
Hai guest reader. I am coming back. happy reading. moga happy.
Quini masih termangu menatap gelombang air laut yang masih mengamuk dan menghempaskan apa saja yang berada di lautan ke daratan yang bahkan ia tak tau lagi manakah dulunya daratan dan manakah yang dulunya lautan. semua tampak sama rata dengan sisa air dan lumpur yang tergenang di bawah kaki perbukitan yang di pijaki Quini dan supirnya serta beberapa orang yang berhasil naik ke atas perbukitan ini.
Quini merasa kalut dan ketakutan saat teringat pada keluarganya yang berada di ibu kota. lantunan istighfar di sertai tangisan dari orang-orang yang selamat bersamanya terdengar.
beberapa jam kemudian..
Saat gelombang surut. Quini di temani seorang supirnya menuruni perbukitan yang baru mereka sadari jika jalanan yang tadi mereka lewati kini tak ada lagi.
"kita jalan kaki saja pak" ucap Quini pada supirnya.
"jeut nyak Quini" sahut pria yang di panggil pak Kamal itu.
mereka mulai berjalan kaki dengan beberapa orang yang berhasil selamat naik ke bukit ini tadinya. suasana begitu mencekam saat melihat pemandangan di mana mulai terlihat Mayat mayat berserakan di mana mana.
Bahkan mulai terdengar Isak tangis yang begitu memilukan dari orang orang yang telah kehilangan keluarganya dan juga orang orang yang terluka.
"sepertinya perjalanan kita akan memakan waktu lama nyak Quini. apa nyak Quini sanggup?" tanya pak Kamal.
"insya Allah pak. ayo kita lanjutkan" jawabnya meskipun perutnya sudah mulai terasa lapar bahkan ia kehausan.
matahari mulai tenggelam di ufuk barat. hari mulai gelap yang semakin menambah suasana di sekitar mereka semakin mencekam dalam kegelapan malam. lapar haus bahkan kedinginan semakin menghinggapi mereka yang berjalan kaki menuju ibu kota.
sayup-sayup terdengar rintihan kesakitan dan juga Isak tangis dari orang orang yang terjebak entah di mana. sangat sulit melihat keadaan sekitar dalam kondisi seperti ini jika hanya di temani oleh beberapa korek api kecil yang di miliki para penyintas seperti mereka.
Mereka berhenti di saat tubuh melemah karena sedari pagi tenaga mereka habis terkuras karena berjalan kaki bahkan air sebotol yang di bawa Quini dari pemberian bekal neneknya tidak bisa menutupi rasa dahaganya Quini karena sebelumnya ia telah berbagi dengan supirnya.
Sedangkan sebotol air milik supirnya telah di berikan kepada orang orang yang terluka serta kehausan saat mereka jumpai dalam perjalanan.
__ADS_1
"kita istirahat di sana dulu nyak Quini", ucap sang supir pada majikannya seraya menunjuk kan pada sebuah mesjid yang masih utuh dan terlihat beberapa aktivitas warga yang bernaung di sana di karenakan rumah mereka sudah hancur.
Quini dan penyintas lainnya di beri ijin bermalam di mesjid yang sebenarnya masih dalam tahap pembangunan ini oleh warga setempat hingga besok mereka melanjutkan perjalanannya kembali menuju ibu kota.
dua hari kemudian..
Quini melintasi lagi kota yang hanya tersisa reruntuhan. semakin ia berjalan memasuki kota tersebut semakin ia merasa khawatir. semakin ia berjalan ke arah ibu kota semakin ia khawatir jika memikirkan bagaimana seluruh air laut bersatu meluluhkan lantakkan negri ini.
Hingga akhirnya Quini memasuki wilayah ibu kota di mana keluarga intinya tinggal. betapa kagetnya ia melihat suasana dan kondisi kota tempat tinggal keluarga intinya yang kini sama rata dengan tanah. tak ada bangunan yang tersisa sedikitpun. Darahnya berdesir hebat seiring jantung yang berdegup kencang kala ia berjalan memasuki kota yang tak terbentuk lagi.
yang tersisa hanyalah puing puing bekas bangunan serta mayat mayat yang kini berserakan di mana mana.
"ya Allah" pekiknya dengan tenggorokan yang tercekat.
"ya Allah ya Tuhanku ampunilah dosa setiap hamba MU yang hina ini" ucapnya di hati seraya melihat ke seluruh arah yang kini menjadi hamparan lembah yang penuh dengan sampah musibah.
Ia tak sanggup mengungkapkan apa yang ada di hatinya saat ini. rasa takut yang luar biasa semakin besar menghinggapi dirinya saat ini.
"bunda"
"ayah"
"Abang"
Quini berjalan dengan susah payah seraya menyingkirkan sampah bangunan yang menjadi penghalangnya.
"nyak Quini. tunggu" teriak pak Kamal saat saat melihat majikannya setengah berlari meninggalkan dirinya di belakang.
Quini dalam keadaan kalut terus berteriak memanggil ibu dan ayahnya serta Abang abangnya. netranya mulai mengkristal saat ia tak menemukan tanda tanda bangunan dari istana yang terakhir kalinya ia tinggalkan masih berdiri kokoh.
__ADS_1
"ayaaaaaaah....bundaaa......abaaaang". teriak nya seraya terus berjalan dan mencari keluarganya di antara reruntuhan bangunan di mana dulunya ia menghabiskan masa kecil nya di sini.
"ayah...bunda...Abang" ucapnya bernada lirih dengan air matanya yang terus mengalir di pipinya.
Sedangkan kedua tangannya masih terus menyingkirkan puing puing bangunan berharap ia menemukan salah satu korban yang ia kenal di bawah reruntuhan tersebut.
sementara pak Kamal yang ikut membantu majikannya itu berharap seluruh keluarga kerajaan selamat. meskipun ia pesimis akan hal itu lantaran berapa dahsyatnya musibah yang melanda negeri ini.
Dalam keadaan lapar dan dahaga mereka berdua terus mencari para anggota yang tinggal di lingkungan kerajaan. matahari mulai tenggelam kembali meninggalkan sedikit cahaya untuk mereka yang bersiap siap ke pos darurat untuk mendapatkan jatah makanan yang baru saja tiba menggunakan helikopter milik pemerintah pusat negara ini.
"nyak Quini. kita berhenti dulu. nyak Quini sudah sudah lelah sekali saya lihat. ayok kita ke pos bantuan sekarang sebelum kita susah berjalan ke arah sana" ajak pak Kamal
"ayok nyak Quini" ajak pak Kamal kembali saat melihat majikannya itu masih aktif dalam menyingkirkan puing puing reruntuhan bangunan istana tersebut meskipun wajah nya sudah mulai pucat lantaran gadis itu sudah dua hari melakukan perjalanan yang memakan waktu hingga dua hari menuju ke kota ini tanpa makan makanan yang bergizi.
Quini dan pak Kamal hanya memakan sepotong roti tawar yang di beri dari seorang warga yang berbaik hati saat mereka menginap di salah satu pos bantuan yang di bangun oleh tim SAR dengan apa kadarnya mengingat begitu banyaknya korban yang belum mendapatkan bantuan darurat.
"nyak Quini" teriak pak Kamal saat melihat gadis itu terduduk lemas di atas sebuah pilar yang menjadi penyangga istana milik keluarganya Quini.
"ayaaaaaaah....bundaaaa... abaaaang" gumam Quini sembari terus menangis meratapi nasibnya hari ini.
Quini tak menemukan siapapun yang tinggal di istana ini. bahkan para pengawal dan juga pekerja yang ia kenali wajahnya telah menjadi mayat hari ini.
Quini menangis tersedu-sedu memikirkan keluarga intinya. di tambah lagi keluarganya Kevin. benarkah ia di tinggal pergi sendiri di dunia fana ini?.
Quini terus berderai air mata dalam kebingungannya mencari keluarganya yang hilang. air matanya terus mengalir membasahi pipinya hingga akhirnya...
Ke chapter selanjutnya ya??
****************
__ADS_1
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.