
Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.
"Quini tidak lagi tinggal di sini," ucap Meylin saat putranya itu menanyakan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
"ke ...kenapa Amma?" tanya Kevin penasaran.
"Dia memutuskan untuk tinggal bersama neneknya yang berada di wilayah selatan," jawab Meylin.
Darah Kevin berdesir saat mendengar wilayah selatan dari kerajaan di mana neneknya Quini berkuasa. Ia ingat betul bagaimana neneknya Quini begitu otoriter dalam menjalankan aturan-aturan dalam keluarga, apa lagi menyangkut dengan aturan kerajaan.
"Apa kepergian Quini kesana karena di hukum oleh Ayahnya?" terka Kevin yang langsung berspekulasi dan mengaitkan dengan kejadian tempo lalu.
Meylin dan Fendy hanya bergeming.
"Apa karena berkaitan dengan menyusulnya Quini diam-diam ke terminal hanya untuk mengantar aku?" tanya Kevin penasaran.
"Amma, Appa," panggilnya kembali saat kedua orangtuanya tak satupun menjawab dari setiap pertanyaan yang di lontarkan nya barusan.
"Iya" sahut Fendy singkat yang sebenarnya terasa berat.
"Sejak kapan?" tanya Kevin yang semakin diliputi rasa penasaran akan kepergiannya Quini.
"Sejak semester lalu" jawab Meylin pelan tetapi cukup di dengar oleh Kevin.
"Se ... semester lalu?" tanya Kevin meyakinkan pendengarannya barusan.
"Iya, Nak" jawab Meylin singkat.
__ADS_1
Kevin langsung menundukkan pandangannya menatap lantai rumah sembari mengingat kejadian bagaimana Quini nekat menyusul dirinya ke terminal di malam hari dengan wak Banun.
"Berarti Quini memang sedang di hukum" ucapnya pelan dan bernada kekecewaan dan rasa sedih.
"Iya, Vin" sahut Fendy.
Kevin bergeming dengan menunduk sedih. Ia membayangkan masa liburannya yang akan dilalui tanpa Quini. Pastilah harinya akan terasa sunyi tanpa gadis kecil itu di sisinya kini.
"Bagaimana dengan Bundanya Quini, Amma?" tanya Kevin yang penasaran akan sikapnya Ratu saat putrinya itu di bawa jauh darinya.
Karena yang ia tau Bundanya Quinilah yang selalu menentang dan mencegah agar Quini jangan sampai di hukum dengan mengirim kan Quini serta tinggal di istana neneknya yang berada di daerah selatan.
"Terpaksa menyetujuinya karena maunya Quini juga untuk tinggal dengan neneknya" sahut Amma.
"Quini mau sendiri?" gumamnya pelan tetapi cukup di dengar oleh kedua orangtuanya seraya mengernyitkan dahinya serta menggeleng kepalanya.
Rasanya tak mungkin jika sahabat kecilnya itu memiliki kemauan untuk tinggal dengan neneknya yang otoriter itu. Karena Quini pernah memohon pada ayahnya agar jangan di hukum dengan cara tinggal dengan nenek nya yang bersikap dingin dan tegas dalam segala aturan yang berlaku di istana nenek nya itu.
"Appa mau memberitahukan sesuatu pada kamu, Vin" ujar Fendy tiba-tiba setelah ia menunggu suasana hening tanpa ada percakapan lagi tentang anak majikan mereka.
Kevin langsung menatap ke Appanya untuk mendengarkan apa yang ingin di sampaikan oleh Appanya itu.
"Kita akan pindah dari sini dalam waktu dekat ini" ucap Fendy.
"Pindah?" gumam Kevin pelan dengan tatapan yang tak percaya pada Appanya itu.
"iya, Kevin. Kita akan segera pindah dari sini dalam waktu dekat" timpal Meylin.
__ADS_1
"Kita akan meninggalkan pulau ini Kevin"
"Bagaimana bisa?" tanya Kevin penasaran.
Ia tau keuangan keluarganya jauh di bawah rata-rata dari keturunan Tionghoa lainnya jika mereka harus pindah dari propinsi ke propinsi lainnya akan memakan biaya yang sangat banyak, apa lagi luar pulau.
"Appamu sudah menemukan alamat keluarga nya yang berada di Jakarta. Appa sudah menghubungi mereka. Mereka mau dan akan menampung kita di sana selama kita belum punya usaha sendiri" tukas Meylin.
"Lalu aku?" tanya Kevin yang teringat jika dirinya masih bersekolah di propinsi sebelah.
"kamu bersekolah seperti biasa. Setelah tamat kamu akan kami jemput pulang ke Jakarta" sahut Fendy.
"Apa kita tidak akan kembali ke sini, Appa?" tanya Kevin yang masih enggan meninggal kan kota ini selamanya.
"Sesekali bolehlah kita berlibur ke sini, tapi tidak setiap tahunnya. Itu pun kita berlibur jika Appa sudah mampu menafkahi kita sekeluarga untuk jalan-jalan ke sini. Jika belum mampu, Appa minta maaf, Kevin" ucap Fendy dengan perasaan merasa bersalah karena belum bisa membahagiakan Keluarga nya terutama anak mereka satu-satunya.
"ga apa-apa Appa. Seperti ini juga aku sudah bersyukur. Yang penting Appa dan Amma selalu sehat. Itu saja" jawab Kevin sembari tersenyum.
"Kamu memang anak yang baik, nak" ucap Fendy yang turut membalas senyum manis dari putranya itu.
"Kapan kita berencana pindah Appa?" tanya Kevin yang hanya ingin tau jadwal kepindahan mereka dari istana.
"Setelah masa liburanmu habis. Appa dan Amma akan bersiap-siap" jawab Meylin yang juga belum bisa memastikan waktu kepindahan mereka.
Kevin hanya tersenyum simpul sembari memikirkan waktunya yang tak akan lama lagi berada di sini. Sementara hingga detik ini ia belum bertemu dengan Quini.
Ke chapter selanjutnya yok?
__ADS_1
****************
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.