"kamu tau kan apa kesalahan kamu?". tanya Faisal dingin.
"iya ayah. Quini tau. Quini minta maaf ayah. Quini janji tidak akan mengulangi hal itu lagi. dan Quini bersumpah ini kali terakhir Quini lakukan hal seperti itu lagi". ucapnya.
"kamu pernah berjanji seperti ini sebelumnya bukan?!". tanya Faisal mengingatkan akan janji yang pernah putrinya itu ucapkan.
"iya Ayah". sahut Quini menundukkan pandangannya.
"kamu tau apa konsekuensinya jika kamu melanggar janjimu sendiri". ucap Faisal.
__ADS_1
Quini menelan kasar salivanya saat teringat akan hukuman yang akan di berikan oleh sang ayah jika ia melanggar janjinya sendiri.
"Quini". panggil Faisal pada putrinya itu.
"ya Ayah". sahut Quini.
"kamu masih ingatkan hukuman apa yang akan kamu jalani jika kamu melanggar janji mu sendiri". ucap Faisal dingin.
"ta..tapi yah". kata Quini berniat memprotes hukuman dari ayahnya.
"tidak ada tapi tapi Quini. mulai minggu depan kau sudah harus berada di rumah nenek dan tinggal di sana dan belajar di sana hingga selesai masa sekolah menengah mu. lalu setelah nya bersiaplah ayah nikahkan engkau dengan salah satu anak tuanku Teuku Raja Syamsir Alam". tukas Faisal tegas.
"Ayah". pekik sang bunda yang tak terima anaknya di hukum seberat itu.
"A..yaah..maafkan Quini ayah. Quini janji ini yang terakhir kalinya Quini berbuat begitu. ayah Quini mohon ayah. jangan bawa Quini ke sana ayah". mohon Quini dengan nada memelas pada ayah nya.
"tidak bisa Quini. keputusan ini mutlak untuk kamu. seharusnya kamu berfikir dua kali saat kamu berniat melanggar janjimu itu". ucap Faisal tegas.
"ayah maafkan Quini ayah". Quini memohon kembali dengan derai airmata.
"berhentilah menangis Quini. terima saja hukumanmu dengan ikhlas". ucap Faisal seraya berdiri lalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Ayah. maafkan Quini ayah". isaknya.
sementara Dyah yang tak tega melihat putri nya menangis mencoba menghibur sang putri dengan memeluknya erat.
"bunda..". panggil Quini di dalam pelukan ibundanya.
"jangan menangis ya nak. bunda akan coba bicara pada ayahmu tentang hukuman tersebut. kamu tenangkan diri dulu ya sayang ". bujuk Dyah pada putrinya agar berhenti menangis.
beberapa saat kemudian.
Dyah telah berhasil membuat putrinya itu tenang. ia membawa Quini kembali ke kamar nya. setelahnya ia berusaha membujuk kembali suaminya agar membatalkan hukuman untuk Quini. entah berapa lama Pasangan suami istri itu bertekak dalam keheningan malam itu.
hingga akhirnya Faisal memberikan pilihan pada istrinya. pilihan yang membuat Dyah juga merasa dilema. pilihan akan hal terakhir yang akan di terima oleh putrinya
...****************...
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.
__ADS_1