Queenvin

Queenvin
Masa lalunya Qini


__ADS_3

Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.


"sialan lu" umpat Vino kesal.


Sedangkan Fadil hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.


"Selo mas bro. Sekarang kok udah sering bawaannya kesel aja sih semenjak putus dengan si Qini. jangan gitu lah Vin?" ujar Fadil menasehati karibnya itu.


"Emang ga kasihan apa sama si Qini. Minimal balas kek senyumnya meskipun tipis banget setipis kertas. Masa di cuekin. Ingat yang baik baiknya aja kenapa sih Vin. Gimana pun dulunya itu kita bertiga kan pernah dekat" ujar Fadil panjang lebar agar karibnya itu berhenti mendendam pada mantan.


Vino bergeming. Ia malas menanggapi komentarnya Fadil. Membicarakan Qini sama saja membuka peluang untuk mengingat kebodohannya yang terlalu naif mempercayai akan mantannya itu.


Saat itu ia berfikir jika Qini benar benar masih seorang yang suci. Nyatanya ia salah selama ini. Hampir saja ia terjebak dalam lingkaran kebohongan yang Qini ciptakan selama ini.


Jika bukan karena ada seorang dokter bedah yang menangani bagian Hymenoplasty yang keceplosan bicara saat mereka mabuk bersama di sebuah acara pesta lajang di negara Korea Selatan tahun lalu. Pastilah ia akan selamanya di bodohi oleh wanita itu.


Saat itu Dokter yang menangani Qini adalah seorang profesor di mana temannya itu mengambil masa magang di sebuah rumah sakit di Korea Selatan.


Awalnya Vino tak mengerti akan tatapan temannya itu pada Qini yang seolah olah pernah mengenali Qini hingga di saat mereka bertengkar hebat di karenakan pihak ketiga. Di situlah Vino mengetahui jika Qini telah melakukan Hymenoplasty jauh sebelum mereka menjalin hubungan percintaan, Itu berarti Qini telah melakukannya dengan seseorang sebelum dirinya mengajak Qini ke pelaminan.


Instingnya Vino mengatakan jika Qini telah melakukan hal tersebut bersama Devan yang pada saat itu mereka masih berpacaran di saat mereka bertiga; Vino, Qini dan Fadil mulai akrab lantaran sebelumnya mereka pernah bertemu di suatu olimpiade kelas eksakta di Jakarta dan berbagi ilmu hingga mereka di takdirkan bertemu lagi di kampus yang sama.


Vino dan Fadil yang tau jika Qini punya pacar bernama Devan yang seorang tentara, yang pada saat itu sedang bertugas di luar kota sehingga mereka berdua jarang berjumpa dan sering menghabiskan malam mingguannya bersama dirinya dan Fadil.


Saat itulah Vino baru menyadari jika jauh sebelum mereka bertunangan wanita itu telah melakukan kecurangan padanya. Tapi Vino bisa mengerti mengapa seorang Qinita melakukan operasi seperti itu. Mungkin ia takut jika tak ada satu pun pria yang mau menerima dirinya dengan tulus lantaran masa lalunya.


Akan tetapi suatu kebohongan tetaplah kebohongan. Serapi apapun di tutupi, pada akhirnya tercium juga. Mungkin ini juga jalan nya takdir yang di tunjukkan oleh sang pencipta padanya. bahwa Qini memang bukanlah jodohnya.


Tapi Vino bukanlah seseorang yang suka membuka aib orang yang pernah jadi karib nya. Ia akan membiarkan Qini dengan masa lalunya. Terserah pada siapa mantan tunangannya itu akan menjalani hidupnya dan menyerahkan keperawanan palsunya. yang jelas saat ini ia tak memiliki urusan lagi dengan wanita itu kecuali sebatas kerjasama. Tak lebih.


Vino berdecih seraya menggeleng pelan jika saja mereka sampai ke pelaminan.


"Vin"

__ADS_1


Suara Fadil menyentakkan Vino dari lamunan akan sang mantan.


"melamun aja sih?" celetuk Fadil seraya memarkirkan mobilnya.


"enggak" sahutnya singkat seraya keluar dari mobil.


"enggak apanya?.Aku ngomong ga di tanggapi. Ahh payah kamu Vin" omel Fadil.


"sama kayak kamu" sahutnya cuek.


"Apaan sih Vin??" Dumel Fadil sambil mengikuti langkah Vino ke dalam coffee shop.


Setelah beberapa menit terlewati dengan obrolan santai mereka di sore ini hingga akhirnya Fadil mengajaknya pulang di karenakan waktu telah memasuki Maghrib.


"aku antar sekalian". Tawar Fadil yang tau jika Vino tak membawa mobilnya sedari kantor nya.


"Apa kamu berencana untuk nikah Dil?. Makanya mau taubat" tanya Vino secara tiba-tiba.


"eemm kepinginnya sih begitu. Tapi seperti nya harus kudu usaha extra Vin?" jawab Fadil ragu saat teringat pada gadis yang tengah di dekatinya.


"tau aja sih kamu Vin" dumel Fadil.


"heh. Apa sih yang aku ga tau soal kamu Dil. Lupa ya? Kalau kamu tuh berkeluh kesahnya sama aku" jawab Vino mengingatkan soal Fadil yang dulu dan masih lugu.


"Tapi aku kan belum ceritain soal kenapa dan siapa yang buat aku pingin berubah Vin". Jawab Vino.


"udahlah. Kasih tau aja Siapa tu cewek. cantik ga?. Bisa di pacari ga?. Atau ada saudaranya yang lain ga?" tanya Vino penasaran.


"ehh kupret lu Vin. Ini cewek baik baik. Alim pokoknya cocoklah di jadiin pasangan hidup. Udah cantik trus wajahnya itu lho Vin. Sangat meneduhkan hati yang memandangnya" ucap Fadil seraya membayangkan wajah gadis incarannya.


"heh. Berdoa ajalah tu cewek ga di jodohin sama lelaki yang lebih alim darinya. Soalnya aku ga yakin sama tampang mesum kayak kamu bisa berjodoh sama tu cewek. Hehehe" cibir Vino bernada canda.


"Emang dasar. kamu ya Vin sedari dulu ga pernah doain temennya biar dapat jodoh yang bagus. Apa ga karma di kamu melalui Qini." omel Fadil kesal.

__ADS_1


"Hahaha. Ngambek. Abis gimana kamunya pacaran sana sini tetap aja ujung ujungnya putus dengan segala macem alasan" balas Vino yang mengingatkan bagaimana Fadil yang di kenal playboy lantaran dalam sebulan entah berapa kali memproklamirkan punya pacar baru saat itu.


"Itu kan dulu Vin. Ahh udahlah males bahas yang satu ini sama kamu" gerutu Fadil.


"udah jangan ngambek kamu. kayak anak kecil aja. Akunya yang mau Sampek nikahan malah udah heboh bertunangan trus kandas di tengah jalan sepertinya ga pake acara ngambek ma kawan tu" celetuk Vino.


Fadil mendengus kesal sembari melirik karibnya yang terkekeh senang karena telah sukses membuat moodnya buruk seketika.


"Ako doain deh supaya kamu lancar dalam pedekate sama gebetan barumu. Moga mpe nikah ya?" celetuk Vino kembali sembari melebarkan senyumnya.


"Makaseh" jawab Fadil kesal di karenakan doa dari karibnya itu tak setulus yang di harapkan.


Sementara Vino terkekeh geli mendapati karibnya itu sedang Mengomel kesal. Vino tersenyum jahil saat ia merasa telah berhasil membalikkan mood dirinya yang tadi bad mood lantaran bertemu sang mantan di tambah lagi karibnya ini sok memberi wejangan tanpa ia pernah merasakan yang namanya hubungan yang melibatkan perasaan dan juga keluarga.


"Belok kiri Dil" titah Vino tiba-tiba saat mereka akan melewati jalan yang biasanya mereka lalui jika butuh pelampiasan.


"ke sini lagi?" tanya Fadil keberatan yang akhirnya membelokkan juga stir mobilnya ke jalan tersebut.


"ya. Antar aja aku ke situ. Entar aku pulang sendiri". Jawab Vino seraya menelpon seseorang untuk memenuhi tugasnya malam ini.


"Nelpon siapa?. Partnermu?" tanya Fadil yang sebenarnya ia tau karibnya menelpon siapa.


"yah siapa lainlah. Masa ada barang yang aku bayar mahal ga di pake. hayya owe lugilah. Emang lu. Sok baik lepasin balang bagus kayak Sarah" ujar Vino yang mengeluarkan ciri khas logat Chinesenya.


"Aish..emang ente ya?. Perhitungan" omel Fadil.


"haha. Emang owe pikilin" cibir Vino seraya menjulurkan lidahnya.


"Dasar lu Vin. Karena temen aja. Coba lu orang lain udah ku peras jadiin minyak goreng" gerutu Fadil.


Ke chapter selanjutnya yok?


****************

__ADS_1


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.


__ADS_2