
Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.
Dengan menggunakan mobilnya ia menuju ke sebuah warung yang berada di ujung lorong dari rumah kontrakannya Quinita. Sesampai nya di warung tersebut, Sarah memilih bahan makanan berupa bumbu dapur dan juga sayuran mentah yang telah di jajakan oleh pemilik warung di atas meja khusus dagangannya bersisian dengan meja yang menyediakan bahan makanan yang berasal dari laut.
Baru juga ia akan memilih sayur-sayuran segar yang baru saja di datangkan dari pasar pagi di salah satu pasar tradisional di Jkt tiba-tiba ia harus mendengar seseorang menyebutkan nama dari nama ibunya Quinita
"eh..eh..bu. Ibu tau ga? itu yang ngontrak di rumahnya Bu Sugeng siapa yah namanya?" tanya si ibu pertama.
"yang mana? Kan ada banyak rumah di komplek kontrakannya Bu Sugeng" sahut si ibu ke dua.
"Itu loh yang katanya sering bolak balik masuk rumah sakit" ujar si ibu pertama tadi.
"Ibu Dyah, memang kenapa Bu?"timpal si ibu ke tiga saat tau siapa yang di maksud oleh ibu pertama.
"Ada anak gadisnya kan?" tanya si ibu pertama kepo.
"Iya. Ada, cuma satu orang kalau ga salah. Memangnya kenapa sih Bu?" sahut ibu kedua yang ikut penasaran.
"Semalam saya kebetulan lewat sama anak saya di depan rumahnya. Saya lihat dua perempuan masuk ke rumah itu udah tengah malam. Mana satunya pakaiannya sexy banget lagi trus dandanannya juga. Iiihh kayak perempuan apaaa gitu ya?. Amit amit deh bu" ucap si ibu pertama.
"ooh si Quinita. Sering memang dia pulangnya malem malem. tapi dia itu kerja Bu. Kerja Serabutan, memang ga menentu kerjanya. Kadang saya lihat dia di pinggir jalan lagi nyapu di depan kantor kantor. Pernah juga lihat dia di mall lagi pake rok mini nawarin minuman atau produk produk gitu Bu. Itu mah biasa yang begitu Bu" jawab di ibu yang kedua apa adanya.
__ADS_1
"ehh..iya bener. Saya juga pernah lihat dia di kantor jasa pengiriman lagi dorong troli alat kebersihan gitu ke arah toilet. Saya ngikuti aja sekalian, wong saya juga kebelet pipis kok, dan ternyata bener itu si Quinita emang kerja nya lagi bersih bersihin toilet umum di kantor itu sih" timpal si ibu ke empat yang kebetulan baru datang dan menguping pembicaraan tiga ibu ibu tadi.
Sementara Sarah terus mendengar cerita tentang Quinita dari gosipan ibu ibu tersebut. Awalnya ia tak begitu menghiraukan karena apa yang mereka bicarakan tidak terlalu mengkhawatirkan hingga si ibu pertama tadi mengeluarkan statement yang mengatakan jika sahabatnya itu perempuan ga bener hanya gara gara keseringan pulang terlalu malam.
Apalagi di tambah dengan membawa-bawa ibunya Quinita yang sering bolak balik masuk rumah sakit. Akhirnya mereka mencurigai tentang keuangan Quinita yang sedari awal memang serba kekurangan, belum lagi Quinita yang sedang berkuliah di fakultas yang di kenal mahal dengan biaya semester dan segala macamnya.
"Nah coba ibu mikir dulu, dari mana biaya yang seabreg itu si Quinita dapat kalau ada apa-apanya di luar sana. Masa sih dalam waktu bersamaan dia itu bisa bayar kontrakan untuk enam bulan ke depan sama bayarin operasi tranplantasi jantung ibunya, belum lagi biaya kuliahnya dia" ucap si ibu pertama.
"Dasar Bigos" gerutu Sarah saat telinganya mulai panas karena si ibu mulai meracuni pikiran ibu ibu yang lainnya.
"iya juga sih. bener juga" ucap ibu ibu yang lainnya dengan saling bersahutan satu sama lain hingga rame.
"Wah ini ga bisa di biarin ini kalau dusun kita ada yang kerjaannya macem gitu. Bisa sial kita satu kampung nih Bu, bisa merembet ke anak cucu kalau salah satu warganya ada yang aneh-aneh," cibir ibu yang lainnya yang juga ikut ikutan mendengar gosipan tersebut.
"Iya juga ya" ucap yang lainnya saling bersahutan.
"Kita protes aja ke pak RT Bu, biar di tanyain langsung sama pak RT nya mengenai pekerjaan si Quinita itu apa yang jelas" saran ibu yang lainnya.
"Ahh ga usah dulu. Kita suruh orang aja buat ngikutin itu si Quinita ngapain aja di luar sana" protes si ibu pertama.
Sarah mengepal kuat tangannya lantaran kupingnya mulai panas, seiring darahnya yang mulai mendidih. Tanpa mau berlama - lama di tempat sialan ini. akhirnya sesegera mungkin ia membayar apa yang ia beli agar bisa segera bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
"Ga nunggu tukang ayamnya dulu neng. Tadi katanya mau beli ayam" tanya sang pemilik warung.
"ga jadi Bu. Ganti pake udang aja. Berapa Bu?" sahut Sarah yang mencoba memberikan senyum simpul nya meskipun hatinya bergejolak ingin menghardik si para tukang julid slebor dan menor.
"Ohh gitu. Ya udah ini neng jumlahnya semua" sahut si pemilik warung seraya menyerahkan hasil hitungannya pada Sarah.
Sarah pun membayar segera dengan uang uang satu lembaran merah. Lalu ia pergi begitu saja tanpa mengambil kembalian yang jumlahnya hanya untuk membeli sebungkus rokok termurah.
"Cih. Dasar emak emak nganggur yang ga punya kerjaan. Taunya cari kesalahan orang aja. Ga nyadar hidup mereka juga pada ga beres. Bukan mikirin keluarganya masing- masing aja bukan. Sok sibuk ngurusin hidup orang dasar nyinyir itu mah nenek-nenek sihir. isss...bikin kesel aja pagi pagi sih" omel Sarah seraya terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang kembali ke rumahnya Quinita.
Sesampainya di rumah Quini. Ia langsung menyerahkan hasil belanjaannya pada Dyah, ibunya Quini serta membantunya memasak apa yang di inginkan Quinita.
Selama ia membantu ibunya Quinita memasak itu sesekali ia melihat wajah yang mulai terlihat banyak keriput di sekitar dahi dan juga mata. Mungkin karena penyakitnya sehingga ibunya Quini sering merasa kelelahan serta terlalu banyak memikirkan kehidupan mereka yang jauh dari kata layak jika mereka adalah seorang keturunan bangsawan di daerah mereka dulunya.
"Semoga kita semua bisa mendapatkan hidup yang layak dan juga kehidupan yang bahagia. Doakan kami selalu ya Bun" ucapnya seraya menatap wajah yang sebenarnya masih sangat cantik itu jika di pakaikan pakaian yang layak sama seperti Quinita yang memang sebenarnya karibnya itu memiliki kecantikan layaknya putri raja.
Hanya saja karena keadaan mereka sekarang lah makanya Quinita, sahabatnya itu tak pernah terlihat menonjol di antara mahasiswi mahasiswi cantik lainnya
Ke chapter selanjutnya yok?
****************
__ADS_1
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.