
Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.
Tiga hari kemudian...
Sarah menjemput Quini yang di pulangkan
Dari rumah sakit hari ini setelah di nyatakan pulih dari dokter yang menangani Quini.
Saat Sarah hendak membayar biaya rumah sakit ia terhenyak kaget jika seluruh biaya rumah sakit telah di gratiskan oleh pemilik rumah sakit ini.
"Hah, udah di gratiskan?" tanya Sarah tak percaya pada apa yang di dengarnya barusan.
Bagaimana tidak, saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sakit ini sebagai wali dari temannya yang akan di rawat di sini. Petugas administrasi tersebut meminta sidik jarinya sebagai jaminan untuk kelengkapan identitas, jika keluarga pasien tak mau bertanggung jawab terhadap masalah administrasi rumah sakit ini nanti nya.
Mungkin pihak rumah sakit akan menagihnya ke rumah atau ke kantor di mana wali pasien berada, atau pun pihak Rumah sakit akan mengajukan masalah administrasi tersebut ke ranah hukum.
Lalu sekarang, ia seperti mendapatkan berkah dari rezeki seperti anak shaleh karena ikhlas menolong karibnya itu selama ini.
"Iya, mbak. Sudah di gratiskan sama bapak khusus untuk mbaknya," jawab salah satu petugas administrasi.
"Eh, iya.makasih ya,. Tolong bilangin juga sama direktur rumah sakitnya kalau saya ucapin terima kasih banyak dan sedalam- dalamnya kepada pak Direkturnya, ya," ucap Sarah.
"Baik, mbak," sahut petugas tersebut.
__ADS_1
Sarah pun kembali ke ruangan dimana sahabatnya itu di rawat untuk membereskan semua barang-barang nya Quini, akhirnya mereka keluar dari rumah sakit tersebut. Terutama Sarah yang diam-diam mensyukuri atas kejadian hari ini.
Ketika malam tiba ...
Sarah masih betah berlama-lama di rumah nya Quini. Bahkan ia berencana menginap di rumahnya Quini untuk membantu Dyah yang terlihat kelelahan lantaran selama tiga hari ini, wanita paruh baya itu harus bolak-balik antara rumah dan rumah sakit untuk menjenguk putrinya yang di vonis terkena tipes itu.
Saat Sarah masuk kembali ke kamarnya Quini dengan membawa sebotol air minum, ia mendapati karibnya itu tengah menatap layar ponselnya dengan tatapan yang sama saat ia mendapatkan pesan dari partner sexnya empat hari yang lalu.
"Quin," panggil Sarah.
Quini hanya menarik dalam nafasnya saat ia berhenti menatap layar ponselnya ketika Sarah memanggilnya.
"Kamu kenapa?" tanya Sarah khawatir.
"Si Dosen Cabul?" terka Sarah.
"Iya," jawabnya singkat.
"Ya Ampun, itu orang. Maniak banget sih. Baru juga empat hari yang lalu. Udah on aja tu barang ga kira-kira," gerutu Sarah.
"Bukannya wajar?" tanya Quini yang mengetahui alat reproduksi pria dan kinerjanya melalui pembelajarannya selama ini.
"heh. Iya sih. Cuman, kamunya gimana?. Sanggup ga?" tanya Sarah yang mencemaskan kondisi kesehatan Karibnya itu.
__ADS_1
"Entahlah. tapi aku akan mencobanya," jawab Quini yang sebenarnya ia tak yakin apakah ia mampu atau tidak dalam melayani nafsu pria yang katanya Sarah telah menolong dirinya saat ia pingsan di kampus tempo hari.
"Kamu yakin?" tanya Sarah memastikan.
"ya. Setidaknya anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah menolongku, walaupun ia ga tau kalau yang di tolongnya adalah partner sexnya," jawab Quini seraya tersenyum kecil.
"Bunda udah tidur?" tanya Quini pada Sarah yang setau dirinya jika Karibnya itu baru dari kamar bundanya.
"Kalau udah tidur, kamu apa berencana pergi juga?" tanya Sarah cemas.
"Terpaksa. Dari pada nanti aku harus menerima hukuman dengan melayaninya lebih gila lagi. Lebih baik aku patuhi saja apa yang ia perintahkan. Toh masa kontrak aku juga ga akan lama lagi kan. Setelah ini aku akan memilih break. Jadi kita berdua bisa menyusun rencana untuk masa depan kita," ucap Quini yakin akan rencananya.
"Baiklah, kalau memang itu yang akan kamu rencanakan setelah ini. Aku sepenuhnya pasti mendukung kamu," ucap Sarah senang.
"Makasih ya, Sar. Kamu memang teman aku yang paling baik," ucap Quini tulus.
"Ihh..apaan sih kamu. Biasa ajalah. Kita berduakan saling simbiosis mutualisme," ucap Sarah bermaksud canda untuk merenggangkan syaraf-syarafnya mereka yang kaku akibat pesan dari si dosen cabul.
Quini tertawa kecil mendengar candaan sahabatnya itu. Meskipun malam ini hatinya tak karuan saat teringat harus memenuhi tugasnya kembali sebagai pelacur dari seorang pria yang membayarnya mahal berdasarkan atas rasa sakit yang ia terima setelah bercinta.
Ke chapter selanjutnya yok?
****************
__ADS_1
Readers...mohon dukungannya ya unt novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.